Holding Industri Baterai Bakal Terbentuk Semester I Tahun Ini

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah akan membentuk konsorsium holding yang mengurus industri baterai kendaraan listrik dari hulu ke hilir. Konsorsium bernama Indonesia Battery Holding (IBH) ditargetkan lahir pada semester 1 tahun ini.

"Kita berharap pembentukan IBC ini dibentuk semester 1 tahun ini sudah sepakati," kata Wakil Menteri BUMN, Pahala Mansury dalam BUMN Media Talk berjudul EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia, secara virtual, Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Pahala menjelaskan, konsorsium ini akan dimiliki bersama antara Wakil Menteri BUMN, Pahala Mansury. Sebab 4 perusahaan BUMN ini yang akan berperan dalam industri baterai dari hulu ke hilir.

"Ini dimiliki bersama oleh 4 perusahaan karena kita harus terintegrasi," kata dia.

Keempat perusahaan tersebut akan mengambil perannya secara berantai. Antam dan tambang akan mengurusi penyediaan bijih nikel sebagai bahan baku baterai. Bahan baku ini akan diolah menjadai perkursor dan katoda yang selanjutnya akan dikerjakan Pertamina untuk diolah.

Pertamina yang mengurus memanufaktur produk hilir. Nantinya perusahaan ini akan membuat sel baterai, battery pack, serta Energy Storage System (ESS).

Sedangkan PLN akan membuat baterai sel, penyediaan infrastruktur SP KLU, pengisian daya kendaraan listrik dan integrator Energy Management System (EMS).

"Nah yang namanya value chain ini panjang sekali. Semua value chain ini ada di Indonesia Battery Cooproration," kata Pahala.

Bermitra dengan Asing

Presiden Joko Widodo, beserta Menteri BUMN, para Menteri terkait serta Kepala BKPM meninjau Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah pada Selasa, 30 Juni 2020. Dok BUMN
Presiden Joko Widodo, beserta Menteri BUMN, para Menteri terkait serta Kepala BKPM meninjau Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah pada Selasa, 30 Juni 2020. Dok BUMN

Kemudian, lanjut Pahala, dibawah 4 konsorsium ini akan ada perusahaan yang dibentuk dan dikerjasamakan atau bermitra dengan perusahaan dari luar negeri seperti China, Jepang, Amerika Serikat atau Eropa.

"Nanti dimitrakan dengan perusahaan dari china, Jepang,Amerika Serikat dan Eropa," kata dia.

Alasannya beberapa perusahaan asal negara tersebut memang sudah dikenal sebagai pemain kelas dunia dalam bidang ini. Sehingga kerja sama tersebut tak hanya membawa modal tetapi juga teknologi dan pasar.

"Sebagai pemain utama global yang bisa membawa uang, teknologi dan pasar," kata dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: