IDI: Pandemi Masih Jauh dari Kata Selesai

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai pandemi Covid-19 belum selesai. Hal itu menyusul ditemukan peningkatan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di dunia.

"Pandemi masih jauh dari selesai," kata Satgas Waspada dan Siaga Covid-19 PB IDI Erlina Burhan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/6).

Erlina mengatakan virus terus bermutasi. Omicron BA.2 masih dominan namun ada peningkatan kasus BA.4 dan BA.5 serta terjadi peningkatan kasus di seluruh dunia.

Untuk itu, Erlina menekankan pentingnya melakukan perlindungan diri untuk mengurangi penyebaran virus dengan menjaga dan memakai masker. Serta melakukan Testing, Tracing dan Treatment atau 3T.

"Vaksin tetap efektif mengurangi tingkat rawat inap dan kematian," kata Erlina.

20 Pasien Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia Sudah Sembuh

Kemenkes sebelumnya menyatakan 20 pasien terkonfirmasi positif subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia telah seluruhnya dinyatakan sembuh secara medis. Seluruh pasien mengalami gejala ringan.

"Seluruhnya mengalami gejala ringan, kecuali satu orang pasien perempuan umur 20 tahun di Jakarta ada keluhan sesak napas, sehingga masuk kategori sakit sedang," kata Jubir Kemenkes Mohammad Syahril dalam dialog "Awas, Omicron kembali mengintai Indonesia" yang disiarkan secara virtual dan diikuti dari YouTube FMB9 di Jakarta, Kamis (16/6).

Dia mengatakan, sampai dengan 14 Juni 2022 total kasus BA.4 dan BA.5 yang telah diidentifikasi mencapai 20 kasus, terdiri atas dua kasus BA.4 dan 18 kasus BA.5.

Berdasarkan domisili, kata Syahril, tiga warga negara asing (WNA) berada di Bali dan sisanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) masing-masing di Banten satu orang, Jakarta empat orang, Jawa Barat 12 orang. Sebagian pasien ada yang belum menerima suntikan dosis booster atau penguat.

"Sebanyak delapan orang adalah pasien laki-laki dan 12 lainnya pasien perempuan.
Yang dirawat inap satu orang dan rawat jalan 19 orang," kata dia.

Pasien Bergejala Ringan

Berdasarkan tingkat keparahannya, kata Syahril, sebanyak 16 bergejala ringan dan empat lainnya tidak bergejala. "Kasus di Jawa Barat merupakan klaster di keluarga sebanyak tiga klaster," ujar dia.

Menurut Syahril, per hari ini seluruh pasien tersebut telah dinyatakan sembuh dan bisa dipulangkan.

Syahril mengatakan Kemenkes masih mengumpulkan laporan dari hasil penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) dari lima provinsi yang sedang mengalami tren kenaikan kasus untuk melacak transmisi virus dari pasien sembuh tersebut. Provinsi yang dimaksud adalah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Menurut Syahril, pemerintah berkewajiban memeriksa WGS agar seluruh pasien Covid-19 yang meningkat saat ini terpapar subvarian baru atau varian lama.

"Itu dilakukan WGS untuk pastikan apakah pasien itu sudah semuanya subvarian BA.4, BA.5 atau campuran," kata dia.

Puncak Covid-19 Subvarian BA.4 dan BA.5 Diprediksi Akhir Juli 2022

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memperkirakan puncak gelombang subvarian BA.4 dan BA.5 sepertiga dari Delta dan Omicron. Puncak gelombang BA.4 dan BA.5 diprediksi terjadi pada akhir Juli 2022.

"Jadi kita amati di Afrika Selatan sebagai negara pertama yang BA.4 BA.5 masuk, puncaknya itu sepertiga dari puncaknya Omicron atau Delta sebelumnya," kata Budi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/6).

Budi menyebut, pada puncak gelombang Omicron, penambahan kasus positif harian mencapai 60.000. Pada gelombang BA.4 dan BA.5, peningkatan kasus harian diperkirakan hanya 20.000.

"Kira-kira nanti estimasi berdasarkan data di Afrika Selatan, mungkin puncaknya kita di 20.000 per hari," ucap dia.

Menurut Budi, puncak gelombang BA.4 dan BA.5 kemungkinan besar terjadi sebulan setelah penemuan kasus pertama. Kasus pertama di Indonesia terdeteksi pada 6 Juni 2022.

Mantan Wamen BUMN ini mengatakan, BA.4 dan BA.5 cepat menular. Namun, fatalitasnya jauh lebih rendah dibandingkan Delta dan Omicron.

"Mungkin seperduabelas atau sepersepuluh dari Delta dan Omicron," imbuhnya.

Budi menegaskan kenaikan kasus Covid-19 nasional saat ini bukan disebabkan mudik Lebaran Idulfitri 2022. Melainkan dipicu subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

"Jadi kita konfirm bahwa kenaikan ini memang dipicu adanya varian baru," kata Budi dalam konferensi pers, Senin (13/6).

Menurut Budi, kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini sama seperti negara lain. Bila muncul varian baru, maka kasus Covid-19 meningkat.

"Jadi setiap kali ada kenaikan varian baru, itu naik," tandasnya.

[gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel