IDI Sebut Belum Ada Bukti Subvarian BA.2.75 Sebabkan Penyakit Lebih Serius

Merdeka.com - Merdeka.com - Ancaman subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 belum usai. Kini muncul subvarian baru bernama BA.2.75 atau lebih dikenal sebagai Centaurus.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan subvarian baru ini sedang diawasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

"Subvarian ini dianggap amat menular dan tersebar di 10 negara. Namun, belum ada bukti kuat akan membawa kita ke hari-hari tergelap dari pandemi, seperti sebelumnya," kata Zubairi melalui akun Twitternya @ProfesorZubairi dikutip Senin (18/7).

Dia mengungkapkan hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan subvarian BA.2.75 menyebabkan penyakit yang lebih serius ketimbang subvarian lainnya. Bahkan beberapa ahli menyebut, BA.2.75 merupakan subvarian yang paling tidak mematikan.

Subvarian BA.2.75 kini masuk kategori Variant of Concern (VOC) Lineage Under Monitoring (LUM). Artinya varian ini sedang diawasi secara ketat WHO.

Zubairi menyebut subvarian BA.2.75 telah dilaporkan di sekitar 10 negara. Namun, Indonesia belum termasuk di dalamnya. Subvarian ini pertama kali ditemukan di India.

"Indonesia harus khawatir? Rasanya tidak. Hanya ada sekitar 70 kasus BA.2.75 yang tercatat di seluruh dunia dan belum ada data yang menyatakan subvarian ini menyebabkan infeksi yang lebih serius ketimbang Omicron awal," jelasnya.

Zubairi mengaku belum tahu alasan subvarian BA.2.75 disebut sebagai Centaurus. Dia memastikan nama Centaurus bukan berasal dari WHO.

"Belum diketahui siapa yang memberi julukan itu. Yang jelas, Centaurus adalah makhluk mitologi Yunani yang berwujud setengah manusia, setengah kuda," kata dia. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel