Hipospadia adalah Kelainan Lubang Kencing Laki-Laki, Pahami Penyebab dan Pengobatannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Hipospadia adalah kelainan pada alat kelamin laki-laki, lubang kencingnya berada di bagian bawah bukan di tengah. Kelainan ini cukup jarang terjadi dan pada beberapa kasus sulit dikenali. Penderita hipospadia biasanya akan mengalami penurunan kualitas hidup.

Hipospadia adalah kelainan yang terjadi di dalam kandungan dan umumnya hanya bisa dikenali ketika bayi laki-laki dilahirkan. Penyebab hipospadia adalah belum diketahui secara pasti, para pakar menduga faktor keturunan berperan cukup besar.

Selain itu, ada beberapa faktor risiko hipospadia yang perlu diwapadai juga. Hamil saat usia di atas 40 tahun, terpapar asap rokok dan pestisida saat hamil, bayi laki-laki yang berisiko lahir prematur, mengalami obesitas dan menderita diabetes saat mengandung.

Ketika mengalami hipospadia, pemeriksaan harus segera dilakukan untuk menghindari komplikasi. Penanganan yang bisa dilakukan biasanya operasi memperbaiki bentuk dan posisi lubang uretra. Waktu terbaik untuk melakukan operasi hipospadia adalah ketika anak berusia 3-18 bulan.

Berikut Liputan6.com ulas tentang hipospadia dari berbagai sumber, Senin (22/3/2021).

Mengenal Penyakit Hipospadia

Ilustrasi anak laki-laki dan ibunya. (Foto: Unsplash)
Ilustrasi anak laki-laki dan ibunya. (Foto: Unsplash)

Hipospadia adalah kelainan organ reproduksi pada laki-laki. Kelainan ini terjadi sejak bayi laki-laki ada dalam kandungan dan hanya bisa didiagnosis ketika bayi tersebut dilahirkan.

Penyakit hipospadia adalah kelainan lubang kecing laki-laki, saluran kencingnya tertetak di bawah kepala penis. Beberapa ada yang di bawah batang penis dan berada di area skrotum (buah zakar). Pada kondisi normal, seharusnya lubang uretra berada tepat di ujung penis.

Hal ini yang membuat penderita hipospadia adalah disangka perempuan, karena bentuk penisnya berbeda dari biasanya. Ketika hal ini terjadi, ada penumpukan kulit yang berlebihan di bagian atas penis.

Secara fisik, penderita hipospadia adalah berbentuk laki-laki, tetapi lubang kencingnya membuat penderita hipospadia disangka perempuan. Bila penderita tidak segera mendapat pemeriksaan dan penanganan, penderita akan kesulitan buang air kecil dan berhubungan seksual saat sudah dewasa.

Penyebab Hipospadia

Ilustrasi ibu hamil | pexels.com/@freestocks
Ilustrasi ibu hamil | pexels.com/@freestocks

Para pakar menduga, penyebab hipospadia adalah dipengaruhi oleh faktor keturunan, meski sebenarnya belum diketahui secara pasti. Jika seseorang memiliki keluarga yang pernah mengalami hipospadia, maka risiko anak laki-laki mengalami lebih besar.

Hipospadia adalah kelainan yang bisa terjadi karena perkembangan saluran lubang kencing (uretra) dan kulup penis dalam kandungan terganggu. Kemungkinan menderita hipospadia menjadi lebih tinggi ketika anak laki-laki terlahir prematur juga bisa terjadi.

Selain itu, mengalami kehamilan ketika usia sudah lebih dari 40 tahun dapat meningkatkan risiko hipospadia pada anak yang dikandung. Kelainan hipospadia pun dapat terjadi ketika seorang ibu hamil kerap mendapat paparan asap rokok atau pestisida. Begitu juga ibu hamil yang menderita obesitas dan diabetes sangat perlu mewaspadainya.

Bila sudah mengetahui penyebabnya, mulai hindari. Menghindari faktor penyebab hipospadia adalah langkah awal meminimalisir risikonya. Mengingat hipospadia adalah salah satu kelainan pada alat kelamin laki-laki yang tidak bisa dicegah karena penyebab tunggal dan pasti belum diketahui.

Gejala dan Diagnosis Hipospadia

Anak laki-laki dan ibunya. (Foto: Unsplash)
Anak laki-laki dan ibunya. (Foto: Unsplash)

Gejala Hipospadia

Penderita hipospadia kebanyakan tidak menyadari dirinya tengah menderita hipospadia. Apalagi kelainan ini terjadi sejak bayi dilahirkan. Bila dokter tidak memberikan diagnosis pasti mengenai kelainan yang dialami sang bayi laki-laki, kemungkinan orang tua tidak paham lebih tinggi.

Berikut gejala hipospadia:

1. Terlihatnya saluran kencing di bawah penis.

2. Bentuk penis yang melengkung ke bawah.

3. Kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis.

4. Ketika berkemih, urine akan menetes dan tidak memancar.

Jika kamu menemukan kelainan letak dan bentuk penis pada anak, segeralah membawanya ke dokter untuk diperiksa. Apalagi, hipospadia yang tidak ditangani bisa menyebabkan komplikasi yang menurunkan kualitas hidup penderitanya. Semakin dini penanganan, semakin baik pula hasil yang bisa dicapai.

Diagnosis Hipospadia

Diagnosis hipospadia adalah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik. Pada kasus hipospadia yang berat (ketika saluran kencing berada di dekat perut), dokter perlu memeriksa testis anak.

Jika tidak didapatkan testis, perlu dilakukan pemeriksaan kromosom untuk menentukan jenis kelamin yang sebenarnya. Selain itu, akan dilakukan pemeriksaan ginjal dengan USG dan rontgen, mengingat hipospadia adalah sering disertai dengan kelainan ginjal.

Komplikasi dan Pengobatan Hipospadia

Ilustrasi operasi | pexels.com/@shvetsa
Ilustrasi operasi | pexels.com/@shvetsa

Komplikasi Hipospadia

Jika tidak diterapi dengan baik, hipospadia mungkin dapat mengakibatkan hal-hal berikut:

1. Bentuk penis yang abnormal

2. Kesulitan dalam pelatihan penggunaan toilet

3. Penis bengkok saat ereksi

4. Gangguan ejakulasi

Pengobatan Hipospadia

Tindakan operasi biasanya dilakukan untuk memperbaiki bentuk penis, agar pasien dapat buang air kecil dengan normal dan memiliki fungsi seksual yang normal. Saluran kencing akan dipindahkan ke ujung penis. Kulup penis sangat penting sebagai bahan penutup dalam operasi ini, karena itu pasien dianjurkan untuk tidak disunat dulu sebelum operasi.

Penyunatan dapat dilakukan bersamaan dengan operasi hipospadia. Operasi ini umumnya berlangsung selama 1-3 jam dan dilakukan dengan bius umum. Waktu terbaik untuk melakukan operasi hipospadia adalah ketika anak berusia 3-18 bulan.