Ibu perlu bekal pengetahuan tentang ASI lewat kontak dengan konselor

Dokter spesialis anak dan konselor laktasi dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A, IBCLC, CIMI menjelaskan bahwa ibu hamil harus mendapatkan pengetahuan mengenai ASI dengan mengikuti anjuran tujuh kali kontak dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi mulai dari sebelum hingga setelah masa persalinan.

Baca juga: IDAI minta Pemerintah segera buat aturan terkait donor ASI

“Kapan seorang ibu hamil harus mendapat pengetahuan tentang ASI? Ada tujuh kontak ASI untuk konselor laktasi yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kunjungan pertama perlu dilakukan pada saat ibu hamil memasuki trimester kedua. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalkan kecemasan pada ibu, terutama mempersiapkan respon apabila terjadi peristiwa terburuk seperti kelahiran sebelum waktunya.

“Di saat itu (kelahiran prematur), ibu pasti stres karena merasa bersalah. Tapi kalau dia sudah pernah ikut satu kali edukasi pada saat ANC, tentunya dia tahu (sudah dapat pengetahuan). Produksi ASI sudah ada sejak kehamilan 16 minggu, berarti pada saat 7-8 bulan itu (kalau kelahiran prematur) kekhawatiran ibu bisa agak dikurangi,” kata Jeanne-Roos.

Baca juga: Kementerian Kesehatan imbau setiap perusahaan sediakan ruang laktasi

“Kalau tenaga kesehatan memulai dengan kehamilan trimester ketiga, bagaimana mereka yang lahir pada trimester kedua? Itu sebabnya dari Kemenkes tetap menyarankan pada saat trimester kedua sebaiknya sudah satu kali ikut,” imbuhnya.

Selanjutnya, kontak kedua dilakukan pada saat trimester ketiga dilanjutkan kontak ketiga saat bayi dilahirkan. Kontak dengan konselor masih diperlukan setelah proses kelahiran, yaitu kontak keempat saat hari pertama/kedua/ketiga, dan selama masih dirawat di fasilitas kesehatan; kontak kelima saat datang untuk kontrol pertama; kontak keenam saat bayi memasuki usia satu bulan; serta kontak ketujuh saat bayu berusia 2-3 bulan.

Jeanne-Roos menjelaskan setiap kunjungan atau kontak dengan konselor tersebut akan membahas dan mendiskusikan berbagai permasalahan terkait dengan pemberian ASI pada bayi, mulai dari memahami pentingnya memiliki dukungan dari lingkungan terdekat (support system), mempelajari bagaimana posisi dan pelekatan bayi pada payudara yang tepat, apa yang perlu dilakukan ibu jika menemui masalah misalnya ASI dianggap belum keluar, cara memerah ASI, dan seterusnya.

Baca juga: ASI ibu tak cukup penuhi kebutuhan bayi hanyalah mitos

“Itu semua perlu edukasi, perlu dukungan dari tenaga kesehatan, diajarkan semua. Rumah sakit kami kebetulan mengajarkan,” kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah itu.

Yang menjadi masalah, menurut Jeanne-Roos, masih banyak layanan kesehatan seperti Puskesmas yang belum menyediakan konselor laktasi. Namun kondisi tersebut tak perlu dikhawatirkan lebih lanjut, kata Jeanne-Roos, sebab saat ini Kemenkes dan UNICEF tengah mengupayakan memberikan pelatihan pada konselor tingkat Puskesmas.

“Memang konselor itu sekarang sangat dibutuhkan. Tindak lanjutnya sudah ada (dari Kemenkes), jadi kita tunggu saja. Mudah-mudahan nanti semua (di setiap) Puskesmas di Indonesia ada satu konselor untuk membantu ibu menyusui,” katanya.


Baca juga: Menkes minta dunia usaha buatkan ruang laktasi

Baca juga: Dokter: Dukungan orang terdekat tentukan keberhasilan ibu menyusui

Baca juga: Berapa lama ASI tahan disimpan di kulkas?

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel