"Hybrid learning" sebagai penunjang PTM secara optimal

·Bacaan 4 menit

Beberapa implementasi pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di Indonesia di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini dilakukan secara daring, pelaksanaan sekolah tatap muka (PTM), serta gabungan dari keduanya yang kerap disebut sebagai hybrid learning.

Hybrid learning, kata Dr. Juandanilsyah, SE., MA selaku Analis Kebijakan Ahli Madya, Koordinator Bidang Peserta Didik Direktorat SMA, Ditjen Dikdasmen, Kemendikbudristek merupakan sebuah pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran online dan tatap muka untuk menghindari learning loss.

"Pemerintah berupaya untuk membantu efektivitas hybrid learning di sekolah-sekolah melalui berbagai program seperti relaksasi dana BOS yang dapat digunakan oleh sekolah untuk mengatur proses pembelajaran, kegiatan guru berbagi untuk meningkatkan keterampilan para guru, pembagian kuota internet untuk belajar, guru kunjung di daerah-daerah terpencil hingga bantuan peralatan TIK ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia," kata Dr. Juandanilsyah dalam keterangannya pada Jumat.

Baca juga: Aku Pintar bentuk komunitas Guru Pintar

Baca juga: Mendikbud siapkan aplikasi pendidikan terpadu

Dalam hal ini, pemerintah, kata Dr. Juandanilsyah, tidak dapat bekerja sendiri dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar (KBM) hybrid learning yang kondusif, peran orang tua, sekolah dan masyarakat itu sendiri sangat diperlukan untuk memaksimalkan pembentukan karakter dan kepribadian anak secara maksimal.

"Selain orang tua, sekolah dan masyarakat, pihak-pihak swasta juga memiliki peran penting dalam kegiatan KBM, kolaborasi yang baik antara pemerintah dan pihak swasta akan menciptakan ekosistem hybrid learning yang lebih baik untuk dunia pendidikan, sehingga generasi penerus bangsa dapat menjadi cerdas dan sehat walau dalam kondisi pembelajaran jarak jauh," katanya.

Senada dengan hal itu, Ruth Ayu Hapsari, Business Strategy and Growth Senior Manager Quipper Indonesia yang merupakan sebuah perusahaan teknologi pendidikan (edutech) menuturkan sekolah dapat mengimplementasikan model hybrid learning sebagai solusi untuk menunjang kegiatan PTM secara optimal.

"Kami optimistis bahwa ada kemungkinan pembelajaran campuran atau hybrid learning tidak hanya relevan pada saat PTM terbatas berlangsung, tapi bisa akan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di masa yang akan datang," kata Ruth yang menambahkan bahwa tren pembelajaran digital telah terjadi sejak era 3.0 dan terus berkembang hingga sekarang.

Meski demikian Ruth mengingatkan perlu adanya sebuah penekanan bahwa solusi dan teknologi yang digunakan adalah tepat guna sehingga kebutuhan guru dan siswa dapat terus terpenuhi.

Implementasi hybrid learning dapat didukung oleh platform yang terintegrasi, mudah digunakan, serta bisa disesuaikan dengan kebutuhan baik untuk siswa maupun guru.

Penerapan hybrid learning di berbagai tingkatan pendidikan dapat berpotensi meningkatkan akses sekaligus menjadi solusi pendidikan di masa PTM terbatas. Seperti yang kita ketahui, pemerintah melalui SKB 4 Menteri yang ditetapkan bulan Maret 2021 yang lalu mendorong seluruh satuan pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas tentunya tetap sesuai dengan standar protokol kesehatan.

Dalam hal ini, Quipper memiliki layanan Video dan Quipper School Premium (QSP), siswa dan guru dapat menggunakan berbagai fitur yang memberikan kenyamanan dan kemudahan belajar.

Dari sisi siswa, sebagai salah satu upaya untuk memperlancar proses belajar mandiri mereka selama kegiatan belajar mengajar (KBM) campuran, akun Quipper dilengkap fitur Pencarian (Search) yang memudahkan siswa menemukan materi yang dibutuhkan, baik video maupun latihan soal; fitur Rekomendasi Topik yang memberikan masukan untuk materi belajar siswa sesuai dengan kebutuhan dan ketertarikannya; dan fitur Prestasi Belajar (Learning Achievement) yang memberikan laporan mingguan untuk progres belajar siswa, sekaligus arahan untuk menguasai materi yang belum selesai dipelajari.

Untuk para guru, Quipper menghadirkan layanan Quipper School Premium, sebuah Learning Management System (LMS) yang menghadirkan solusi terpadu agar KBM dapat berjalan optimal, baik pada saat pembelajaran jarak jauh maupun PTM terbatas.

"Pada awal penerapan PJJ, Quipper School Premium memungkinkan guru mengunggah materi dan pemberian tugas belajar, melakukan ujian dan penilaian otomatis, memantau aktivitas belajar serta pencapaian siswa secara real-time dan otomatis, hingga pertemuan daring melalui Zoom yang terintegrasi dengan sistem kami,” jelas Ayu.

“Sementara itu, pada saat PTM, layanan QSP memudahkan guru dalam pemantapan penguasaan materi melalui puluhan ribu materi dan video pembelajaran, pemanfaatan waktu di kelas dengan efektif, dan mempersiapkan siswa hadapi Asesmen Nasional maupun SBMPTN lewat konten soal intensif dan tryout," kata Ayu.

Quipper School Premium (QSP) telah digunakan sekolah-sekolah di penjuru negeri sejak awal layanan ini disediakan pada Juni 2020. Sampai dengan semester 1 tahun ajaran 2021/2022, sudah lebih dari 8,3 juta siswa dan 400,000 guru telah bergabung dan menggunakan layanan Quipper.

Tetap diawasi

Meski demikian, proses sekolah dengan hybrid learning tetap harus diawasi. Nyatanya, menurut survei yang dilakukan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan menemukan bahwa 70 persen murid yang menjalani PJJ mengalami emosi negatif. Banyaknya tugas yang diberikan tidak sebanding dengan waktu pengerjaannya adalah salah satu pemicu kecemasan pada murid.

Kepala Bagian Psikologi Klinis Universitas Katholik Atma Jaya,Nanda Rossalia, M.Psi.,Psikolog beberapa waktu lalu mengatakan bahwa dalam kondisi seperti saat ini, baik orang tua maupun guru tetap perlu mengawasi murid, terutama bagaimana mengelola kondisi emosional dan psikologikal murid.

"Kecemasan akademik siswa perlu diatasi dengan peran sinergis dari banyak pihak, tidak hanya dari murid itu sendiri. Guru tentunya memiliki porsi yang signifikan dalam membantu murid mengatasi kecemasannya," kata Nanda.

Baik guru maupun orang tua hendaknya tetap mengawasi anak peserta didik dan sigap melihat gejala emosi negatif dengan melakukan konseling jika diperlukan.

Baca juga: Pesan Tasya Kamila bagi pelajar di masa pandemi

Baca juga: Survei: Aku Pintar masuk 5 besar aplikasi pendidikan favorit pelajar

Baca juga: Aku Pintar bentuk komunitas Guru Pintar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel