Ibnu Khajar usai Diperiksa Lagi terkait Kasus ACT: Saya Lelah Maraton 4 Hari

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Khajar bungkam ketika ditanya awak media terkait pemeriksaannya sebagai saksi dugaan penyelewengan dana bantuan korban Lion Air yang diusut Bareskrim Polri. Ibnu sudah empat kali diperiksa polisi.

"Saya lelah. Belum tahu (besok diperiksa lagi atau tidak). Saya istirahat dulu ya, saya lelah ya. Maraton 4 hari (diperiksa)," kata Ibnu usai pemeriksaan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (13/7) malam.

Kuasa hukum Ibnu, Wida juga tak mau berikan komentar terkait pemeriksaan kliennya tersebut. Kasus ini telah naik ke tahap penyidikan sesuai hasil gelar perkara penyidik.

"Ya nanti ya, ada saatnya kami dari kuasa hukum pasti akan kasih keterangan cuma mohon izin untuk tidak hari ini," ujar Wida.

Bahkan, Wida juga irit bicara ketika ditanya isi koper besar yang dibawa Ibnu ketika pemeriksaan siang tadi. Dia hanya membantah kalau koper berwarna abu-abu silver itu berisi pakaian.

"Ya enggak lah, masa pakaian," ujarnya.

Berbeda dengan Ibnu Khajar, Mantan Presiden ACT, Ahyudin mengungkapkan sempat dicecar penyidik berkaitan laporan keuangan ACT.

"Jadi hari ini salah satu yang digencangkan (tanyakan) itu adalah soal laporan keuangan ACT," ujar Ahyudin.

Dia mengklaim bahwa lembaganya tersebut memiliki laporan keuangan yang baik. Dengan menyinggung prestasi ACT yang sudah sejak 2005 sampai 2020 mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Laporan keuangan ACT sejak tahun 2005 sampai 2020 semuanya sudah diaudit dan dapat predikat WTP. Insya Allah ACT menjadi lembaga pionir dalam hal laporan keuangan. Diaudit oleh akuntan publik," ujar dia.

"Artinya kalau diaudit kemudian predikatnya WTP, mana mungkin kantor akuntan audit mau keluarkan hasil predikat dengan predikat WTP kalau ada penyimpangan," tambah dia.

Atas hal itu, Ahyudin meyakini bahwa lembaganya tersebut tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Karena telah menjalani laporan keuangan dengan baik.

"Jadi buat kami insya allah audit ACT oleh kantor akuntan publik dengan predikat WTP sudah merupakan sebuah standar bahwa pengelolaan keuangan ACT itu baik. Tidak ada penyelewengan, tidak ada penyalahgunaan," tutur dia.

Sekedar informasi jika mereka berdua sampai hari ini telah menjalani pemeriksaan untuk keempat kalinya, sejak pemanggilan perdana pada Jumat (8/7) lalu. Dimana mereka berdua juga diperiksa dengan masih status sebagai saksi.

Sebelumnya, Bareskrim Polri menaikkan status kasus dugaan penyelewengan dana bantuan korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang melibatkan yayasan amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari penyelidikan ke penyidikan.

"Update kasus penyelewengan dana Yayasan ACT. Perkara ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan dalam keterangannya, Senin, (11/7).

Meski telah dinaikan ke tahap penyidikan yang artinya telah memiliki bukti permulaan tindak pidana yang cukup, namun pihak kepolisian belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut.

Adapun peningkatan status kasus ini ke penyidikan berdasarkan hasil gelar perkara. Penyelidik meyakini ada pelanggaran tindak pidana dalam kasus dugaan penyelewengan dana ini.

Bareskrim Polri tengah mendalami aliran dana terkait penyidik juga akan melibatkan tim audit guna melacak sumber keuangan ACT yang diterima pihak Boeing kepada 68 orang korban ahli waris kecelakaan Lion Air JT-610.

Pengelolaan dana CSR kepada 68 ahli waris korban kecelakaan Pesawat Lion Air Boeing JT610 yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 2018 senilai Rp2 miliar lebih untuk tiap korbannya dengan total Rp138 miliar. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel