Ibu, Rinduku Padamu Ini Berat tapi Aku Tetap Berjuang untuk Kuat

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Priskila Prima Makmur

"Norma, ada apa kok sedih gitu wajahnya?" ibuku bertanya saat melihat wajahku cembetut sambil mengarahkan mata ke televisi. "Cerita dong ke Ibu," desak ibuku. Aku menceritakan kelelahanku di bawah tekanan dalam pekerjaan, dan uang yang menipis untuk membayar kuliah. Ibuku meminta maaf karena tidak bisa membantu biaya, karena ibu hanya ibu rumah tangga, hanya bisa membantu dengan doa.

Pada suatu malam aku terbangun karena digigt nyamuk, aku lihat di kamar, ibu sedang mengangkat tangan dengan menggunakan mukena, terdengar suara lirih, memohon kemudahan atas segala urusanku, terdengar pula tangisnya yang tersedu, seolah-olah, sakit yang aku rasakan. Jauh lebih sakit yang beliau rasakan saat mengetahui anaknya sakit.

Aku rindu dipeluk olehmu, Bu, saat aku ada masalah. Aku rindu didoakan atas segala masalah dalam hidupku. Aku rindu ada seorang wanita yang penuh kasih sayang berdiri di depan pintu dengan membawa handuk, menyambut aku yang pulang kerja basah karena kehujanan.

Pada hari itu, pagi itu, kau masih tersenyum kepadaku, kau masih membawakan bekal sarapan yang ditaruh di motorku. Tapi siang itu pula, kau sudah tidak bersuara, tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutmu. Tak ada senyum pula. Hanya ada tubuh yang terbujur kaku, wajah pucat pasi. Apakah tidak ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan, Bu? Untuk anak manjamu ini?

Rindu Ibu

Bersama ibu./Copyright Priskila Prima Makmur
Bersama ibu./Copyright Priskila Prima Makmur

Tujuh tahun telah berlalu, beribu-rindu telah kupendam, berjuta air mata telah aku teteskan setiap mengingatmu. Aku rindu belaianmu, aku rindu kasih sayangmu, aku harap suatu saat nanti Allah akan mengizinkanku bertemu denganmu walau sesaat, aku hanya ingin mengucapkan, "Terima kasih, Bu atas segala kasih sayangmu kepadaku yang tanpa batas." Dan aku akan mencuci kakinya lalu meminumnya untuk yang kedua kalinya.

Maafkan aku, Bu. Aku kurang menghiraukanmu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku untuk mengejar cita-citaku. Tanpa aku tahu kau selalu menahan lapar untuk anak-anakmu. Maafkan aku, Bu.

Ibu, banyak hal yang ingin aku sampaikan, segala harapanmu atas doa-doa yang engkau panjatkan untukku dengan menangis lirih kepada Allah, sudah terwujud. Saat ini aku bekerja di posisi yang baik, aku sudah menikah dengan pria yang baik, bahkan aku sudah memiliki dua orang anak yang lucu-lucu. Aku hidup dengan nyaman.

Pasti engkau sangat bahagia bila bisa melihat ini semua. Di setiap sujudku, namamu selalu aku sebut, semoga Allah menyampaikan rinduku padamu ibu. Ibu yang rela mempertaruhkan nyawa untuk anak-anaknya. Sekali lagi terima kasih ibu.

Untuk pembaca tahu, foto di atas adalah foto yang diambil satu bulan sebelum ibuku meninggal. Foto kenang-kenangan terakhir, saat itu aku belum berhijab, tapi ibuku ingin sekali aku berhijab. Malam itu, aku, tiba-tiba ingin sekali berhijab, dan meminta foto dengan ibuku ini.

Salam rindu,

Norma

#ChangeMaker