Ibas Sebut Failed Nation, Kehadirannya Jarang Rapat DPR Disorot

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pernyataan Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) tentang "jangan sampai negara disebut failed nation” ditanggapi oleh politikus muda PDI Perjuangan Wanto Sugito. Wanto yang juga Ketua DPC PDIP Kota Tangerang Selatan, menilai Ibas justru menunjukkan sangat tidak mampu meredam situasi darurat di tengah situasi pandemi COVID-19.

Justru kata Wanto, pernyataan Ibas hanya akan memperkeruh dan menyakiti hati para tenaga kesehatan yang sudah kerja keras banting tulang mengobati para pasien COVID-19.

“Lebih baik Ibas perhatikan saja Demokrat agar tidak jadi partai gagal failed party. Soalnya gejala menjadi partai gagal sudah di depan mata. Cari cara saja agar lolos PT di 2024. Atau yang failed itu pemikiran Ibas. Mungkin akibat pengaruh yang membuat pikirannya tidak lagi jernih,” ujar Wanto Sugito, dalam pesannya kepada wartawan, Jumat, 9 Juli 2021.

Mantan aktivis 98 ini juga menilai pernyataan Ibas terkait failed nation yang dikaitkan dengan menangani pandemi pun tidak sesuai konteks. Ia pun mempertanyakan pernyataan putra bungsu Susilo Bambang Yudhoyono ini yang sering tidak substansial dalam berbagai komentarnya ke publik.

Di sisi lain, pria yang akrab disapa Klutuk itu pula mempertanyakan kinerja Ibas di Parlemen. Tidak perlu jauh- jauh, kata dia, hal itu bisa dilihat lewat tingkat kehadirannya di DPR sebagai wakil rakyat.

"Tolong itu cek kehadirannya di DPR khususnya di Komisi VI. Teman sejawatnya di DPR saja pada mengatakan jarang rapat. Itukah wakil rakyat yang mau dicontoh," kata Wanto.

Wanto Sugito sangat memahami, negara demokrasi memang tidak harus alergi kritik. Namun apa pun yang harus disampaikan sepatutnya substansial dan konstruktif.

“Jadi, tidak malu-maluin. Koreksi ke diri sendiri dulu. Dan jika dikritik balik, jangan senewen,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, selain menyebut 'failed nation', Ibas turut mengkritik penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia yang dia anggap belum memperlihatkan hasil membaik.

"Keluarga kita, sahabat kita dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini? Jangan sampai negara kita disebut sebagai failed nation atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," kata Ibas kepada wartawan, Rabu, 7 Juli 2021

Pemerintah, menurut Ibas, terlihat tidak berdaya menangani pandemi COVID-19 yang sudah memasuki tahun kedua. Kurangnya tabung oksigen, kata dia, menunjukkan antisipasi yang lemah dari Pemerintah.

"Bagaimana mungkin tabung oksigen disumbangkan ke negara lain, tapi saat rakyat sendiri membutuhkan, barangnya susah didapat.”

Kasus tabung oksigen ini disebutkannya merupakan preseden buruk yang memperlihatkan bahwa pemerintah seolah-olah kurang sigap mempersiapkan kebutuhan untuk menjawab gejala-gejala yang muncul sebelumnya.

Dia mengingatkan, pandemi COVID-19 telah memasuki tahun kedua dan karena itu dampak-dampaknya mestinya sudah dapat diantisipasi, terutam yang berhubungan dengan kebutuhan medis.

Ibas juga meminta pemerintah bersikap tegas mengambil keputusan soal vaksin. Jika vaksin yang sebelumnya tidak cukup manjur, Ibas meminta pemerintah segera menyediakan vaksin yang lebih baik.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel