Identitas Tersangka Penikaman di Nice Prancis Terungkap

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Nice- Identitas pelaku penikaman di Kota Nice di Prancis telah terungkap.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (30/1/2020) sebuah sumber resmi mengatakan kepada AFP bahwa tersangka merupakan seorang pria asal Tunisia berusia 21 tahun yang baru tiba di Prancis pada awal Oktober 2020.

Pria tersebut diketahui datang ke Eropa dengan kapal migran melalui pulau Lampedusa di Italia pada akhir September 2020, menurut sumber tersebut.

Ketika ditangkap, tersangka mengungkapnya namanya sebagai Brahim Aouissaoui.

Insiden penikaman itu terjadi pukul 8.29 pagi waktu Prancis, ketika seorang pria dengan pisau berukuran 30 cm mulai menyerang orang-orang yang sedang berdoa di dalam Basilika Notre-Dame di tengah Kota Nice, Prancis.

Penikaman di Nice Tewaskan 3 Korban

Suasana jalan Norvins di Montmartre di distrik 18 Paris, selama penerapan jam malam, Jumat (23/10/2020). Prancis memperpanjang jam malam untuk sembilan kota yang menjadikan sebanyak 46 juta orang harus berada di rumah mulai pukul 21.00-06.00 guna mencegah meluasnya virus corona. (Valery HACHE/AFP)
Suasana jalan Norvins di Montmartre di distrik 18 Paris, selama penerapan jam malam, Jumat (23/10/2020). Prancis memperpanjang jam malam untuk sembilan kota yang menjadikan sebanyak 46 juta orang harus berada di rumah mulai pukul 21.00-06.00 guna mencegah meluasnya virus corona. (Valery HACHE/AFP)

Salah satu dari tiga korban yang tewas, adalah seorang perempuan berusia 60 tahun yang tewas di dalam gereja dengan luka gorokan di bagian lehernya.

Sementara korban kedua adalah seorang pria yang merupakan seorang pegawai gereja berusia 45 tahun.

Adapun korban lainnya, yakni seorang perempuan berusia 44 tahun yang melarikan diri dari gereja ke restoran terdekat.

Namun sayangnya, nyawa perempuan tersebut tidak berhasil diselamatkan karena beberapa luka tusukan yang dialaminya.

Tersangka kemudian ditembak oleh polisi dan mengalami luka, saat mereka tiba dengan cepat di lokasi insiden.

Pihak berwenang Prancis menganggap insiden itu sebagai serangan teroris, dengan jaksa anti-teroris yang segera membuka penyelidikan atas "pembunuhan dan percobaan pembunuhan yang terkait dengan serangan teroris".

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut insiden itu sebagai "serangan teroris Islam".

Pembunuhan itu terjadi hanya dua pekan setelah seorang guru sejarah di Prancis tewas dipenggal di wilayah utara Paris.

Saksikan Video Berikut Ini: