Hukum Ibadah Haji Mengulang

  Sebuah ketetapan perintah dan larangan wajib atau sunnah agama Islam  melalui proses rasionalisasi hukum. Proses ini dikenal dengan metode istinbathul ahkam yang didalamnya ada  unsur

logika induktif. Mencari dalil-dalil terperinci dan eksplisit tentang

masalah tertentu dalam al-Qur’an, jika tidak ditemukan maka mencari

dalil eksplisit di dalam  hadits yang sohih. Jika di dalam

hadits tidak ditemukan dalil maka barulah melakukan proses analogi (

qiyas), yaitu mendekatkan masalah kepada dalil asal  inplisit yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah sohih  yang mendekati pada masalah tersebut. Rumusan ringkas metode hukum Islam  adalah lebih banyak dalil yang kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah maka tingkat perintah dan larangannya sesuatu  lebih kuat , keras dan jelas untuk dilakukan atau ditinggalkan.  Sebaliknya,

semakin sedikit dalil terperinci dan ekplisit dalam Al-Qur’an dan

sunnah tentang masalah tertentu, semakin rendah dan tidak kuat untuk

melakukan atau meninggalkan sesuatu tersebut.

            Ketetapan perintah melakukan ibadah haji secara langsung ada dalam QS.3:97, ini pun dengan bahasa syarat ” …siapa yang mampu…”. Dalam sebuah hadits yang panjang riwayat Ahmad dan Nasai, Rasulullah

telah berkata dalam pidato beliau: hai manusia, Sesungguhnya Allah

telah mewajibkan atas kamu mengerjakan ibadah haji, maka hendaklah kamu

kerjakan. Seorang sahabat bertanya: Apakah tiap tahun ya rasulullah ?

Beliau tidak menjawab, dan yang bertanya itu mendesak sampai tiga kali.

Kemudian Rasulullah berkata: kalau jawab saya “ya”, sudah tentu menjadi

wajib tiap-tiap tahun, sedangkan kamu tidak akan kuasa mengerjakannya…” . Dengan dua dalil ini maka  hukum

dasar haji memang adalah wajib, itupun dengan syarat bagi siapa yang

mampu mampu ilmu, mental dan ekonomi. Dalam hadits ini tidak ditegaskan

bahwa harus berhaji tiap tahun. Yang ada adalah ancaman bagi siapa yang

mampu tetapi tidak berhaji, “ Barang siapa memliki bekal dan

kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menymaikannya ke baitul haram

dan tidak menunaikan ibadah haji maka tidak mengapa baginya wafat

sebagai orang Yahudi atau Nasrani”. ( HR. Attirmidzi).

            Hukum haji mengulang secara tegas hukumnya tidak wajib, sebagian ulama menjatuhkan hukumnya sunnah (tathawwu).

Sunnah suatu perbuatan yang tidak mesti dikerjakan namun memiliki nilai

keutamaan. Proses pengerjaan haji mengulang harus melihat kondisi dan

situasi serta perintah ajaran lainnya yang lebih utama dan penting.

Yusuf Qardhawii -Fuqoha kontemporer Al-Azhar Mesir-  membuat

rumusan Fiqih Prioritas, mana perbuatan keagamaan paling penting,

penting, dan tidak terlalu penting. Dalam menanggapi hukum haji

mengulang beliau mngatakan, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang

mafsadat, maka langkah yang terbaik yang harus ditempuh ialah agar orang

yang sudah satu kali menunaikan ibadah haji  (ibadah haji

wajin) dapat menahan diri, dan memberi kesempatan kepada kaum muslimien

yang belum menunaikan ibadah haji wajib. Dengan demikian mereka akan

mendapat dua manfaat besar. Pertama, sebagian dari harta kekayaanya yang

banyak itu dimanfaatkan untuk amal ibadah dan kebajikan lainnya,

seperti memperkuat dakwah Islam, membantu sekolah-sekolah muslim, dan

lain-lain. Kedua, memberi kelonggaran tempat kepada kaum muslimien

lainnya dari berbagai pelosok dunia yang belum pernah melaksanakan

ibadah haji fardhu, agar pelaksanaannya tidak berjubelan dan

desak-dseakan.

            Dengan

demikiann memang ibadah haji mengulang itu penting, tetapi ada ibadah

lain yang statusnya sangat penting. Jika dibandingkan antara dalil

perintah melaksanakan  ibadah haji dengan perintah untuk

membangun umat agar cerdas, bermoral baik dan membantu para kaum miskin,

sangat jauh lebih banyak perintah untuk menegakan kebaikan dan membantu

orang-orang lemah, cerdas serta berakhlak mulia.

 

Aktualisasi Kemabruran Haji

            Dimensi ukhrawi ganjaran bagi haji mabrur adalah surga, bahkan hadits rasulullah lebih tegas mengatakan,

Barang siapa melaksanakan di rumah ini (Baitullah Al-Haram) tidak

rafats dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperi pada hari

dilahirkan ibunya”. (Al-Bukhori). Kata mabrur artinya baik, maka mereka yang berhaji adalah yang selalu berbuat baik. Ada banyak dimensi kebaikan (al-biru

) seperti yang Allah jelaskan dalam QS.2:177, pertama dimensi keteguhan

teologis keimanan kepada Allah, malaikat, Nabi, dan hari akhirat.

Kedua, memberikan harta kepada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin,

orang yang kehabisan perbekalan, orang yang  tidak bisa

membayar utang. Ketiga, selalu menegakan dan melaksanakan zakat dan

shalat. Keempat, selalu menepati janji dan kelima bersabar ketika ada

hantaman kesulitan dan kemadharatan. 

