Hotel, Restoran hingga Cafe Bakal Dapat Insentif dari Pemerintah

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah menyatakan telah membuat strategi untuk mengantisipasi potensi percepatan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat. Pemulihan yang lebih cepat ini diperkirakan bisa menciptakan aliran modal asing yang keluar yang sangat besar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan, tanda-tanda percepatan pemulihan ekonomi AS ini tergambar dari perkiraan inflasi di negara tersebut yang akan melewati sasaran target inflasi The Federal Reserve (The Fed).

Meski begitu, dipastikannya Bank Sentral AS tersebut masih memberikan jaminan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan rendah di level 0,25 persen walaupun tingkat imbal hasil US Treasury Tenor 10 Tahun terus meningkat.

"Fed melihat bahwa inflasinya akan di atas target mereka 2 persen namun saat ini masih di bawah 2 persen dan Fed kelihatannya tidak mau didikte atau pun disudutkan oleh pasar dengan yield Treasury Bond," papar dia secara virtual, Jumat, 19 Maret 2021.

Baca juga: Sosok Anindya Bakrie di Mata Pengurus Kadin Papua Barat

Terlepas dari itu, Airlangga menekankan, pemerintah telah mengantisipasi percepatan pemulihan ekonomi AS ini dengan cara mendorong percepatan pemulihan aktivitas ekonomi dan bisnis di sektor riil.

"Jadi kekhawatiran akan potensi capital outflow masih bisa kita jaga, namun kita harap tentu kita akan cepat antisipasi dan arahan Pak Presiden adalah kita dorong kebijakan di sektor riil," papar Airlangga.

Salah satu cara untuk mendorong aktivitas pemulihan sektor riil, disebutkannya dengan cara memberikan stimulus untuk mendorong permintaan. Ini seperti melalui kebijakan relaksasi PPnBM Otomotif dan PPN di sektor properti.

Setelah itu, Airlangga melanjutkan, yang akan mendapatkan dukungan pemulihan adalah sektor hotel, restoran dan kafe melalui pemberian modal kerja dengan meringankan beban kredit atau pembiayaannya.

"Tentu akan kita akan dorong ke sektor hotel, restoran dan kafe. Terutama untuk memberikan mereka modal kerja yang diberikan grace period dalam pembahasan dengan OJK dan kita sedang siapkan ini, mungkin sekitar 2 tahun," ungkapnya.

Sektor riil yang didorong berikutnya adalah industri berorientasi ekspor yang jadi andalan seperti komoditas minyak mentah kelapa sawit, batu bara, nikel, tembaga dan emas. Manufaktur seperti makanan minuman, tekstil, perhiasan, dan kesehatan.

"Dan sektor ini akan terus didorong secara satu per satu sehingga tentu kita berharap capital outflow ini bisa kita jaga ditambah lagi dengan SWF ataupun INA diharapkan bisa identifikasi project infrastruktur di Indonesia dan bisa segera jadi magnet baru investasi luar negeri," tuturnya.