Himbara Target Gelontorkan Kredit Rp1.000 Triliun Tahun Ini

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) sekaligus Ketua Umum Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara, Sunarso menyatakan perbankan memiliki dana besar untuk menyalurkan kredit pada tahun ini.

Dia mengatakan, dari sisi besaran dana masyarakat yang ada di perbankan saat ini mencapai Rp6.665 triliun, sedangkan dana yang bisa digelontorkan untuk kredit mencapai Rp5.548 triliun.

Sementara itu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) hingga saat ini masih jauh dari batas aman 92 persen, yakni hanya 83 persen. Meskipun masih lebih tinggi dari target terendah 78 persen.

Untuk itu, dia menekankan, agar LDR masuk ada zona yang optimal, yakni di level 90 persen pada tahun ini, maka perbankan ditegaskannya harus bisa menyalurkan kredit pada tahun ini sebesar Rp1.000 triliun.

"Menuju LDR 90 persen itu artinya perbankan harus menyalurkan kredit tahun ini Rp1.000 triliun untuk menggerakkan menumbuhkan kredit dan itu akan mendorong ekonomi tumbuh," kata dia dalam diskusi virtual, Kamis, 4 Maret 2021.

Namun yang menjadi permasalahan, Sunarso mengungkapkan, permintaan terhadap kredit masih rendah. Kondisi ini terjadi di tengah kebijakan stimulus pemerintah dan rendahnya suku bunga acuan.

Bank Indonesia, sebagaimana diketahui terus menurunkan suku bunga acuan BI-7 day reverse repo rate di level 3,5 persen dan cost of fund perbankan juga terus menurun ke level 3,2-1,4 persen.

"Makanya kemarin minggu lalu saya sudah umumkan penurunan suku bunga mencapai 325 basis poin per 28 Februari dan kemudian pertanyaan apakah benar dengan diturunkannya suku bunga bisa mendorong pertumbuhan kredit," tutur Sunarso.

Sunarso menduga, masih rendahnya permintaan kredit di tengah rendahnya suku bunga menjadi pertanda bahwa penurunan suku bunga kredit tidak selalu beriringan dengan tumbuh cepatnya permintaan kredit.

Dia menyodorkan data, pada 2015 ketika Kredit Usaha Rakyat bunganya mencapai 22 persen, pertumbuhan kredit bisa mencapai 20-22 persen. Namun ketika diturunkan ke level 15 persen malah turun ke satu digit.

"Bahkan di subsidi sehingga yang dibayar rakyat hanya 7 persen tapi datanya saat suku bunga rendah yang dibayar rakyat pertumbuhanya enggak capai double digit hanya sekali pada 2018," papar dia.

Untuk itu, dia menyimpulkan bahwa rendahnya suku bunga kredit tidak serta merta mendorong pertumbuhan kredit atau suku bunga bukanlah satu-satunya faktor yang bisa mendongkrak pertumbuhan kredit.

Maka, berdasarkan analisis BRI, Sunarso mengatakan yang paling elastis terhadap peningkatan kredit adalah konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. Karenanya, kebijakan yang harus didorong di sektor ini.

"Untuk dorong daya beli dan konsumsi yang perlu didorong bagaimana beri pekerjaan ke masyarakat. Kalau tidak bisa beri pekerjaan ya syukur kalau bisa beri uang langsung tapi itu tidak mendidik maka yang paling baik beri pekerjaan," ungkap Sunarso.