HUT ke-76 RI, Menperin: Industri perlu beradaptasi dengan tren global

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri perlu beradaptasi dengan dinamika dan tren global untuk menciptakan daya saing dan kemajuan industri.

"Dewasa ini ada beberapa tren dunia, yaitu perubahan teknologi, tuntutan pembangunan industri hijau, dan peningkatan pasar di sektor industri halal," kata Menperin lewat pernyataannya dalam rangka HUT ke-76 RI di Jakarta, Selasa.

Agus memaparkan, tren perubahan teknologi saat ini dan ke depan akan didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, internet of things, wearable devices, otomatisasi dan robotik, serta artificial intelligence.

Untuk itu, pemerintah mengintensifkan implementasi kebijakan Making Indonesia 4.0 sebagai inisiatif untuk percepatan pembangunan industri memasuki era industri 4.0.

Penerapan Industri 4.0 akan mendorong revitalisasi sektor manufaktur agar lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas.

"Penerapan Industri 4.0 di Indonesia juga diharapkan akan menarik investasi di bidang industri, karena industri di Indonesia akan lebih produktif dan berdaya saing tinggi dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja Indonesia dalam mengadopsi teknologi," ujar Menperin.

Kesuksesan implementasi Making Indonesia 4.0 akan mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 2 persen per tahun, meningkatkan kontribusi industri manufaktur dalam PDB sebesar 25 persen pada 2030, dan meningkatkan jumlah lapangan kerja dari 20 juta ke 30 juta lapangan kerja pada 2030.

Tujuh sektor industri menjadi fokus utama penerapan program ini yakni makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, dan alat kesehatan.

Ketujuh sektor tersebut ditargetkan memberikan kontribusi terhadap total PDB manufaktur sebesar 70 persen, ekspor manufaktur sebesar 65 persen, dan penyerapan pekerja industri sebesar 60 persen.

Di samping tren perubahan teknologi, tren dunia lain yang harus diadaptasi oleh industri manufaktur dalam rangka peningkatan daya saing global adalah tuntutan pembangunan industri yang berwawasan lingkungan atau industri hijau (green industry) sebagai bagian dari Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

Tujuan dari pengembangan industri hijau adalah penurunan emisi gas rumah kaca, efisiensi energi dan air, penerapan ekonomi sirkular, efisiensi material, penurunan pencemaran lingkungan, dan peningkatan serapan tenaga kerja.

Pemerintah telah menetapkan tujuh aspek standar industri hijau, yaitu bahan baku, energi, air, emisi gas rumah kaca, proses produksi, produk, pengelolaan limbah, dan manajemen pengusahaan.

Dari perspektif lingkungan, penerapan industri hijau pada 2019 berhasil menurunkan 39,22 juta ton CO2 equivalen, penghematan energi senilai Rp3,5 triliun, dan penghematan air setara Rp230 miliar.

"Hingga saat ini, 895 perusahaan industri telah mendapatkan penghargaan atas upayanya dalam membangun industri hijau, kata Menperin.

Tren global lain yang tak boleh dilewatkan oleh industri manufaktur adalah peningkatan peluang pasar dan investasi di sektor industri halal.

Potensi pasarnya sebesar Rp2 triliun pada 2017 dan diprediksi meningkat menjadi Rp3 triliun pada 2023.

Menurut Agus, ekonomi halal di mana sektor industri manufaktur dapat berperan penting antara lain makanan dan minuman halal, produk obat-obatan halal, produk kosmetik halal, dan produk busana dan mode halal.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Menperin menilai Indonesia belum berperan besar di ekonomi halal.

"Dalam rangka mengoptimalkan peran tersebut, pemerintah mendorong pembangunan kawasan-kawasan industri halal terintegrasi yang memiliki fasilitas laboratorium halal, lembaga pemeriksa halal, instalasi pengolahan air baku halal, dan sistem jaminan halal di bawah pembinaan Kemenperin bekerja sama dengan lembaga terkait yaitu Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan MUI dalam hal verifikasi kehalalan," kata Menperin.

Baca juga: HUT ke-76 RI, Menperin tingkatkan daya saing global industri nasional

Baca juga: Kemenperin dorong pendalaman struktur industri lewat hilirisasi

Baca juga: Strategi Kemenperin menggolkan substitusi impor 35 persen pada 2022

Baca juga: Dongkrak industri baja, Menperin bakal perketat P3DN infrastruktur

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel