Ibadah Haji Butuh Biaya Tak Sedikit, Berikut Tips Kelola Keuangan agar Bisa Terwujud

Merdeka.com - Merdeka.com - Menunaikan ibadah haji bagi umat Islam yang mampu menjadi salah satu Rukun Islam yang wajib dilakukan. Istilah 'mampu' merujuk bahwa ibadah haji membutuhkan persiapan baik dari segi waktu, fisik, dan tentunya adalah finansial.

Biaya perjalanan ibadah haji reguler tahun 2022 berkisar Rp39 juta sampai Rp43 juta. Nilai ini dapat berbeda untuk setiap daerah keberangkatan/embarkasi. Untuk menunaikan ibadah haji, butuh pengelolaan keuangan yang pintar. Lalu, bagaimana tips mempersiapkan keuangan untuk menunaikan ibadah haji? Berikut penjelasannya mengutip laman OJK:

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjadikan ibadah haji sebagai tujuan keuangan. Dengan membuat tujuan keuangan, perencanaan keuangan akan lebih terarah. Dalam perencanaan, perlu menentukan target biaya dan waktu pelaksanaan ibadah haji.

Pilih paket haji yang sesuai dengan kemampuan finansial, untuk informasi paket haji yang tersedia, dapat mencari tahu informasi tersebut melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama terdekat.

Ibadah haji perlu dipersiapkan jauh hari karena memerlukan biaya yang tidak sedikit dan adanya antrean keberangkatan haji. Semakin lama mendaftar haji dengan paket reguler, maka nomor antrean yang didapatkan akan semakin besar.

Misalnya, ada yang mendaftar haji ketika usia 30 tahun, dan mendapat estimasi waktu tunggu selama dua puluh tahun. Artinya, estimasi keberangkatan haji seseorang berusia 50 tahun. Untuk itu akan lebih baik jika mendaftar haji lebih awal.

Setor Dana

Untuk bisa mendapatkan nomor antrean haji, seseorang harus mendaftarkan dan menyetorkan dana awal ke Kementerian Agama. Umumnya dana awal yang harus dibayarkan untuk pendaftaran haji reguler adalah Rp25 juta.

Untuk membantu mengumpulkan biaya pendaftaran haji,dapat memanfaatkan produk keuangan seperti tabungan haji dari perbankan atau program pembiayaan haji dari lembaga jasa keuangan yang terdaftar dan berizin OJK.

Tabungan haji merupakan program tabungan atau simpanan yang ditujukan untuk Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Tabungan haji memiliki beberapa manfaat seperti membangun konsistensi menabung sejumlah dana tertentu secara rutin sampai jangka waktu yang telah ditentukan.

Selain itu dana akan disimpan di rekening, sehingga lebih aman dan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dan yang terpenting adalah terdaftar di Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Kementerian Agama RI sehingga orang sudah bisa mendaftar untuk mendapat nomor antrean (porsi) haji jika jumlah tabungan sudah mencukupi biaya pendaftaran.

Sedangkan pembiayaan haji artinya seseorang mengajukan pinjaman dana untuk mendaftar haji sehingga bisa mendapatkan porsi ibadah haji. Pembiayaan haji dengan agunan dapat dimanfaatkan melalui Kredit Multiguna Bank, sedangkan pembiayaan tanpa agunan dapat dimanfaatkan melalui perusahaan pembiayaan. Adapula pembiayaan dari pergadaian dengan agunan berupa emas.

Investasi

Selain memanfaatkan produk tabungan dan pembiayaan, juga bisa dengan menempatkan sejumlah uang pada produk investasi lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Selanjutnya, apabila dana dan keuntungan yang terkumpul mencukupi biaya pendaftaran haji segera mendaftarkan diri ke Kementerian Agama.

Perjalanan mengumpulkan dana haji tidak berhenti ketika telah mendaftar haji dan mendapat nomor porsi haji, setelah itu masih perlu melunasi biaya haji sesuai dengan paket haji yang dipilih. Biaya yang perlu dibayarkan adalah selisih antara biaya embarkasi haji dengan biaya yang telah disetorkan pada saat mendaftar haji.

Biasanya, pendaftar memiliki waktu untuk melunasi biaya ini sampai dengan waktu keberangkatan haji. Artinya jika seseorang mendapat estimasi selama 20 tahun, maka memiliki waktu 20 tahun untuk melunasi biaya perjalanan haji yang tersisa. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel