HNW: Perlu realisasi semangat "ukhuwah" dalam pengelolaan masjid

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan pengelolaan masjid memerlukan implementasi semangat ukhuwah atau persaudaraan untuk menghadirkan manajemen masjid yang memuat nilai-nilai hijrah, seperti memperkuat persaudaraan umat dan menghadirkan Islam rahmatan lil alamin.

"Semangat ukhuwah dan Islam yang rahmatan lil alamin adalah hasil dari hijrahnya Nabi Muhammad Saw. Maka, apabila kita menginginkan manajemen masjid yang mengimplementasikan nilai-nilai hijrah, perlu realisasi dari semangat ukhuwah dan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin," kata Hidayat dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Hidayat mengatakan hal tersebut saat menghadiri tabligh akbar "Implementasi Nilai-Nilai Hijrah dalam Manajemen Masjid: Sebuah Refleksi 108 Tahun Masjid Raya Al Muttaqun", di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Minggu (28/8).

Menurutnya, hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah memberi nuansa progresif dalam kehidupan keagamaan Islam. Salah satunya dalam konteks hijrah, katanya, masjid menjadi tempat kegiatan untuk mendorong persaudaraan dan memakmurkan umat.

Baca juga: HNW harap dana abadi pesantren segera terwujud

Begitu pula dengan pendirian Masjid Raya Al Muttaqun. Dia mengatakan masjid tersebut didirikan untuk menguatkan persaudaraan umat, terutama karena letaknya di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta atau antara Kecamatan Prambanan di Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan di Kabupaten Sleman.

"Sejak awal, komitmen Masjid Al Muttaqun adalah masjid raya untuk meng-ukhuwah-kan umat. Masjid Raya Al Muttaqun meng-ukhuwah-kan umat, baik di Prambanan Klaten maupun Prambanan Sleman, bahkan antara umat Islam di Indonesia dengan dunia internasional," jelasnya.

Semangat hijrah itu, lanjutnya, patut diadopsi dengan maksimal untuk menghasilkan program dan kegiatan masjid yang mendorong persaudaraan serta menyukseskan perwujudan hijrah.

Wujud hijrah itu itu menurut dia ialah pengajian, program-program unggulan masjid, maupun para jamaah dari berbagai latar belakang, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan lainnya.

"Meskipun jamaah memiliki latar belakang berbeda, semuanya bisa masuk dalam kategori muttaqin sehingga layak untuk memakmurkan masjid," ujarnya.

Baca juga: HNW: MPR jadi garda terdepan jaga konstitusi