Hoax BPA Galon Guna Ulang Dinilai Meresahkan Masyarakat

·Bacaan 3 menit

VIVA – Nahdlatul Ulama (NU) dan komunitasnya merasa dirugikan oleh isu tidak benar atau hoax tentang bahaya Bisfenol A (BPA) dalam galon guna ulang.

Salah satu alasannya, karena isu hoax itu telah memunculkan keresahan di masyarakat, khususnya NU yang telah lama menggunakan air minum galon guna ulang.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Imam Pituduh di acara webinar 'Kebijakan Pemerintah & Jaminan Perlindungan Keamanan Kemasan Galon Guna Ulang.'

Dia mengutarakan, masyarakat NU di daerah banyak yang mengonsumsi produk air minum dalam kemasan dari galon guna ulang.

"Jadi, isu hoax itu membuat mau tidak mau sudah sangat meresahkan dan membuat mereka khawatir, karena mereka sudah mengonsumsi produk tersebut selama puluhan tahun," ujarnya saat webinar yang digelar Forum Jurnalis Online dan PBNU, Selasa 4 Mei 2021.

Lebih lanjut, Imam menyebut, keresahan yang menjadi persoalan NU yang disebabkan isu hoax itu sebagai mental healthiness.

"Isu hoax itu telah mengganggu kesehatan mental atau psikologis masyarakat. Apalagi disebutkan ancamannya bagi bayi, balita dan anak-anak, ibu menyusui, dan ibu hamil. Nah, ini yang mengkhawatirkan," ucapnya.

Kata Imam, isu hoax bahaya BPA galon guna ulang itu tidak hanya merugikan NU saja, tapi juga produsen.

"Jadi, air minum dalam kemasan itu bukan hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar saja. Kami juga memiliki usaha UMKM atau IMKM yang sudah banyak memproduksi air minum dalam kemasan. Di pesantren-pesantren itu banyak IMKM yang memproduksi beberapa merek,” tuturnya.

Selain di pesantren, dia mengatakan UMKM NU juga ada yang bergerak di industri air isi ulang yang juga merasa dirugikan dengan isu hoax tersebut.

"Isu ini justru sangat mengkhawatirkan, kalau misalkan tidak diklarifikasi oleh pemerintah atau para ahli. Saya melihat ini sudah ada indikasi ke arah perang dagang," katanya.

Imam turut menyatakan ketidaksetujuannya dengan cara-cara berkompetisi seperti itu.

"Kalau mau berkompetisi jangan pada isunya. Ayo kita berkompetisi pada quality-nya, efisiensinya, bagaimana merebut marketnya. Kalaupun penetrasi, ya penetrasi di market, jangan penetrasi di isu. Nah, ini yang meresahkan kami semuanya," tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL), Roso Daras menghembuskan isu bahwa BPA galon guna ulang sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebetulnya sudah melakukan klarifikasi terkait isu hoax tersebut. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, Rita Endang, menegaskan sudah memiliki peraturan sendiri terkait keamanan air minum galon guna ulang.

Badan POM telah menetapkan batas migrasi Bisfenol A (BPA) dalam galon guna ulang itu maksimum 0,6 bpj (0,6 ppm).

Tapi, hasil pengawasan Badan POM terhadap kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir (2016-2020), menunjukkan migrasi BPA di bawah 0.01 bpj (10 mikrogram/kg) atau masih dalam batas aman.

"Hingga saat ini, BPA dalam air minum galon guna ulang itu juga tidak memiliki risiko terhadap kesehatan konsumen. Paparan BPA dalam air minum galon guna ulang saat ini masih terlalu rendah untuk dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk pada bayi dan wanita hamil. Hal ini juga sejalan dengan hasil dari EFSA (Otoritas Keamanan Pangan di Eropa) dan US-FDA," kata Rita Endang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel