Ibu Mi'ah, Tukang Urut Keliling

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Namanya Ibu Mi'ah. Belum terlalu sepuh jika dihitung dari umurnya. Baru berusia 48 tahun. Punya beberapa orang anak. Yang sulung berusia 21 tahun.

Wanita berjilbab dan berbicara lemah lembut kelahiran Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini menjalani hidup dengan profesi langka. Yakni tukang urut keliling.

Bukan hanya mengurut tetangga dan warga sekitar tempat tinggalnya di kawasan Paseban Timur, Rawasari, Jakarta Pusat.

Tapi ibu Mi'ah juga sering dapat panggilan keluar kota Jakarta. Misalnya ke seputaran Jabodetabek: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Meskipun berprofesi sebagai spesialis mengurut, ibu Mi'ah membatasi "pasiennya" dari kalangan wanita dewasa, anak kecil lelaki-perempuan, dan ibu yang baru melahirkan.

Keluarga kami mengenal ibu Mi'ah dan menjadi pelanggannya, juga karena kebetulan. Tiba-tiba cucu kami seharian rewel, gak mau makan dan mengeluh sakit.

Lalu ibunya panik. Nenek dan kakek si cucu pun datang dan menyarankan agar diurut saja. Alamat dan nomor handphone ibu Mi'ah pun diperoleh dari teman sekolah TK.

Selain sering mengurut anak TK, wanita dewasa, ibu Mi'ah juga sudah jadi langganan tetap beberapa guru sekolah TK.

Mengurut dan Berdoa

Penasaran melihatnya mengurut anak kecil, diam-diam saya perhatikan proses persiapannya dalam menjalankan "tugas" profesinya sebagai tukang urut.

Mula-mula ibu Mi'ah minta disiapkan bawang putih, bawang merah, minyak sayur, dan minyak tawon. Keempat bahan "obat" ini kemudian diracik di atas alas wadah dari tatakan gelas.

Lalu ke semua bahan "ramuan" inilah kemudian dioleskan ke seluruh badan pasien sambil diurut. Dari punggung, kedua lengan, kedua kaki, paha, betis, perut, dada, hingga punggung.

Selesai mengurut pasiennya, ibu Mi'ah meminta segelas air putih untuk diminum si anak dan dibasuh ke muka si anak. Sebelumnya, air tersebut saya lihat "dijampi-jampi" sambil membacakan ayat-ayat Alquran.

Alhamdulillah, selesai menjalani prosesi ritual mengurut ini, cucu saya pun langsung tenang, bahkan bisa tertidur pulas. Sudah enak makan dan tidak rewel lagi.

Dari pengakuan ibu Mi'ah, saya baru tahu kalau "ilmu" urut-mengurut ini adalah warisan yang diturunkan dari ibunya -- yang juga berprofesi tak jauh beda dengan ibu Mi'ah. Yakni dukun beranak.

Tarif Sekali Mengurut

Tarif sekali mengurut, disesuaikan dengan jarak dan dari jauh-dekat rumah pelanggannya. Meski kalau menerima panggilan, dia lebih banyak diantar-jemput oleh keluarga pasiennya.

Jadi berapa nih tarifnya ibu Mi'ah? "Ya seikhlasnya, Pak," katanya kepada saya ketika diminta mengurut cucu di Salemba, yang lagi rewel karena kurang enak badan.

Saya melihat anak menantu saya, ibu si cucu, menyelipkan lembaran uang kertas Rp50 ribu kepada ibu Mi'ah, sesaat sebelumnya mengantarnya pulang.

"Saya pamit dulu Pak. Habis sholat Dhuhur masih mau mengurut lagi orang yang habis melahirkan. Air susunya gak keluar. Kasihan bayinya," kata ibu Mi'ah, di atas sadel motor anak menantu yang siap berangkat (Nur Terbit).