'Hukuman mati bagi pemerkosa tidak menyelesaikan masalah'

MERDEKA.COM,

Kasus perkosaan yang marak terjadi akhir-akhir ini membuat banyak pihak kembali ingin merealisasikan hukuman mati bagi pelaku pemerkosaan. Namun, hal ini juga banyak menuai kontroversi. Karena diyakini hukuman mati tidak menyelesaikan masalah banyaknya pelaku pemerkosa.

Menurut Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari, kasus perkosaan lebih tepat jika diselesaikan dengan cara perbaikan sistem dengan menyeluruh.

Eva juga tidak setuju apabila untuk meminimalisir kasus perkosaan diperlukan legalitas tempat-tempat prostitusi.

"Aku tidak setuju hukuman mati, itu cara menyederhanakan masalah. Perkosaan adalah kekerasan yang dilandasi pola relasi kuasa antara penindas terhadap obyek. Ini dikarenakan mindset oppressive dari pelaku ke korban," jelas Eva saat dihubungi merdeka.com, Jumat (25/1).

Lebih jauh Eva menjelaskan, perkosaan terjadi karena pendidikan yang terjadi sehari-hari lebih mengedepankan superioritas kaum pria ketimbang kebutuhan wanita pada umumnya.

Politisi asal PDI Perjuangan ini memaparkan, mindset dibentuk melalui pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, agama dan pendidikan yang mengedepankan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Biasanya machoisme menyesatkan diindikatorkan dengan penaklukan perempuan.

"Logika, praktik, perilaku di atas dilembagakan menjadi sistem budaya di dalam masyarakat termasuk di kalangan penegak hukum. Sehingga gagal mentransformasi masyarakat karena penegakan hukum menjadi bagian dari masalah meski sudah banyak UU yang progresif berparadigma kesetaraan gender," imbuhnya.

Untuk menghindari maraknya kasus perkosaan, Eva berpandangan, harus ada transformasi dari hulu (pencegahan) hingga ke hilir (penindakan) dilaksanakan secara simultan.

"Tidak sensitifnya para hakim dan penegak hukum (termasuk integritas yang rendah) menjadi hambatan bagi para korban untuk memperoleh keadilan hukum yang pada gilirannya tidak bikin jera," tegas dia.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.