IAI Ungkap Berbagai Studi In Vitro Terkait Ivermectin sebagai Obat COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.Si., Apt. menjelaskan hasil studi terkait penggunaan Ivermectin untuk obat COVID-19.

Menurutnya, dari berbagai studi dan literatur yang sudah ada, banyak sekali studi yang dilakukan secara in vitro seperti yang dilakukan di Australia. Studi tersebut menunjukkan bahwa Ivermectin memiliki khasiat untuk COVID-19, tetapi secara in vitro (studi dilakukan tanpa melibatkan makhluk hidup, -red) dan butuh kajian lebih dalam lagi.

“Jadi Ivermectin dapat menghambat replikasi dari SARS-Cov-2, tetapi hal ini tidak bisa langsung dikorelasikan atau ditranslasikan dengan kajian klinis,” ujar Yahdiana dalam konferensi pers IAI, Jumat (2/7/2021).

Jadi, Yadiana menambahkan, diperlukan banyak sekali studi lanjutan dari studi in vitro ini. Beberapa literatur lain juga menunjukkan tentang menghitung berapa konsentrasi pada dosis yang dapat mengakibatkan 50 persen virus itu mati.

“Ini studi in vitro juga. Dari studi itu diperoleh kadar 5 mikromolar, jadi kalau kadarnya 5 mikromolar, virusnya akan mati 50 persen.”

Dosis yang ada saat ini adalah 12 miligram, dosis tersebut dinaikkan 8,5 kalinya dan ternyata konsentrasi di dalam tubuh hanya 0,28 mikromolar.

“Jadi saya ingin mengatakan, kalau kita ingin mengkorelasikan obat cacing ke antivirus itu fokusnya di dosis. Berapa dosis yang harus diberikan? Untuk menyamakan agar dapat mematikan virus yang 5 mikromolar berarti harus dikalikan 250 kalinya.”

Farmakokinetiknya Sangat Buruk

Yahdiana menambahkan, mengakali Ivermectin dari sisi dosis mungkin dapat dicobakan sebelum uji klinis dengan terlebih dahulu melakukan study adjustment (studi pengaturan) dosis mengubah dari obat cacing ke antivirus COVID-19.

“Karena konsentrasinya sudah ditemukan bahwa Ivermectin bisa mematikan virus itu kalau konsentrasinya 5 mikromolar, dosis itu harus diperhatikan.”

Kajian lainnya menunjukkan bahwa farmakokinetik Ivermectin atau perjalanan obat sejak diminum hingga keluar dari tubuh sangat buruk. Obat ini diserap dengan tidak bagus dan bioavailabilitasnya kecil serta terikat dengan protein lebih kurang 93 persen.

“Artinya, Ivermectin memang didesain untuk obat cacing sehingga dia masuk ke dalam darah itu dalam jumlah yang tidak besar. Sedangkan obat kalau ingin menuju reseptor, dia harus tersedia di darah dan menuju reseptor lainnya seperti yang ada di saluran napas.”

Penelitian Lainnya

Yahdiana juga menyampaikan hasil studi dari Oxford, Inggris yang menunjukkan bahwa Ivermectin tidak memberikan perubahan yang signifikan pada pasien.

“Diberikan Ivermectin dan plasebo pada pasien, tidak ada perbedaan yang signifikan antara Ivermectin dengan plasebo yang diberikan. Artinya, obat ini kesimpulannya tidak memberikan efek sebagai antivirus COVID-19,” pungkas Yahdiana.

Infografis 6 Cara Hindari COVID-19 Saat Bepergian dengan Pesawat

Infografis 6 Cara Hindari Covid-19 Saat Bepergian dengan Pesawat. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 6 Cara Hindari Covid-19 Saat Bepergian dengan Pesawat. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel