Hindari Kebotakan, kenali 7 Penyebab Rambut Mudah Rontok

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kehilangan berhelai-helai rambut setiap hari adalah hal yang normal. Hal tersebut seharusnya tidak akan menimbulkan masalah atau membuat kepala menjadi cepat botak.

Namun, jika rambut rontok lebih dari 100 helai per hari, apalagi disertai dengan pertumbuhan rambut yang terganggu atau terhenti, hal tersebut sudah dianggap tidak normal.

Mengutip Medical News Today, Selasa (14/9/2021), berikut ini adalah beberapa alasan rambut dapat rontok secara berlebihan.

1. Alopecia Androgenetik

Alopecia Androgenetik merupakan istilah lain untuk pola kebotakan pada pria atau wanita. Masalah genetika ini adalah penyebab rambut rontok yang sangat umum dan lebih mungkin terjadi seiring dengan bertambahnya usia.

Pria cenderung kehilangan rambut dari pelipis dan mahkota kepala. Sedangkan pada wanita, rambut biasanya menjadi lebih tipis di seluruh kepala. Namun, untuk beberapa kasus, banyak wanita yang menderita masalah genetika ini setelah mereka menopause.

2. Alopecia Areata

Alopecia areata adalah kondisi autoimun yang menyebabkan rambut rontok secara tiba-tiba. Sistem kekebalan menyerang folikel rambut, bersama dengan bagian tubuh yang sehat lainnya.

Selain rambut dari kulit kepala, alis, dan bulu mata juga akan mengalami kerontokkan.

Jika seseorang memiliki kondisi ini, mereka harus menemui dokter dan mendapatkan resep obat untuk membantu rambut tumbuh kembali.

3. Traction Alopecia

Berbeda dengan masalah alopecia lainnya, traction alopecia merupakan kerontokan rambut yang disebabkan oleh gaya rambut yang ketat, yang menyebabkan rambut menjadi patah dan rontok. Jika traction alopecia berlanjut, seseorang dapat mengembangkan bintik-bintik botak dan penipisan rambut.

Gaya rambut yang terkait dengan kondisi ini meliputi:

  • Messy buns

  • Kuncir kuda

  • Kepang

  • Cornrow

  • Ekstension

Cobalah untuk menghindari gaya rambut yang ketat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

4. Perubahan Hormon Pasca Melahirkan

Beberapa wanita mungkin mengalami kerontokan rambut yang berlebihan setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar estrogen. Namun, kondisi ini sementara dan biasanya sembuh dalam waktu setahun atau lebih cepat.

Untuk membantu rambut kembali ke kondisi normal, cobalah:

  • gunakan sampo dan kondisioner penambah volume.

  • gunakan produk yang dirancang untuk rambut halus.

  • Jangan gunakan kondisioner di kulit kepala.

5. Obat dan Suplemen

Rambut rontok bisa menjadi efek samping dari obat-obatan dan suplemen tertentu. Obat-obatan tersebut meliputi:

  • Obat pengencer darah, seperti warfarin

  • Accutane, untuk mengobati jerawat

  • Antidepresan, termasuk Prozac dan Zoloft

  • Penghambat Beta

  • Obat penurun kolesterol, seperti Lopid

Jika ini terjadi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter yang bersangkutan. Mereka mungkin dapat mengurangi dosis atau mengalihkan Anda ke obat lain untuk mengurangi masalah kerontokan tersebut.

6. Psoriasis Kulit Kepala

Psoriasis merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan munculnya bercak merah bersisik yang menebal. Psoriasis pun dapat menyerang kulit kepala dan menyebabkan rasa gatal yang tak tertahankan dan ingin digaruk.

Psoriasis kulit kepala sebetulnya tidak menyebabkan rambut rontok. Meski demikian, kerontokan rambut dapat terjadi akibat dari kebiasaan menggaruk kulit kepala yang terus menerus saat gatal.

7. Kekurangan Gizi

Kerontokan rambut biasanya dipengaruhi karena kekurangan protein, vitamin B12, asam folat, dan zat besi. Sebanyak 97 persen struktur rambut adalah protein, maka kekurangan asupan protein akan membuat proses regenerasi rambut menjadi terhambat.

Hal ini kerap terjadi pada orang yang menjalani diet secara ekstrem.

Untuk mencegah hal ini, seseorang harus menemui dokter untuk tes darah untuk memeriksa apakah mereka memiliki kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan rambut mereka rontok.

Reporter: Lianna Leticia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel