Hindari Penyebaran Virus Corona, Ini Solusi NTT untuk Bantu Perusahaan Tetap Produktif

Liputan6.com, Jakarta - Penyebaran virus corona tidak dimungkiri telah sedikit mengubah cara kerja sejumlah perusahaan di beberapa negara. Salah satunya adalah kebijakan untuk mengurangi perjalanan yang dirasa tidak terlalu diperlukan.

Hal ini kian dikuatkan dengan pernyataan badan kesehatan dunia WHO yang menyebut virus corona masuk dalam darurat kesehatan global. Karenanya, perusahaan pun berusaha menyesuaikan diri untuk memastikan produktivitasnya tidak terganggu.

Melihat kondisi tersebut, NTT menawarkan sebuah solusi untuk membantu perusahaan tetap produktif, meski tidak melakukan kerja dari kantor atau berkomunikasi langsung dengan rekan kerja.

"Kami memiliki konsep kerja itu bukan tempat. Jadi, bisa bekerja dimanapun, yang penting adalah hasilnya bagaimana. Kami mendukung konsep itu dengan solusi kolaborasi online dan juga real time," tutur CEO NTT Hendra Lesmana saat bertemu Tekno Liputan6.com di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Dengan solusi yang ditawarkan NTT, perusahaan dapat menciptakan platform bekerja yang tidak memerlukan karyawannya berada di satu tempat untuk berkolaborasi. Jadi, NTT akan menyiapkan integrasi sejumlah produk untuk menciptakan platform kolaborasi ini bagi perusahaan.

"NTT itu merangkai beragam solusi dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing klien yang berbeda. Jadi, kami mengkombinasikan beragam partner kita, salah satunya adalah G Suite dan Cisco Webex," tutur Hendra lebih lanjut.

 

Semakin Tren di Masa Mendatang

Lebih lanjut, Hendra mengatakan tren pekerjaan dengan metode semacam ini akan semakin besar di masa depan. Terlebih, dia mengatakan ke depannya, pekerjaan yang ada saat ini akan memiliki kembaran digital atau disebut sebagai digital twin.

Hal itu didasarkan dengan beragam kegiatan yang saat ini sudah mulai beralih ke digital. Selain itu, interaksi atau hubungan antar manusia pun sudah dilakukan secara digital.

"Jadi, kami memberikan platform untuk berkomunikasi di dunia digital, tanpa terbatas dengan apa yang dilakukan saat ini. Jadi, kalau memang, misalnya ada larangan bepergian, komunikasi dan pekerjaan tetap dapat dilakukan dengan cara lain dan real-time," tuturnya.

Dengan kata lain, menurut Hendra, hal-hal yang biasa dilakukan secara bertatap muka atau pertemuan fisik itu bisa dilakukan di dunia digital. Dia mengatakan ada kemungkinan yang lebih banyak dapat dilakukan dengan memanfaatkan platform digital semacam ini.

Salah satunya, Hendra mengatakan, adalah dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atu AI. Berbekal teknologi semacam ini, pekerja dapat menjadikannya sebagai rekan kerja untuk membantu menyelesaikan tugasnya, seperti mencari data yang dibutuhkan.

 

Keamanan Faktor Utama

Meskipun platform digital memudahkan pekerja, Hendra mengingatkan unsur keamanan tidak kalah penting. Dia mengatakan perusahaan tidak boleh terlena digital twin itu akan otomatis aman.

"Oleh sebab itu, NTT secara holistik itu menawarkan secure by design. Jadi, dari awal Anda mau mengembangkan sistem digital, harus diatur sedemikian rupa lebih dulu agar aman," tuturnya menjelaskan.

Dia mencontohkan, perusahaan jangan sampai seperti seseorang yang membeli apartemen tapi tidak dilengkapi dengan sistem keamanan yang lengkap, seperti satpam yang tidak ada, akses lift ke semua lantai, hingga absennya CCTV.

"Jadi, harus didesain sejak awal, mulai dari vulnerability check in, review keamanan, pembaruan patching," ujar pria yang sebelumnya memimpin Dimension Data Indonesia ini sebelum melebur menjadi NTT.

Selain itu, NTT juga didukung dengan entitas lain yang bernama NTT Security. Sesuai namanya, bagian dari NTT Group ini terdiri dari ribuan peneliti keamanan yang tersebar di berbagai negara untuk memprediksi tren keamanan ke depannya, termasuk ancaman siber.

Adaptasi Platform Kolaborasi Digital di Indonesia

Menyoal kondisi di Indonesia, Hendra mengatakan sejumlah perusahaan memang sudah mulai melakukan transformasi. Namun yang melakukan perubahan tersebut memang belum banyak dan masih dilakukan secara bertahap.

"Platform kolaborasi digital ini mungkin lebih banyak duluan di kalangan freelance atau startup. Jadi, transformasi digital di Indonesia ini masih di-drive oleh ritel dan konsumen daripada bisnis. Jadi, pelaku bisnis masih catchup, walaupun sudah banyak yang ke arah sana, tapi memang belum menyeluruh," tutur Hendra.

Padahal, menurut Hendra, konektivitas di Indonesia sudah cukup baik mendukung sistem kolaborasi digital seperti ini. Terlebih, di daerah Jakarta dan sekitarnya, termasuk wilayah Indonesia bagian barat.

"Memang tidak bisa dibandingkan dengan negara maju, tapi sudah mending. Apalagi dengan operator yang investasi gila-gilaan, sekarang sudah oke," ujarnya melanjutkan. Karenanya, kolaborasi digital seperti ini masih mungkin dilakukan dan dapat disesuaikan dengan kualitas koneksi di tiap-tiap wilayah.

(Dam/Ysl)