IFLA kagumi program perpustakaan berbasis inklusi sosial

Presiden The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) Vicky MacDonald mengaku kagum dengan program perpustakaan berbasis inklusi sosial di Indonesia.

“Ini sangat luar biasa, bagaimana kita melihat komunitas saling bekerja sama meningkatkan literasi dan juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka,” ujar Vicky dalam konferensi pers yang diselenggarakan Perpusnas di Jakarta, Jumat.

Vicky mengatakan pihaknya sudah mendengar banyak terkait kiprah yang dilakukan oleh Perpusnas dalam penguatan literasi masyarakat, dimana sebagian besar masyarakat telah merasakan dampak pada peningkatan kesejahteraan ekonominya.

“Literasi merupakan kemampuan yang sangat penting bagi setiap orang, karena banyak hasil baik sosial maupun ekonomi serta kapabilitas masyarakat karena literasi ini,” terang Vicky.

Oleh karena itu, lanjut dia, penting bagi pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk fokus dalam membangun literasi masyarakat.

Baca juga: Perpusnas sebut paradigma tentang perpustakaan telah berubah

Baca juga: Perpusnas berikan penghargaan pegiat pembudayaan membaca


Seorang inspirator transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, Rodinatun, mengatakan kehidupannya mengalami perubahan sejak mengenal program perpustakaan tersebut.

“Sebelumnya saya hanya seorang ibu rumah tangga. Hanya bisa memasak untuk makan sehari-hari. Tetapi sekarang berubah, karena banyak peningkatan pengetahuan melalui program perpustakaan ini,” kata Rodinatun.

Rodinatun menjelaskan saat ini dirinya dan para ibu di Cikarang merintis usaha berjualan kue dan berhasil meningkatkan kesejahteraan sejumlah keluarga di dekat rumahnya.

Seorang pustakawan dari Dinas Kearsipan Kabupaten Gunungkidul, Agung Wibawa, mengatakan sebelumnya perpustakaan hanya digunakan untuk membaca. Akan tetapi setelah mengikuti program perpustakaan berbasis inklusi sosial, ada banyak pelatihan yang diberikan pada masyarakat di daerah itu.

“Perpustakaan berubah drastis, tidak hanya untuk sekadar membaca tetapi juga kami mendatangkan pelatih untuk memberikan pelatihan pada masyarakat. Misalnya pelatihan membatik dan juga mengubah barang bekas menjadi barang berharga,” kata Agung.

Baca juga: Perpusnas: Surabaya barometer kota literasi di Indonesia

Baca juga: Perpusnas luncurkan buku tematik dukung Presidensi G20