IDI Peringatkan Mutasi Virus Corona N439K, Dinilai Lebih 'Smart'

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mutasi virus corona masih menjadi kekhawatiran banyak pakar lantaran dianggap berpotensi meningkatkan kasus COVID-19 di dunia. Terkini, Perhimpunan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta masyarakat lebih waspada terhadap mutasi corona N439K.

Hal tersebut diungkap Ketua PB IDI, dr. Daeng M Faqih yang membahas terkait satu tahun pandemi di dunia. Menurut IDI, pemerintah harus benar-benar mengkaji profil COVID-19 saat ini, agar usaha mitigasi penyebaran COVID-19 yang telah diterapkan menjadi efisien dan efektif.

Bila berbagai pendekatan ternyata tidak ada perbaikan, perlu segera dipikirkan metode lain sebelum terlalu terlambat dan negara tereliminasi oleh virus. Terlebih, mutasi corona B117 yang dianggap lebih menular, sudah mulai ditemukan di Tanah Air.

"Kita menghadapi virus baru, dengan sifat yang berbeda dengan virus yang pernah ada, dengan kecepatan mutasi yang cepat. Belum lama ini pemerintah mengumumkan varian B117 dan di dunia telah terdapat varian baru lagi yang berkembang ditemukan di Inggris yakni N439K," ungkap Daeng, dikutip dari keterangan persnya.

Sama seperti mutasi B117, mutasi teranyar itu dinilai lebih 'smart'. Sebab, mutasi itu ternyata sudah ditemukan di lebih dari 30 negara.

"Karena ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat dan tidak dikenali oleh polycional antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi," sambungnya.

Dari data yang didapati penularan virus dapat melalui aerosol, sehingga yang paling sulit adalah mengendalikan orang-orang yang asimtomatis atau tanpa gejala. Transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernapas normal dapat menularkan namun ketika bernapas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus.

Pada keadaan ruangan yang tertutup, di mana udara berputar putar dengan udara AC yang berputar putar maka berpotensi menjadi masalah. Oleh karena itu, sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan AC central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet maka virus SARS-CoV 2 dapat bertahan hidup hingga 3 jam dalam ruangan.

"Pemakaian masker yang sesuai (masker bedah, N95 KN 94, KF 94) dapat melindungi hingga 90 persen penularan. Penggunaan masker di tempat umum menjadi wajib, mengingat bahwa rata-rata laporan menunjukkan 1 dalam 3 orang terinfeksi tidak bergejala," papar Daeng.

Kemampuan pembentukan antibodi pun ternyata bersifat individual baik pasca terinfeksi maupun pasca imunisasi, maka selain vaksinasi COVID-19 ketaatan terhadap protokol kesehatan dan upaya menurunkan viral load sangat diperlukan utk mengakhiri pandemi. Kebugaran dan tidak stres merupakan kunci utama orang yang sehat dan bugar ketika terinfeksi sekalipun cenderung tidak bergejala (asmtomatik) atau gejala ringan.

Beberapa penelitian membuktikan mengkonsumsi vitamin D3 5000 IU dan Vitamin C dapat mecegah terinfeksi dan keparahan ketika terinfeksi COVID-19. Oleh karena itu, pastikan kondisi tubuh kita dalam keadaan sehat dan bugar, yang memiliki kormorbid harus teratur berobat dan terkontrol dan bagi masyarakat yang belum mengetahui status kesehatannya upayakan semaksimal mungkin skrining komorbid.

"Tidak cukup hanya 3M, tetapi membutuhkan upaya lama berupa semua ruangan atau tempat umum agar membuka jendela ventilasi terbuka sangat penting untuk menghilangkan viral load diudara. Jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) sehingga kegiatan dapat kembali lagi," saran Daeng.