IFLA sebut perpustakaan penting bangun masyarakat inklusif

Direktur Kebijakan dan Advokasi International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) Stephen Wyber mengatakan perpustakaan berperan penting untuk membangun masa depan yang inklusif pada era digital dan mempersiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global.

“Sektor pendidikan juga harus dibenahi secara keseluruhan. Pada masa kini, yang terpenting adalah memberikan peluang kepada masyarakat untuk mempelajari yang mereka butuhkan dengan pendekatan kepedulian,” ujar Stephen dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan, perpustakaan harus mengajarkan pengetahuan tentang kearifan lokal dan pengetahuan modern. Kedua pengetahuan tersebut mampu menciptakan masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, dan aktif.

Hal tersebut disampaikan Stephen Wyber dalam webinar Urban-20 (U20) Side Event dengan tema Enabling Cities, Caring Cities yang diselenggarakan secara hibrid oleh Perpustakaan Nasional. IFLA adalah badan internasional yang mewakili kepentingan layanan perpustakaan dan informasi serta penggunanya.

Baca juga: IFLA dan UNESCO luncurkan Manifesto Perpustakaan Umum 2022

Lebih lanjut, Stephen mengingatkan agar tidak hanya terpaku pada pendidikan formal. Menurut dia, pendidikan harus diperluas hingga ke perpustakaan dan lembaga pembelajaran orang dewasa. Keduanya menjadi infrastruktur yang peduli dengan kesejahteraan dan masa depan masyarakat di setiap kota di dunia.

“Apa yang diharapkan dari akhir kegiatan hari ini ialah kita mendapatkan beberapa pesan kunci dan ide bagus tentang bagaimana kita bisa menjalankan peran perpustakaan dan lembaga pembelajaran orang dewasa untuk menjadi bagian kunci dari agenda pemerintahan Indonesia yang berdasar pada perhelatan Presidensi G20,” kata dia.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan berdasarkan catatan Bappenas dan BPS, sebagian besar masyarakat Indonesia terjun sebagai kepala keluarga dengan bermodalkan ijazah pendidikan umum. Oleh karena itu, masyarakat tersebut perlu dididik melalui pendidikan nonformal.

Dia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah paradigma perpustakaan di dunia agar dapat bertransformasi dan kehadirannya dirasakan masyarakat.

Baca juga: IFLA dorong kolaborasi perpustakaan di seluruh dunia

“Misi kita adalah meyakinkan kepada siapa saja bahwa dia bisa berubah dengan satu buku yang relevan dengan pilihan ekonominya. Karena peran untuk menolong masyarakat yang termarjinalkan dengan buku-buku ilmu terapan itu sangat penting,” kata Syarif.

Sementara itu, Presiden Asosiasi Pendidikan Dasar dan Dewasa Asia Pasifik Selatan (ASPBAE) Nani Zulminarni menyampaikan bahwa sejatinya terdapat enam situasi di mana seseorang dapat tersingkirkan dari proses pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat.

Adapun enam situasi tersebut terdiri atas gender dan usia, disabilitas dan difabelitas, status sosial, lokasi, metodologi dan pendekatan, serta topik dan fokus. Menurut dia, enam situasi ini senada dengan sambutan dari Kepala Perpusnas. Untuk itu, paradigma perpustakaan harus berubah agar lebih mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pustakawan harus bisa mendukung proses belajar melalui buku, cerita, data, informasi yang ada di perpustakaan, juga termasuk hasil-hasil riset menjadi sumber pembelajaran pendidikan bagi masyarakat yang lebih inklusif. Ungkapan ‘education is not limited to school’ harus dimaknai sebagai proses belajar yang sepanjang hayat,” kata Nani.

Baca juga: Perpusnas sebut perpustakaan digital untuk perluasan akses bacaan

U20 Side Event merupakan bagian dari kegiatan U20 Summit 2022. U20 Summit diselenggarakan tahun ini di Jakarta, sebagai bagian dari Presidensi G20 Indonesia.