HUT ke-77 RI, Menkes: Kami Bekerja Keras Lakukan Transformasi Kesehatan

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kesehatan menjadi modal utama bagi bangsa dalam mengisi momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 RI di masa pandemi Covid-19.

"Sebagaimana demi melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa, untuk itu Kemenkes bekerja keras melakukan transformasi di bidang kesehatan demi memberikan pelayanan terbaik dalam mewujudkan Indonesia sehat bagi rakyat," kata Budi Gunadi Sadikin dilansir dari Antara, Rabu (17/8).

Budi mengajak seluruh komponen bangsa untuk tetap menjaga disiplin melakukan protokol kesehatan dan segera mengakses layanan vaksinasi Covid-19.

"Tujuannya agar Republik Indonesia segera merdeka dari pandemi dan ekonomi pulih kembali. Dirgahayu Republik Indonesia, lebih cepat pulih dan bangkit," katanya.

Kemenkes sejak 2020 telah memulai kegiatan enam pilar transformasi pelayanan kesehatan di Indonesia demi menghadapi pandemi di masa depan agar masyarakat tetap sehat.

Transformasi pertama, menyasar revitalisasi 300.000 unit posyandu hingga puskesmas. Termasuk peningkatan standar pelayanan, pembangunan laboratorium kesehatan masyarakat secara terstruktur di seluruh daerah agar saat terjadi pandemi, masyarakat bisa tetap sehat.

Pilar kedua, adalah transformasi layanan rujukan dengan memperbaiki seluruh rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia yang saat ini berjumlah 3.000-an unit agar bisa layani empat penyakit penyebab kematian terbesar, jantung, struk, kanker dan ginjal.

Ketiga, adalah transformasi layanan kesehatan. "Kami mau pastikan bahwa industri kesehatan siap kalau ada pandemi lagi. Termasuk menyiapkan tenaga cadangan kesehatan di fakultas kedokteran, politeknik kesehatan, Pramuka dan organisasi lainnya," katanya.

Transformasi keempat, adalah pembiayaan kesehatan dalam upaya pengadaan alat kesehatan, obat-obatan hingga alat skrining kesehatan. Kelima, transformasi SDM kesehatan dalam upaya pemerataan tenaga kesehatan hingga ke seluruh pelosok daerah di Indonesia.

"Panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di Indonesia harus ada 1 per 1.000 dokter. Jadi 270 juta jiwa harus punya 270 ribu dokter, sedangkan dokter praktik kita sekarang 120 ribu, kita kekurangan 150 ribu dokter," katanya.

Selain itu, sebanyak 92 fakultas kedokteran hanya bisa memproduksi 12.000 dokter dalam setahun. "Jadi butuh 15 tahun untuk kejar jumlah dokter agar bisa mengejar standar minimal WHO. Negara lain bisa 3 sampai 4 per 1.000 populasi," ujarnya.

Keenam, transformasi di bidang teknologi. "Kesehatan akan distandarkan elektronik medical record agar semua sama, agar bisa terintegrasi di semua fasilitas kesehatan," ujarnya. [tin]