ICJR Sebut Pemidanaan Jurnalis di Palopo Ancam Kebebasan Pers

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai pemidanaan terhadap seorang jurnalis di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Muhammad Asrul dapat mengancam kebebasan pers di Indonesia.

Asrul divonis tiga bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Palopo pada Selasa, 23 November 2021 kemarin. Dia dianggap telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 27 ayat (3) Juncto Pasal 45 ayat (1) UU ITE.

"Penjatuhan pidana terhadap Muhammad Asrul oleh Majelis Hakim PN Kota Palopo dapat dikatakan keliru. Penjatuhan pidana menggunakan delik pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE dalam kasus tersebut hanya menambah catatan buruk atas penghormatan terhadap kebebasan pers di Indonesia," kata Peneliti ICJR, Susitra Dirga dalam keterangan tulis, Kamis (25/11/2021).

Susitra menyampaikan sengketa pers bukan merupakan tindak pidana sehingga mestinya penyelesaiannya dilakukan melalui Dewan Pers. Dalam Peraturan Dewan Pers Nomor: 01/Peraturan-DP/VII/2017, kasus yang ditangani oleh Kepolisian atau Pengadilan yang dapat mengancam dan membahayakan sendi-sendi kemerdekaan pers dan hak asasi manusia seharusnya ditangani pengaduannya oleh Dewan Pers.

Mendahulukan mekanisme non-pidana juga didukung melalui berbagai preseden dalam putusan Mahkamah Agung, salah satunya Putusan Mahkamah Agung No. 1608K/Pid/2005 yang menyatakan bahwa tindakan penghukuman dalam bentuk pemidanaan tidak mengandung upaya penguatan pers bebas dan malah membahayakan pers. Oleh karena itu tata cara non pidana seperti yang diatur dalam UU Pers harus didahulukan daripada ketentuan hukum lain.

Di samping itu, lanjut Susitra, Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung RI, dan Kepala Kepolisian RI telah menandatangani SKB tentang Pedoman Implementasi Atas Pasal Tertentu Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Dalam SKB tersebut dinyatakan bahwa pemberitaan yang merupakan karya jurnalistik diproses menggunakan UU Pers. Dalam prosesnya, penyelesaian kasus terkait pers perlu melibatkan Dewan Pers.

"Namun, dalam kasus Muhammad Asrul, walaupun telah ada pernyataan dari Dewan Pers bahwa berita tersebut merupakan karya jurnalistik, kasus tetap dilanjutkan sampai ke pengadilan. Hal ini menunjukkan bahwa penegak hukum justru tidak menjalankan ketentuan dalam SKB sebagaimana mestinya," katanya.

Sinyal Menurunnya Iklim Demokrasi

Vonis terhadap Asrul, kata Susitra juga sebagai sinyal kuat dari menurunnya iklim demokrasi di Indonesia. Kondisi buruk demokrasi yang salah satunya dapat terlihat dari terancamnya kebebasan pers menunjukkan bahwa Indonesia memang sedang dalam keadaan memprihatinkan. Penggunaan pidana pada karya jurnalistik juga mencoreng wajah pemerintahan saat ini yang semakin terlihat tidak mampu memastikan hadirnya rasa aman bagi kebebasan pers.

Pihaknya meminta agar Kapolri dan Jaksa Agung segera mengevaluasi petugas yang terlibat dalam kasus ini untuk menunjukkan keseriusan reformasi kelembagaan dan penghormatan pada hak asasi manusia, utamanya terkait kebebasan pers. Mahkamah Agung atau MA juga harus mengevaluasi hakim yang tidak memutus berdasarkan perkembangan hukum yang telah memberikan banyak penekanan pada larangan pemidanaan karya jurnalistik yang dilindungi oleh UU Pers.

"Dalam momentum rencana perubahan UU ITE yang kedua saat ini, ketentuan dalam Pasal 27 ayat (3) maupun pasal lain dalam UU tersebut yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi, mesti dikaji ulang. Pemerintah bersama penegak hukum mesti mengedepankan penghormatan terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi pada umumnya, serta kebebasan pers pada khususnya," tandasnya.

Kasus Muhammad Asrul bermula saat jurnalis itu menerbitkan tiga berita pada Mei 2019 tentang dugaan korupsi di Kota Palopo. Berita yang dibuat tersebut menyeret nama Kepala BPKSDM Palopo, Farid Karim Judas.

Atas terbitnya berita tersebut, Farid Karim Judas melaporkan Asrul ke Polda Sulsel pada 17 Desember 2019. Selanjutnya, pada 29 Januari 2020 dimulai penyidikan atas kasus tersebut dan pada 30 Januari 2020 terbit surat penahanan terhadap Muhammad Asrul.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel