Hujan Meteor Leonid Memuncak 17 November, Ini Cara Menyaksikannya

Liputan6.com, Jakarta - Hujan meteor Leonid akan berlangsung aktif selama bulan ini, mulai dari 6 hingga 30 November 2019. Puncaknya diperkirakan terjadi pada malam 17 November (pagi 18 November di Asia Tenggara).

Bintang jatuh tersebut terjadi ketika Bumi melintasi jalur orbit Comet 55P/Tempel-Tuttle.

Seperti kebanyakan komet, Tempel-Tuttle 'mengotori' orbitnya dengan serpihan puing-puingnya. Ketika puing-puing ini memasuki atmosfer Bumi dan menguap, itulah hujan meteor Leonid.

Pada 2019, rembulan Gibbous (mengacu pada bentuk yang kurang dari lingkaran penuh Bulan Purnama, tetapi lebih besar dari bentuk setengah lingkaran Bulan di Kuartal Ketiga) akan menerangi langit selama puncak hujan meteor Leonid.

Di angkasa yang gelap, tanpa sinar Bulan, situs web Earthsky yang dikutip pada Jumat (15/11/2019) menyebut, kita dapat melihat 10 hingga 15 meteor per jam saat puncaknya.

Akan tetapi, apabila langit terang Bulan, beberapa meteor yang sinarnya amat cerah bisa tetap terlihat meski berada di bawah cahaya satelit alami Bumi ini.

Waktu Untuk Melihat Meteor

Sebuah ledakan meteor Leonid 1999 yang terlihat pada ketinggian 38.000 kaki dari Leonid Multi Instrument Aircraft Campaign (Leonid MAC) dengan kamera 50 mm. (Pusat Penelitian NASA / Ames / ISAS / Shinsuke Abe dan Hajime Yano)

Di mana pun Anda berada di Bumi --tidak masalah ketika Anda menonton pada pagi hari saat puncak hujan meteor atau pada pagi hari menjelang puncak hujan meteor-- Leonid akan terhalang oleh sinar Bulan yang cerah.

Namun ada baiknya Anda menonton pada jam-jam antara tengah malam dan fajar, ketika gerak maju Bumi melalui ruang angkasa telah membawa bagian Bumi langsung ke aliran meteor.

Sedangkan tempat terbaik untuk menyaksikan hujan meteor Leonid harus jauh dari keramaian kota, sehingga bintang-bintang yang berkilauan, yang tenggelam lantaran lampu kota, mulai muncul.

Anda bisa mengunjungi laman EarthSky's Best Places to Stargaze untuk mendapatkan rekomendasi lokasi terbaik melihat bintang jatuh berdasarkan negara di mana Anda tinggal.

Ke Arah Mana Kita Harus Melihat Langit?

Bola api bisa terlihat di langit malam Halloween saat puncak hujan meteor Taurid. (HOWARD EDIN, OKLAHOMA CITY ASTRONOMY CLUB, IENCE@NASA, NASA GODDARD SPACE FLIGHT CENTER)

Meteor --dalam hujan tahunan-- dinamai untuk menunjukkan titik di langit yang terkena pancaran. Hujan meteor Leonid berasal dari konstelasi Leo the Lion (Leo si Singa), karena meteor-meteor ini memancar keluar dari sekitar bintang-bintang yang mewakili Lion's Mane.

Jika Anda melacak jalur meteor Leonid di kubah langit, mereka akan tampak mengalir dari dekat bintang Algieba di rasi bintang Leo.

Titik di langit di mana mereka muncul untuk memancarkan sinar disebut titik bercahaya. Titik bercahaya ini adalah ilusi optik.

Ilusi titik radiasi semacam itu disebabkan oleh fakta bahwa meteor bergerak pada jalur paralel.

Dalam beberapa tahun terakhir, menurut Earthsky, banyak yang salah kaprah bahwa kita harus mengetahui keberadaan titik pancaran hujan meteor untuk menyaksikan hujan meteor itu sendiri.

Namun, kata Earthsky, kita sebenarnya tidak perlu melakukannya. Meteor biasanya tidak terlihat sampai 30 derajat atau lebih dari titik pancarannya. Mereka melesat keluar dari radiasi ke segala arah.

Jadi, meteor Leonid pun demikian. Mereka akan muncul di semua bagian langit.

Tidak Ada Badai Meteor

Sebuah meteor melintas di tengah langit malam selama hujan meteor tahunan Perseid di belakang gereja ziarah Sankt Coloman, barat daya Jerman, Minggu (12/8). Puncak hujan meteor terjadi pada 11-12 Agustus dan 12-13 Agustus. (KARL-JOSEF HILDENBRAND/DPA/AFP)

Tidak ada badai meteor Leonid yang diperkirakan terjadi pada 2019. Sebagian besar astronom mengatakan, dibutuhkan lebih dari 1.000 meteor per jam untuk menganggap hujan meteor sebagai badai.

Angka itu masih jauh sekali dari 10 hingga 15 meteor per jam yang diprediksi untuk Leonid kali ini.

Akan tetapi, hujan meteor Leonid dikenal bisa menghasilkan badai meteor. Komet induknya --Tempel-Tuttle-- menyelesaikan satu orbit mengelilingi matahari setiap 33 tahun sekali, yang melepaskan material baru setiap kali memasuki tata surya bagian dalam dan mendekati matahari.

Sejak Abad ke-19, para pengamat langit pernah menyaksikan badai meteor Leonid setiap 33 tahun sekali, dimulai dengan badai meteor tahun 1833 yang menghasilkan lebih dari 100.000 meteor per jam.

Badai Leonid besar berikutnya terlihat pada 1866 dan 1867. Kemudian diprediksi pada 1899, tetapi tidak muncul.

Baru pada 1966, badai Leonid yang spektakuler terlihat, kali ini di atas Amerika. Pada tahun ini, pengamat di Amerika Serikat bagian barat daya melaporkan melihat 40 hingga 50 meteor per detik (yaitu 2.400 hingga 3.000 meteor per menit) selama rentang 15 menit pada 17 November 1966 dini hari.

Pada 2001, badai meteor Leonid yang hebat juga terjadi. Situs antariksa Spaceweather.com melaporkan:

Penampakan dimulai pada Minggu dini hari, 18 November, ketika Bumi meluncur ke awan debu yang ditumpahkan oleh Komet Tempel-Tuttle pada 1766. Ribuan meteor per jam menghujani Amerika Utara dan Hawaii. Kemudian, pada Senin pagi, 19 November (waktu setempat di Asia), badai itu terjadi lagi. Bumi memasuki awan puing komet kedua dari Tempel-Tuttle. Ribuan Leonid kemudian terlihat di atas negara-negara Asia Timur dan Australia.