Ibu Ini Dianiaya Suami, Tiga Anak Terlantar Hidup di Tenda

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI -
Sonni Anna seorang PNS yang bekerja di BPN2TKI melapor ke SPK Polres Bekasi Kota, Minggu (2/12/2012) lantaran dirinya mengalami penganiayaan dan anaknya diambil paksa oleh sang suami, AZM yang saat ini masih dalam proses perceraian yang menggantung selama 2,5 tahun di Pengadilan Agama Bekasi.

"Tadi pukul 10.30 wib, anak saya diambil paksa oleh bapaknya. Saat pengambilan itu, ada oknum tentara," ucap Anna saat dihubungi Tribunnews.com.

Anna mengatakan lantaran harus melindungi anaknya, Anna juga mendapatkan penganiayaan dari sang suami. Akibatnya Anna mengalami luka.

"Saya akan melaporkan kasus penganiayaan dan pengambilan paksa ini ke Polres Bekasi Kota. Namun saat ini saya sedang membuat visum dulu di RS," ungkap Anna.

Sebelumnya, Anna dan dua anaknya Jumat (30/11/2012) siang mendatangi SPK Polda Metro Jaya untuk membuat laporan.

"Saya melaporkan suami saya, AZM, dalam nomor laporan TBL/4109/XI/2012/PMJ/Dit Reskrimum. Laporannya terkait kekerasan psikis dalam rumah tangga pada 23 Mei 2010 di rumah kami di jl kampung pengasinan rt 04/01 no 12 rawa lumbu bekasi," ungkap Anna.

Perjuangan belum berakhir, Sonni Anna seorang PNS yang bekerja di BPN2TKI masih terus memperjuangkan hak tiga orang anaknya dan proses perceraian antara dirinya dengan sang suami AZM yang sudah dua setengah tahun tak kunjung selesai di Pengadilan Agama Bekasi segera selesai dan ada putusan.

Anna mengungkapkan seminggu terakhir ini ia bersama dengan ketiga anaknya yakni JM (15), KD (7) dan MU (4) harus tinggal di tenda di depan rumahnya sendiri di Pengasinan, Bekasi Timur.

"Ya kami terpaksa tinggal disana, sebelumnya kami sempat ngontrak tapi kontrakan sudah habis, suami saya juga tidak mau membayar kontrakan jadi mau tidak mau saya dan anak-anak tinggal di tenda di teras rumah kami. Dua anak saya tidur di pintu masuk teras," tutur Anna saat ditemui usai membuat laporan.

Anna mengatakan kasus KDRT yang sama juga sempat dilaporkan Anna ke Polsek Bekasi Timur dengan nomor laporan 402/K/V/2010 sek Bekasi Timur tertanggal 24 Mei 2010 pukul 02.18 wib.

KDRT awal bermula saat Anna dan suaminya yang bekerja sebagai PNS di Disnakertrans berdebat omongan dan saling sindir mengenai masalah kejelekan sifat masing-masing. Karena saling membenarkan dan bersikeras lalu suami Anna emosi, Anna diberi bogeman mentah di mulut, dan kepalanya dibenturkan ke tembok.

"Awalnya dari laporan KDRT itu, lalu kami sepakat bercerai. Namun bercerai masih dalam proses, suami saya menikah lagi. 2,5 tahun saya terkatung cari keadilan. Istri simpanan suami saya itu tinggal di rumah kami," ucap Anna.

Anna menuturkan dirinya menikah dengan suaminya pada 2000 lalu, kemudian terjadi KDRT di tahun 2010. Sampai akhirnya sang suami menikah lagi dan hidup Anna serta tiga anaknya terkatung-katung terus berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Dan seminggu ini harus tinggal beralaskan tikar, berdinding triplek seadanya di rumah mereka sendiri lantaran tidak diizinkan masuk oleh sang suami.

"Saya hanya ingin proses perceraian segera selesai. Dan anak saya dapat keadilan, ayo didik anak sama-sama. Cerai baik-baik. Karena kejadian ini anak kedua saya sampai tidak ingin bertemu bapaknya, pada Mei 2010, dia dicubit bapaknya di paha sampai biru memar dan tidak mau sekolah. Kalau anak ketiga saya tidak kenal siapa bapaknya," jelas Anna.

Lebih lanjut, menanggapi adanya laporan tersebut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan pihaknya sudah menerima adanya laporan tersebut dan akan memprosesnya.

"Laporan sudah kami terima, nanti selanjutkan akan melayangkan panggilan pada saksi pelapor, memeriksa saksi pelapor, barang bukti dan saksi lainnya. Baru terakhir terlapor dipanggil untuk diperiksa," tegas Rikwanto.

Rikwanto menambahkan jika memang terbukti melakukan Kekerasan Psikis dalam rumah tangga, terlapor bisa dikenakan pasal 45 UU RI th. 2004 tentang  Penghapusan KDRT.

Baca Artikel Menarik Lainnya

  • RUU Ormas Potensial Legalkan Politik Mendikte Penegakan Hukum 11 menit lalu
  • Napi di Kalianda Gunakan Narkoba di Dalam Penjara 26 menit lalu
  • Hobi
    Mau Gabung dengan HeLi, Komunitas Penggemar Landak Mini? 28 menit lalu
  • Perlindungan Hak-hak Pekerja Outsourcing Belum Dijamin 39 menit lalu
  • Keluarga Terpidana Penipuan Rp 110 M Angkat Bicara 43 menit lalu
  • Keluarkan Tahanan dari Sel, Bripka DS Terancam 5 Tahun Penjara 48 menit lalu
  • Pemilihan Gubernur Sulsel
    Perangi Korupsi dan Narkoba, Kotak-KotakNa Sebar Atribut 53 menit lalu
  • Hobi
    Burung Ini Ukurannya Kecil, Tapi Bisa Jadi Obat Antigalau 54 menit lalu
  • Pemilihan Gubernur Sulsel
    Ilham Tahu Programnya Dicontek Kandidat Lain 59 men

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.