Ian Gillan Datang, Ikuti Jejak 3 Arsitek Tim yang Sudah Buktikan Liga 1 Arena Menarik bagi Pelatih Britania Raya

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - PSIS Semarang resmi mengumumkan Ian Andrew Gillan sebagai pelatih utama. Pelatih asal Britania Raya ini bakal diplot sebagai suksesor Dragan Djukanovic yang mundur sesaat BRI Liga 1 2021/2022 akan dimulai.

Pelatih berusia 56 tahun yang menangani PSIS di BRI Liga 1 itu merupakan mantan pemain yang melanjutkan karier di dunia kepelatihan. Saat masih aktif sebagai pemain, pria kelahiran Aberdeen, Skotlandia, itu berposisi sebagai seorang gelandang.

Karier manajerialnya dimulai dengan melatih St. George U-19, sebuah tim semi-profesional di Australia pada 2020. Dari sana, kariernya melonjak hingga dipercaya masuk jajaran tim pelatih Perth Glory, yang berlaga di A-League.

Setelah itu, Ian Gillan beberapa kali keluar dan masuk sejumlah klub Asia Tenggara, seperti Ilocos United di Filipina dan Sarawak FA di Malaysia. Sebelum berlabuh di PSIS Semarang, dia mendapatkan kepercayaan sebagai Direktur Departemen tim Junior klub Malaysia, Kedah FA.

Berkarier di Indonesia bakal menjadi yang pertama baginya. Tapi, sebelum kedatangannya di BRI Liga 1 2021/2022, sudah ada tiga pelatih asal Britania Raya yang pernah dan masih menangani klub-klub Indonesia di era Liga 1. Bagaimana rapor ketiganya? Berikut ulasannya:

Simon McMenemy

Direktur teknik Bhayangkara Solo FC, Simon McMenemy, hadir dalam latihan di Stadion UNS, Kamis (25/2/2021). (Dok Bhayangkara Solo FC)
Direktur teknik Bhayangkara Solo FC, Simon McMenemy, hadir dalam latihan di Stadion UNS, Kamis (25/2/2021). (Dok Bhayangkara Solo FC)

Pelatih Britania Raya pertama yang tercatat berkarier di kompetisi Liga 1 adalah Simon McMenemy. Pelatih berusia 43 tahun itu bahkan berhasil membawa Bhayangkara FC merajai musim perdana Liga 1 2017.

Dalam 34 pertandingan, anak asuhnya berhasil mengoleksi 22 kemenangan, dua hasil imbang, dan 10 kekalahan untuk meraup 68 poin. Poin mereka sebenarnya sama dengan Bali United, tapi mereka unggul head to head.

Sayangnya, pencapaian manis tersebut gagal terulang pada musim berikutnya. Hasil minor pada pekan-pekan awal membuat mereka kehilangan start dari Persija Jakarta yang akhirnya mampu keluar sebagai juara.

Pada awal 2019, pria yang juga kelahiran Aberdeen itu memutuskan mundur dari Bhayangkara FC. Ia mendapat pelabuhan baru sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia.

Sayang karier kepelatihannya bersama skuad Garuda tak berlangsung lama. Namun, Bhayangkara FC tetap menyambutnya pulang dan memberikan jabatan direktur teknik kepadanya, hingga saat ini di BRI Liga 1 2021/2022.

Peter Butler

Pelatih PSMS Medan, Peter Butler, mengamati pemainnya saat melawan PS Tira pada laga Liga 1 di Stadion Pakansari, Jawa Barat, Rabu (5/12). PSMS kalah 2-4 dari PS Tira. (Bola.com/Yoppy Renato)
Pelatih PSMS Medan, Peter Butler, mengamati pemainnya saat melawan PS Tira pada laga Liga 1 di Stadion Pakansari, Jawa Barat, Rabu (5/12). PSMS kalah 2-4 dari PS Tira. (Bola.com/Yoppy Renato)

Nama kedua asal Britania Raya yang tercatat pernah tampil di Liga 1 adalah Peter Butler. Bila karier kompatriotnya yang sudah dibahas di atas bisa dikatakan mulus, karier pelatih yang satu ini tak seindah apa yang diharapkannya.

Awalnya, semua tampak berjalan sempurna bagi Peter Butler yang ditunjuk menangani Persipura Jayapura pada awal musim 2018. Namun, friksi muncul di ruang ganti dan dua hasil imbang datang menjelang paruh musim.

Puncaknya, terjadi saat Persipura ditumbangkan Bali United. Pelatih yang kini berusia 55 tahun itu akhirnya memilih pergi dari tim Mutiara Hitam, julukan Persipura.

Tapi, Peter Butler tak perlu waktu lama untuk mencari pelabuhan baru. PSMS Medan yang mencari pelatih baru lantas mengontraknya dengan harapan mampu menghindarkan diri dari jeratan degradasi.

Seperti di Persipura, awal-awal kariernya di PSMS tampak berjalan mulus. Petaka mulai datang menghampiri saat beberapa pilar cedera dan mereka tak memiliki banyak opsi di bangku cadangan.

Sempat membantai Persebaya Surabaya, suratan takdir tak bisa ditolak PSMS usai ditumbangkan sesama klub di zona merah, PS TIRA (kini Persikabo 1973). Peter Butler harus rela menyaksikan timnya terdegradasi ke kasta kedua pada akhir musim.

Sepertinya pengalaman tidak menyenangkan di Indonesia hendak dikuburnya dalam-dalam. Saat ini, Peter Butler tengah menjalani peran baru sebagai Manajer Liberia.

Paul Munster

Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, memberikan arahan kepada anak asuhnya saat melawan Persiraja Banda Aceh pada laga BRI Liga 1 di Indomilk Arena, Minggu (29/8/2021). (Foto: Bola.com/M iqbal Ichsan)
Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, memberikan arahan kepada anak asuhnya saat melawan Persiraja Banda Aceh pada laga BRI Liga 1 di Indomilk Arena, Minggu (29/8/2021). (Foto: Bola.com/M iqbal Ichsan)

Nama terakhir asal Britania Raya adalah sosok pelatih Bhayangkara FC saat ini, Paul Munster. Ia hadir di Indonesia untuk meneruskan tugas Angel Alfredo Vera sebagai pelatih kepala sejak pertengahan musim 2019.

Permainan The Guardians, julukan Bhayangkara FC melonjak drastis saat mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Pemain seolah telah memahami keinginannya seperti saat ditangani Simon McMenemy.

Dalam sisa 17 pertandingan, Bhayangkara FC berhasil mengemas tambahan 35 poin hasil dari 10 kemenangan, 5 hasil imbang, dan dua kekalahan. Posisi mereka di klasemen pun melesat hingga posisi keempat.

Penampilan Bhayangkara FC sejauh ini cukup stabil bersama Paul Munster. Pelatih kelahiran Belfast, Inggris, tersebut mampu membawa Evan Dimas dkk. tak terkalahkan dalam tiga laga awal BRI Liga 1 2021/2022.

Selain itu, Paul Munster juga punya rekor mentereng lain dibandingkan manajer-manajer ternama di Indonesia. Melihat poin per laga, Paul Munster berhasil mengungguli pelatih beken macam Jacksen F. Tiago, Robert Rene Alberts, hingga Stefano Cugurra sekalipun.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel