Ibu Mertua Punya Kehangatan Cinta yang Ternyata Menenangkan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Nony Erau Nurtia

Bagiku sejak awal dia bukan orang yang memikat, karena aku sudah lebih dulu mengenalnya sebagai teman dan tidak pernah ada ketertarikan yang aku rasakan, mungkin karena saat itu ia adalah pacar sahabatku. Namun waktu berlalu, entah bagaimana kami dipertemukan kembali dalam keadaan yang haus perhatian dan masih sendiri.

Saat masing-masing kami saling butuh sandaran dan terjebak pada kisah yang sama, hingga akhirnya merasakan kenyamanan, kami pun sepakat mengenal lebih dekat. Walau telah mengenalnya sejak masa SMA, namun kisah kami dimulai saat aku kuliah.

Aku masih ingat momen pertama kali diperkenalkan kepada keluarganya. Satu jam yang terasa menegangkan, duduk berbincang dengan seorang ibu yang kini adalah mertuaku. Aku ditanya banyak hal seperti beliau ingin menilai segala aspek hidupku. Tanpa basa-basi beliau bertanya tentang latar belakang orang tua, perkuliahan, kesibukan, tempat tinggal, asal, suku dan sebagainya. Sampai entah kali ke berapa bertemu aku masih merasa takut.

Ibunya bukan tipikal yang ramah seperti harapanku, sisi tegasnya lebih menonjol dan membuatku ketar-ketir. Bukan pula seorang yang tidak peduli, justru diam-diam ia menilai setiap gelagatku dari ujung kepala hingga kaki.

Cinta Ibu Mertua

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Selang waktu berlalu, hari itu untuk pertama kali aku merasakan kehangatan yang tidak biasa dari seorang ibu. Ibunya tiba-tiba mengadu dan menangis karena hatinya sedih. Ternyata sedang terjadi keributan antara beliau dan anaknya. Berkali-kali ia berkata mereka (anak-anaknya) belum tahu rasanya kehilangan ibu, bagaimana harusnya mereka belajar dari seorang aku yang telah ditinggal ibu bahkan jauh dari ayah.

Dari matanya dia seperti mengisyaratkan aku adalah anak yang akan memahami perasaannya. Ternyata beliau menaruh sayang padaku, melihatku dengan kasih. Aku tidak berkata-kata tapi hanya memeluknya dan mengucap sabar. Pertama kalinya aku melihat sosok tegas menjadi sangat pilu, beliau mengadu padaku, melepas rasa sedihnya.

Sejak itu aku merasa dia bukan ibu pacarku, tapi dia seperti ibuku. Rasa sayangku tumbuh padanya menjadi penguat setiap kerikil yang menerpa perjalanan kisahku dan anaknya. Ada sosok yang selalu berpihak padaku, ibunya yang selalu membela dan mengkhawatirkanku menjadi salah satu alasan aku ingin menjadi menantunya.

Hingga lima tahun setelah itu akhirnya kami disatukan dalam pernikahan, tak pernah sekali pun beliau membiarkan anaknya menyakitiku, dan tak kubiarkan pula siapa pun menyakitinya. Bukankah bakti utama anak lelaki adalah ibunya? Maka cinta beliau adalah kekuatanku.

#ElevateWomen