Hotel Marriott di Praha Menolak Jadi Tuan Rumah Konferensi Uighur Sedunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Hotel Marriott di Praha, Republik Ceko menolak jadi tuan rumah Konferensi Uighur Sedunia. Acara itu dijadwalkan membahas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di China terhadap minoritas muslim Uighur, lapor CNN, Sabtu (20/11/2021).

Praha Marriott menulis "alasan netralitas politik" untuk keputusan tersebut, menurut email yang pertama kali dilaporkan Axios. Dalam sebuah pernyataan, Marriott International (MAR), Inc. mengatakan kelompok itu "tidak sesuai kebijakan kami."

Marriott menyebut tim manajemen hotel Praha telah menghubungi grup tersebut untuk meminta maaf. "Kami bekerja sama dengan tim hotel untuk memberikan pelatihan dan pendidikan tambahan tentang praktik inklusi kami yang sudah berlangsung lama," kata Marriott.

Pihaknya mengonfirmasi bahwa bulan lalu, Praha Marriott mengirim email ke kelompok aktivis. Isinya menjelaskan bahwa konferensi yang rencananya berlangsung bulan ini belum bisa terselenggara di sana setelah berkonsultasi dengan manajemen perusahaan.

"Sayangnya, saya harus memberi tahu Anda bahwa kami tidak dapat menawarkan tempat tersebut. Kami berkonsultasi dengan seluruh manajemen perusahaan kami. Untuk alasan netralitas politik, kami tidak dapat menawarkan acara semacam ini dengan tema politik," bunyi email tersebut.

Marriott International mengatakan pada CNN bahwa ini adalah "keputusan tingkat hotel" dan referensi untuk "manajemen perusahaan" mengacu pada manajemen hotel Praha. Penjelasan ini kemudian dianggap "mengerikan" oleh para aktivis.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tuduhan Pelanggaran HAM

Topeng bendera Turkestan Timur yang dipakai peserta Aksi Save Uighur selama CFD, Jakarta, Minggu (22/12/2019). Aksi digelar sebagai bentuk peduli terhadap muslim Uighur di Xinjiang yang diduga hingga saat ini terus mengalami tindakan kekerasan oleh pemerintah China. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Topeng bendera Turkestan Timur yang dipakai peserta Aksi Save Uighur selama CFD, Jakarta, Minggu (22/12/2019). Aksi digelar sebagai bentuk peduli terhadap muslim Uighur di Xinjiang yang diduga hingga saat ini terus mengalami tindakan kekerasan oleh pemerintah China. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Zumretay Arkin, seorang manajer program dan advokasi untuk Kongres Uighur Sedunia, membenarkan bahwa Marriott memang menghubungi perwakilan kelompok itu di Praha. "Tapi saya masih menunggu permintaan maaf resmi," kata Arkin di Twitter.

Dalam sebuah wawancara dengan Axios, Arkin mengatakan tanggapan Marriott "mengejutkan." "Kami menyelenggarakan acara internasional sepanjang waktu dan ini adalah pertama kalinya kami diberi alasan ini," katanya. "Ini mengerikan karena konsep lebih luas tentang bagaimana China benar-benar mengganggu demokrasi Barat."

Berbasis di Jerman, kelompok Kongres Uighur Sedunia terdiri dari orang-orang Uighur yang diasingkan dan mereka yang berusaha menarik perhatian pada tuduhan genosida di wilayah Xinjiang, Tiongkok. Sebuah laporan independen oleh lebih dari 50 pakar global yang dirilis Maret lalu menemukan bahwa pemerintah China "bertanggung jawab atas genosida yang sedang berlangsung terhadap kelompok Uighur."

Ini digarisbawahi dengan pernyataan pemerintah Tiongkok melanggar Konvensi Genosida Perserikatan Bangsa-Bangsa. Media pemerintah China menyebut Kongres Uighur Sedunia sebagai kelompok teroris. Pihaknya juga membantah pelanggaran HAM di Xinjiang dan Tibet, menyebut tuduhan genosida "tidak masuk akal."

Salah Langkah Marriott

Para jemaah bersembahyang di Masjid Ak di Urumqi, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 13 April 2021. (Xinhua/Sun Shaoxiong)
Para jemaah bersembahyang di Masjid Ak di Urumqi, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 13 April 2021. (Xinhua/Sun Shaoxiong)

Dalam pernyataannya pada CNN, Marriott mengatakan pihaknya berkomitmen untuk "memberikan sambutan hangat kepada semua pihak." "Kami bergerak di bisnis perhotelan, menyambut orang-orang dari seluruh dunia dan dari semua lapisan masyarakat yang mewakili banyak keyakinan," kata perusahaan itu.

Sebelumnya, Marriott sempat "salah langkah." Pada 2018, pihak berwenang China memblokir situs web dan aplikasi Marriott setelah perusahaan itu mencantumkan Tibet, Hong Kong, Makau, dan Taiwan sebagai "negara" terpisah dalam email dan aplikasinya.

Marriott meminta maaf dan bersikeras bahwa pihaknya menghormati kedaulatan dan integritas teritorial China.

Infografis Asal-usul Suku Uighur

Infografis Asal-usul Suku Uighur. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Asal-usul Suku Uighur. (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel