HP Wartawan di Aceh Dirusak saat Live Report Demo Tolak Kenaikan BBM

Merdeka.com - Merdeka.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh mengecam tindakan perusakan alat kerja (handphone) jurnalis yang diduga dilakukan polisi berpakaian preman saat meliput aksi demo penolakan kenaikan harga BBM oleh mahasiswa di depan gedung DPR Aceh, Selasa (7/9). Korban peristiwa tersebut adalah Indra Wijaya, jurnalis Harian Serambi Indonesia.

"Kami mengecam tindakan itu. Perusakan alat kerja jurnalis adalah bagian upaya penghalangan kerja jurnalistik sebagaimana diatur dalam UU no.40 tahun 1999 tentang Pers pada Pasal 18 ayat 1," kata Ketua Bidang Advokasi AJI Banda Aceh, Rahmat Fajri.

Dia mengimbau semua pihak, terutama polisi, untuk memahami dan menghargai kerja jurnalistik yang merupakan perwujudan dari pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

"Bila jurnalis dihalang-halangi, hal ini berarti menghalangi pula hak masyarakat untuk mendapatkan informasi," tegasnya.

Rahmat Fajri mendesak Kapolda Aceh dan jajarannya untuk menindak tegas polisi yang telah merusak alat kerja jurnalis saat melaksanakan tugas jurnalistik di gedung DPRA tersebut.

Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 13.00 WIB, Indra Wijaya datang meliput demo penolakan kenaikan harga BBM oleh mahasiswa UIN Ar-Raniry di depan gedung DPR Aceh, Jalan Daud Beureueh, Kota Banda Aceh.

Saat itu massa aksi sudah berdiri di jalan depan kantor DPR Aceh. Lalu, Indra Wijaya dengan memakai handphone mengambil video suasana massa yang sudah berkumpul.

Sekitar pukul 13.30 WIB massa bergerak menuju pintu gerbang masuk gedung DPRA. Saat hendak masuk, massa diadang oleh polisi karena hanya diberi ruang kepada 10 mahasiswa untuk audensi dengan pihak DPRA mewakili pengunjuk rasa.

"Massa tidak terima, sehingga mencoba mendobrak pintu pagar gedung DPRA agar bisa masuk ke dalam," ujar Fajri.

Melihat aksi mulai memanas, Indra berinisiatif melakukan live via Facebook untuk akun redaksi Serambi Indonesia, suasana saat itu mulai ricuh.

Beberapa menit baru memulai live, saat arah kamera mengarah kepada massa yang diamankan polisi, tiba-tiba diduga polisi berpakaian preman memukul handphone di tangan Indra, hingga jatuh ke aspal dan mengalami pecah berkeping di bagian layar.

Indra mengambil Handphonenya yang sudah tergeletak di aspal dan menyelamatkan diri dengan berpindah lokasi ke depan halte, dekat Kantor Bulog yang bersebelahan dengan Gedung DPRA.

"Saat itu, Indra melihat handphonenya sudah rusak, tombol dan keyboard tidak sempurna lagi," pungkas Rahmat Fajri. [cob]