Hoaks Seputar Cacar Monyet Diciptakan di Lab dan Klaim Lainnya Terbantahkan

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejak cacar monyet mulai muncul di Eropa dan sejumlah negara lainnya, mulai bertebaran misinformasi bahkan hoaks seputar penyakit tersebut. Misinformasi juga hoaks ini tampaknya didaur ulang dari pandemi Covid-19.

Cacar monyet merupakan penyakit endemik di Afrika barat dan tengah. Namun belakangan ini terdeteksi di luar negara endemik tersebut.

Berikut beberapa hoaks dan bantahan terkait cacar monyet, dikutip dari BBC, Senin (30/5).

Penyakit ciptaan laboratorium

Sama seperti Covid-19, cacar monyet juga disebut penyakit yang diciptakan di sebuah laboratorium.

Akun-akun media sosial dan media di Ukraina, Rusia, Amerika Serikat (AS), dan China menyebarkan informasi bahwa wabah ini adalah akibat kebocoran laboratorium atau cacar monyet digunakan untuk senjata biologis.

Sangat mungkin untuk mengidentifikasi virus dengan pengurutan DNA. Ahli genetika,
Fatima Tokhmafshan menyamakan ini dengan memindai barcode pada sebuah paket dengan "memetakan berbagai jalur yang telah ditempuh".

Urutan genetik virus yang ada saat ini terlacak kembali ke jenis cacar monyet yang biasanya beredar di Afrika Barat.

"Itu memberitahu kita bahwa ini bukan sesuatu yang diproduksi," ujarnya.

Terkait anggapan bahwa virus cacar monyet bocor dari laboratorium, Profesor Horby menjawab: "Sama sekali tidak ada dasar atas klaim itu."

Pembatasan ketat seperti pandemi Covid

Ada informasi yang muncul bahwa sejumlah pembatasan akan diberlakukan setelah munculnya cacar monyet, pembatasan ketat seperti saat awal munculnya Covid-19, termasuk lockdown. Salah satu akun di media sosial meminta pengikutnya siap-siap untuk "lockdown cacar monyet".

Namun para ilmuwan mengatakan virus cacar monyet tidak seperti Covid. Saat ini juga sudah tersedia vaksin dan pengobatan untuk penyakit cacar. Para pakar juga mengatakan orang akan menularkan penyakit ini juga muncul gejala sehingga lebih mudah terdeteksi dan dilakukan isolasi.

Direktur Pusat Ilmu Pandemi Universitas Oxford, Profesor Peter Horby mengatakan, cacar monyet tidak ditangani dengan pembatasan seperti lockdown atau vaksinasi massal. Namun, isolasi dan vaksinasi ditargetkan untuk orang yang terinfeksi atau kontak dekatnya.

Dr Rosamund Lewis dari Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membenarkan tidak perlu vaksinasi massal. WHO juga merekomendasikan tidak perlu ada pembatasan perjalanan.

Wabah yang direncanakan

direncanakan rev1
direncanakan rev1.png

Banyak yang mengklaim wabah cacar monyet ini direncanakan dengan sengaja, menuduh Bill Gates atau Anthony Fauci berada di balik wabah ini.

Hoaks ini banyak beredar di Rusia, media sosial China Weibo, dan di Instagram, juga di Facebook dalam bahasa Rumania, Jerman, Inggris, Arab, Prancis, Hungaria, Slovenia, dan Punjabi.

Klaim ini menunjuk ke sebuah dokumen Inisiatif Ancaman Nuklir (NTI), organisasi biosekuritas yang berbasis di AS.

Pada 2021, NTI melakukan lokakarya untuk mendorong para pemimpin dunia mempersiapkan rencana untuk menghadapi kemungkinan pandemi di masa depan. Para peserta diminta melakukan penanganan melalui skenario fiktif atau karangan yang menyatakan "pandemi global mematikan melibatkan jenis virus cacar monyet tidak biasa yang menyebar secara global".

NTI mengatakan, risiko cacar monyet telah didokumentasikan dengan baik selama bertahun-tahun dan kasusnya mengalami peningkatan, itulah yang mendasari dipilihnya cacar monyet ini sebagai materi dalam lokakarya tersebut.

Ada kaitannya dengan vaksin Covid

dengan vaksin covid rev1
dengan vaksin covid rev1.jpg

Pertama, klaim ini mengacu pada fakta bahwa vaksin Covid AstraZeneca menggunakan virus yang ditemukan pada simpanse, dimodifikasi sehingga tidak dapat bereplikasi dan menyebar. Kemudian dikaitkan adanya hubungan antara vaksin yang menggunakan virus simpanse itu dan wabah cacar monyet.

Namun, cacar monyet disebabkan jenis virus yang sama sekali berbeda dengan yang ditemukan dalam vaksin AstraZeneca - dan diperkirakan sebagian besar ditemukan pada hewan pengerat, bukan monyet.

Jenis klaim kedua yang menyebar di dunia maya ialah vaksin Covid disebut menekan sistem kekebalan Anda, membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi lain. Klaim ini tidak punya dasar.

Vaksin menstimulasi, bukan menguras sistem kekebalan sehingga lebih efektif menargetkan infeksi tertentu.

Meskipun ada sejumlah kecil kasus orang yang mengalami reaksi autoimun terhadap vaksin, di mana tubuh Anda mulai menyerang dirinya sendiri (penyebab pembekuan darah yang jarang terjadi setelah suntikan vaksin AstraZeneca), tidak ada bukti vaksin menekan sistem kekebalan atau mengubah kemampuan Anda untuk melawan penyakit lainnya. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel