IDAI Khawatir PTM akan Berpotensi Meningkatkan Angka Kasus Baru COVID-19 pada Anak

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta COVID-19 pada anak masih menjadi ketakutan terbesar untuk berbagai pihak. Berdasarkan data laporan kasus COVID-19 pada anak yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pediatrics, sebanyak 37.706 anak telah terkonfirmasi positif tertular COVID-19 ketika pandemi gelombang pertama.

Hal itulah yang menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait pembelajaran tatap muka (PTM) yang saat ini telah memasuki fase uji coba.

TERKAIT: IDAI: Berbagai Syarat Pelaksanaan PTM Harus Dipatuhi agar Anak Tetap Sehat Terbebas dari Covid-19

TERKAIT: Kemendikbudristek Jelaskan Kesalahapahaman Soal Klaster COVID-19 di PTM Terbatas

TERKAIT: Muncul Klaster Sekolah, 15.456 Ribu Siswa Positif Covid-19 selama PTM Terbatas

Anak sangat berpotensi tertular COVID-19 dan jumlah kasusnya pun cukup banyak. Dalam hal ini, dr. Yogi Prawira SpA(K) dari IDAI mengungkapkan bahwa data-data tersebut harus disepakati bersama demi mencegah terjadinya kasus baru pada anak.

“Itu, kan, datanya diambil dalam rentang Maret-Desember 2020 dengan kondisi anak masih cukup aman di dalam rumah, belum terpapar dunia luar. Kedua, beberapa studi justru menunjukkan kalau transmission rate pada remaja (usia di bawah 12-14 tahun) itu malah bisa lebih efektif,” jelas Yogi, dikutip dari Liputan6.com, Selasa (28/9).

Ia menambahkan bahwa gejala COVID-19 yang muncul pada anak cenderung ringan, tetapi konsentrasi virusnya tetap tinggi di saluran pernapasan dan tetap berisiko tinggi dalam penularannya.

Berisiko Terpapar Lewat Transmisi Lokal

PTM Berpotensi timbulkan kasus baru COVID-19 pada anak. (pexels/tima miroshnichenko).
PTM Berpotensi timbulkan kasus baru COVID-19 pada anak. (pexels/tima miroshnichenko).

Yogi menjelaskan, PTM akan membuat anak berisiko tinggi terpapar COVID-19 lewat transmisi lokal ketika perjalanan berangkat ke sekolah.

“Bayangkan kalau anak berangkat ke sekolah dengan transmisi lokal di daerah situ masih belum terkendali, sehingga masih ada risiko dia terpapar, dan ia berpotensi menularkan orang rumah karena ia membawa virus itu dari luar ke rumah,” ujar Yogi.

Kondisi tersebut berpotensi diperparah dengan kondisi masyarakat Indonesia yang masih tinggal dengan tiga generasi dalam satu rumah.

“Nanti orangtuanya tertular, kakek neneknya tertular. Bisa menjadi masalah baru,” tambahnya.

Salah Kaprah COVID-19 Pada Anak

PTM Berpotensi timbulkan kasus baru COVID-19 pada anak. credit via Shutterstock.com
PTM Berpotensi timbulkan kasus baru COVID-19 pada anak. credit via Shutterstock.com

Masih banyak masyarakat yang salah kaprah terkait COVID-19 pada anak. Padahal sebenarnya, masih banyak hal yang belum dipahami, salah satunya tentang long covid.

Banyak orang berpikir bahwa jika anak terkena COVID-19 akan aman-aman saja dikarenakan anak-anak tidak memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Padahal, efek samping dari COVID-19 pada anak ini sama bahayanya dengan orang-orang dengan penyakit komorbid.

Long covid ini dilaporkan awalnya pada dewasa, kemudian pada anak, dan saat ini penelitian mengenai long covid-19 pada anak masih dilakukan,” kata Yogi.

Meski anak-anak terpapar gejala ringan atau sedang, efek dari long covid tersebut belum dapat diketahui dengan jelas akan bertahan seberapa lama pada anak. Sehingga, orangtua perlu waspada akan risiko COVID-19 pada anak, terutama di masa uji coba PTM saat ini.

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel