Hope for Bali, Rp20 Ribu yang Bawa Harapan Baru untuk Kaum Paling Rentan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Bali adalah salah satu daerah di Indonesia, di mana masyarakatnya bergantung pada sektor pariwisata. Namun pandemi yang berkepanjangan hingga hari ini, membuat masyarakat di Bali 'terlantar' terutama para lansia dan kaum papa.

Ya, sejak April 2020, setidaknya ada 150 ribu orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dari lebih enam juta orang asing yang datang ke Bali setiap tahun justru 'lari' karena pandemi.

Kondisi ini justru makin berat dirasakan, terutama oleh para pekerja dengan upah harian, seperti tukang sampah jalanan, pemulung, tukang buah keliling, tukang kepang rambut, atau kusir andong.

Kesusahan tak berhenti disitu saja. Para lansia di sekitar jalanan Bali menderita. Pilu dan menyakitkan melihat fakta yang terjadi di depan mata.

Tak ingin tinggal diam, para ibu rumah tangga di Bali, sebut saja Grace, Indri, Gung Dian dan Karina memutuskan melakukan sesuatu yang berarti. Ya, bantuan digelontorkan sebanyak yang mereka bisa.

Donasi Rp20 Ribu untuk Bantu yang Kurang Mampu

Yayasan Hope for Bali memberikan sembako kepada masyarakat di Bali.
Yayasan Hope for Bali memberikan sembako kepada masyarakat di Bali.

Selama pandemi, Bali bak kota mati. Sepi dan tak ada perubahan yang berarti. Namun berbekal tekad untuk membantu yang membutuhkan, pada April 2020, Grace, Indri, Gung Dian dan Karina langsung mengulurkan tangan.

Mereka membantu memberikan makanan langsung kepada para lansia. Membawa kampanye 20 ribu untuk 2020, empat perempuan asal Bali ini lakukan aksi penggalangan dana diawali dari kalangan sendiri.

Cara mereka membantu pun, tak membagi-bagikan di tempat ramai. Namun mereka lebih memilih berkeliling ke daerah yang membutuhkan uluran tangan lebih. Sebut saja di Denpasar, Teuku Umar, Renon, Batubulan, Gunung Soputan, Karangasem, Tabanan, bahkan sampai ke daerah Suwung tempat Pembuangan Sampah.

"Kami mengutamakan orang yang lanjut usia karena pastinya lebih sulit untuk mereka dibanding yang muda-muda. Kami hargai orang-orang yang bekerja keras di masa-masa seperti ini," kata Gung Dian.

Lalu mengapa nominal 20 ribu? Sederhana saja alasannya. Nominal itu dinilai tak memberatkan pada donatur. Mereka percaya bahwa, jumlah yang terlihat sedikit itu, dapat membawa dampak besar bagi yang membutuhkan.

Terbukti, gerakan kecil yang dimulai sebagai bentuk kepedulian bagi sesama warga Bali dapat menghasilkan 400 tas sumbangan yang berisi kebutuhan dasar, seperti beras 5 kilogram, minyak goreng, snack, sabun, shampo, sikat gigi, susu, kecap, dan garam dapur.

Banyak Orang Baik dan Bikin Yayasan Amal

Bantuan dari Hope for Bali untuk mereka yang membutuhkan/Instagram @20ribuuntuk2020.
Bantuan dari Hope for Bali untuk mereka yang membutuhkan/Instagram @20ribuuntuk2020.

Ribuan orang di Bali nyatanya membutuhkan bantuan. Di balik bantuan yang tersalurkan, ternyata banyak orang baik yang memberi perhatian dan membuat perubahan.

Awalnya kampanye 20 Ribu untuk 2020 hanya bersifat sementara. Namun ternyata, keempat perempuan ini memutuskan bahwa masih banyak orang di Bali yang masih butuh bantuan.

Akhirnya pada Oktober berdirilah Yayasan Hope for Bali. Visinya adalah membawa harapan bagi mereka yang terabaikan. Sementara misinya memberi makan dan membantu bagi mereka yang paling rentan.

Hingga hari ini, siapapun dapat memberikan bantuan dengan cara berdonasi. Di tengah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kita dapat mendukung penduduk Bali yang rentan dan para lansia untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Untuk semua orang baik, mari buat perubahan dengan membantu sesama. Kontribusi dalam bentuk donasi, bisa disalurkan di sini.

(*)