Ibu-ibu Kobar Waioti Mengamuk di DPRD Sikka

Laporan Wartawan Pos Kupang, Aris Ninu

TRIBUNNEWS.COM, MAUMERE-- Ibu-ibu korban (Kobar) Pantai Waioti mengamuk saat datang ke DPRD Sikka, Rabu (14/11/2012) siang. Ini dilakukan lantaran uang Rp 14 juta yang pernah dijanjikan kepada mereka hingga saat ini belum dipenuhi.

Aksi ini bukan yang pertama kalinya dilakukan ibu-ibu kobar Pantai Waioti. Tanggal 25 Oktober 2012 lalu, mereka juga mengamuk di Kantor Kelurahan Waioti. Mereka meminta penjelasan Lurah Waioti, Yohanes Nong Silvester, yang pernah menemui warga dan meminta warga menandatangani pernyataan berisi adanya bantuan uang Rp 14 juta. Ibu-ibu protes karena janji uang Rp 14 juta tidak direalisasikan. Mereka merasa tertipu setelah menandatangani surat bermeterai Rp 6.000.

Disaksikan Pos Kupang, Rabu (14/11/2012) siang, ibu-ibu kobar datang ke DPRD Sikka difasilitasi LMND Maumere, Yohanes Kia Nunang.

Tiba di DPRD Sikka mereka berteriak meminta agar bisa bertemu pimpinan DPRD Sikka. Namun karena sedang rapat di ruangan utama, ibu-ibu kobar diminta ke ruangan Komisi B DPRD Sikka.

Lantaran menunggu anggota DPRD Sikka yang belum menemui mereka, ibu-ibu kobar kembali beraksi dengan suara keras meminta DPRD Sikka bersikap tegas terhadap ulah aparatur pemerintah Kelurahan Waioti.

"Kami sudah tanda tangan surat bermeterai Rp 6.000. Awalnya katanya mau kasih uang Rp 15 juta, lalu turun Rp 14 juta. Kami sudah tanda tangan tapi uang tidak ada. Lurah Waioti yang antar surat itu kepada kami malam-malam. Surat itu kami tanda tangan malam hari macam kami ini bukan warga NKRI saja. Kami minta sekarang surat itu dikembalikan dan tidak usah bantu kami lagi. Masa bangun turap sepotong-potong kenapa tidak bangun semua. Sekarang ini kami jadi korban. Kalau pemerintah mau pindahkan kami kenapa tidak siapkan lahan. Masa janji uang Rp 14 juta mana cukup buat rumah dan beli tanah," kata Maria Marianis, warga kobar  di Kantor DPRD Sikka, Rabu (14/11/2012) siang.

Ia mengatakan, sejak ada janji bantuan uang Rp 14 juta dari pemerintah yang akan diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka, warga terus menunggu janji sang lurah. Tetapi bantuan uang itu tidak datang.
"Karena itu kami minta lurah beri penjelasan," kata Maria.

Warga lain yang ditemui, yakni Maria Magdalena Koban, Maria Sabanina, Trin Die dan Martin Aplugi,  mengaku kesal dengan janji Lurah Waioti. "Kami tunggu uang itu sejak Mei 2012 lalu tapi tidak ada. Dari kelurahan bilang ke BPBD Sikka. Biar jelas kami ke DPRD Sikka agar Dewan bisa tahu," kata Magdalena Koban.

Ibu-ibu kobar diterima tiga anggota DPRD Sikka, Hubert Moni, Stef Say dan Marsel Sawa. Saat itu warga kobar yang didominasi kaum ibu memberikan curahan hati kepada DPRD Sikka atas janji pemberian uang Rp 14 juta.

Mereka meminta kalau uang itu tidak ada maka surat yang ditandatangani di atas meterai itu dikembalikan kepada warga.
"Kami sudah capek omong tentang masalah abrasi di Waioti. Lurah Waioti yang datang ke rumah warga dan sampaikan kalau uang itu adalah hak bapak dan mama. Kenapa sekarang tidak bantu kami. Warga didatangi malam hari macam warga itu pencuri lalu bantuan itu tidak ada setelah warga menandatangani surat di atas meterai," kata Damisius Damaskus, Ketua Forum Masyarakat Kobar Waioti saat berada di ruangan Komisi C DPRD Sikka. *

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.