IHSG masih belum tembus 6.000 di sesi pertama

Nusarina Yuliastuti

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir sesi pertama perdagangan saham, Jumat, belum berhasil menembus ke atas level 6.000.

Pada akhir sesi pertama perdagangan, IHSG menguat 42,84 poin atau 0,72 persen ke posisi 5.995,9, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 10,54 poin atau 1,11 persen menjadi 956,54.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Jumat, mengatakan sentimen positif pasar yang terbilang terbatas pada perdagangan saham hari ini hanya dapat memberikan tekanan kembali bagi IHSG.

"Belum ada kekuatan katalis yang mampu untuk menopang bagi indeks domestik ini ke teritorial positif," ujar Alfiansyah.

Baca juga: IHSG Jumat dibuka melemah 3,18 poin

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani undang-undang (UU) demokrasi di Hong Kong. Dengan disahkannya RUU pro-demokrasi Hong Kong, AS bisa menjatuhkan sanksi bagi para pejabat Cina dan Hong Kong yang diduga melanggar hak asasi manusia (HAM), termasuk larangan visa dan pembekuan aset.

Sikap AS ini mendapat kecaman pemerintah China karena dinilai sebagai upaya campur tangan urusan dalam negeri dan mengancam siap mengambil langkah tegas untuk membalas AS.

Dari dalam negeri, ominbus law perpajakan akan menjadi prioritas pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi dan mengantisipasi perubahan terkait digital ekonomi.

Sasaran ominbus law perpajakan adalah menurunkan Pajak Penghasilan (PPh) dari 25 persen secara bertahap ke 20 persen, yakni pada 2021 diturunkan menjadi 22 persen dan pada 2023 akan menjadi 20 persen.

Bursa saham regional Asia siang ini antara lain indeks Nikkei melemah 88,6 poin atau 0,38 persen ke 23.320,5, indeks Hang Seng melemah 545,1 poin atau 2,03 persen ke 26.348,6, dan indeks Straits Times melemah 13,84 poin atau 0,43 persen ke posisi 3.186,77.
Baca juga: China peringatkan balas AS atas UU mendukung pemrotes Hong Kong