Mereka

yang telah melakukan ibadah haji adalah telah melakukan proses taubat

yang panjang dan melelahkan lewat praktik-praktik ibadah ritual

–simbolis, dengan suatu target utama adanya perubahan sikap dan

moralitas. Jika selepas ibadah haji tidak ada perubahan sikap bahkan

kita tetap berada dalam menumpuk dosa, maka berati sasaran ibadah haji

itu tidak tercapai, bahkan sia-sia. Menurut Nurcholish Madjid     jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadah itu karena pamrih atau riya’.

Sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama

anggota kelompok Islam. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna

memberi pertolongan kepada orang yang perlu, biarpun sedikit. Kita

menjalankan ibadah formal –simbolis sekuat tenaga, namun tidak

menghayati dan tidak mewujudnyatakan hikmah-hikmahnya. Dengan demikian

mereka yang yang akan melakukan ibadah haji mengulang harus mengarahkan

biaya hajinya yang kedua kepada ibadah-ibadah lain yang bobotnya sangat

penting bahkan perintah sangat keras.

Kuantitas

dalil untuk menegakan keadilan sosial sangatlah banyak dibandingkan

dalil untuk berhaji, sampai dalam QS. Al-Maun :1-7 disebut orang yang

mendustakan agama , orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang

untuk memberi makan orang misikin, dan orang yang shalat tetapi lalai

yaitu, mereka yang suka pamrih kepada sesama, dan yang enggan memberi

pertolongan.  Kondisi kemiskinan bangsa yang mencapai angka 50  juta bahkan berdasarkan ukuran international Poverty Line (IPL) angka kemiskinan di Indonesia mencapai 60 % 120 juta  penduduk.

Keadaan ini seharusnya mendorong orang-orang kaya muslim untuk

mengalihkan biaya haji mengulangnya untuk mengangkat orang-orang miskin

di sekitarnya. Ayat-ayat dan hadits yang mendorong agar kaum kaya muslim

memiliki solidaritas sosial ini berbeda  istilah seperti, infaq, sodaqoh, zakat dan wakap.

Tuntutan rangsangan untuk berkurban mengeluarkan harta beraneka ragam, dari redaksi maknawi  yang bersifat menggambarkan jumlah ganjaran yang berlipat  sampai

ancaman siksa neraka yang keras serta dampak sosial-ekonomi. Bisa jadi

angka kemiskinan yang semakin menggunung ini merupakan pertanda dari

tumpulnya jiwa  sosial para orang kaya muslim, dan lebih tersibukan dengan ibadah simbolis dan individual.

   Agenda

lain untuk pengalihan biaya haji mengulang itu antara lain membantu

peningkatan sumber daya manusia. Ayat al-Qur’an yang berisi  agar umat Islam banyak berpikir hampir mewarnai disetiap surat, bahkan kata ilmu diulang sampai 854 kali, belum lagi ayat la’alakum taqilun, tatapakarun, ulil albab, ulil abshar, dan

lain-lain yang tersebar hampir di setiap juru ayat. Islam agama yang

banyak mendorong umatnya untuk mempunyai kekuatan intelektual, semangat

penelitian dan daya kritisis terhadap segala realitas alam dan sosial,

sehingga mengasilkan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia. Bahkan

Nabi sampai mengeluarkan hadits, “ menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslimin dan muslimat “.

 Untuk

menunjang SDM inilah perlu dibentuk sekolah-sekolah Islam berkualitas

yang mempunyai sarana dan pra sarana yang lengkap dan modern, juga

didukung oleh guru-guru yang mempunyai kompetensi keilmuan yang mumpumi

dan kualitas akhlak yang tinggi, serta kesejahteraan yang mencukupi.

Sisi lain kondisi ekonomi masyarakat cukup memprihatinkan, apalagi badai

krisis yang menghantam menjadikan jumlah angka putus sekolah dasar

sampai perguruan tinggi semakin membengkak. Keadaan ini harus dijadikan

prioritas  ibadah sosial bagi orang-orang kaya muslim agar

mengalihkan biaya haji mengulang, untuk membangun sarana fisik, membantu

biaya sekolah, dan meningkatkan kesejahteraan guru. Sehingga kondisi

rendahnya kualitas pendidikan Islam – seperti yang disinyalir oleh Ahmad

tafsir di atas- tidak terjadi. Investasi ganjaran membagun sumber daya

manusia ini akan terus mengalir baik di dunia maupun akhirat kelak.

Kesimpulan

            Ciri

kemaburan pasca haji adalah melaksnakan dimensi- dimensi kebaikan yang

cukup luas baik bersifat teologis, akhlak, ibadah, sosial, ekonomi

bahkan politik. Jika selepas haji tidak ada perubahan akhlak dan ibadah

yang cukup radikal, kita terus bermaksiat, korupsi, kikir, tidak peduli

pada orang miskin, selalu berpoya-poya, mengobral auratnya, bertindak

diskriminatif, dan lain-lain, maka itu sebuah pertanda kemabruran  belum

tercapai. Kita bangga pulang menyandang gelar haji selesai. Kita

terjebak pada simbol-simbol ibadah haji yang tanpa makna. Allah dan

Rasul mengecam orang yang mempunyai kesalehan ritual, tetapi tidak

mempunyai ketajaman dan kesalehan sosial, bahkan sia-sialah ibadah haji

kita. Di tengah kondisi kemiskinan yang menggunung, kita harus menahan

diri untuk tidak melaksanakan mengulang ibadah haji kedua, ketiga

keempat, dan seterusnya. Kita alihkan dana haji mengulang ini untuk

membantu saudara-sudara kita yang miskin dan membangun pendidikan Islam

yang berkualitas. Nabi mengatakan, “ Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak peduli terhadap penderitaan kaum muslimin”.      

            Wallahu ‘alam Bisshawab

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.