Ikan haruan dan kawan-kawan yang bikin cuan

Di Kalimantan Selatan, ikan haruan ibarat batu bara di sektor sumber pangan. Jumlahnya melimpah, bisa hidup liar dan berkembang biak dengan sendirinya di sungai, rawa, serta sawah. Dan yang terpenting, ikan haruan gratis untuk diambil di sungai, rawa, ataupun sawah.

"Kalau sedang musimnya, suami saya bisa bawa ikan haruan sekarung dari sawah," kata Maymunah, salah seorang pelaku usaha olahan ikan lokal Kalimantan Selatan.

Ikan haruan itu tidak dengan sengaja dibudidaya di sawah, pun tidak diberi makan. Namun jika musim panen sawah padi telah selesai dan tinggal menyisakan lahan berlumpur yang telah dipanen, mengambil ikan haruan semudah menangkap dengan tangan kemudian masukkan ke dalam karung.

Ikan haruan adalah sebutan lokal masyarakat Kalimantan untuk ikan gabus. Ikan dengan kandungan gizi tinggi ini juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi secara nasional.

Di Pulau Jawa, ikan gabus sudah sulit ditemukan di sungai-sungai sehingga membuat nilai jualnya tinggi. Kandungan gizi tinggi seperti albumin yang merupakan protein utama dalam darah berfungsi untuk mempercepat penyembuhan luka ataupun cedera pada tubuh manusia. Nilai ekonomis ikan gabus kembali melonjak akibat tingginya kandungan gizi di dalamnya.

Namun di Kalimantan ikan gabus atau ikan haruan ini masih melimpah dan mudah ditemui sebagai menu di rumah makan ataupun lauk sehari-hari rumah tangga. Ikan haruan ini sudah ratusan tahun menjadi sumber protein utama nan menyehatkan suku-suku di Kalimantan, khususnya yang tinggal di daerah rawa-rawa dan tepian sungai.

Memang ikan haruan ini ada juga yang membudidaya di Kalimantan Selatan, namun masyarakat setempat lebih menyukai ikan haruan liar yang hidup secara alami di sungai maupun rawa. Tentu saja cita rasa ikan yang hidup secara alami di sungai dengan budidaya berbeda. Sungguh lebih lezat ikan alami dari Ibu Pertiwi.

Selain haruan, ada pula ikan patin yang juga masih melimpah di sungai-sungai Kalimantan. Kandungan gizi ikan patin tak kalah tinggi, seperti protein, asam lemak omega-3 dan omega-6 yang melimpah, vitamin A, vitamin B, vitamin K, kalsium, dan kolin yang baik untuk kesehatan tubuh. Kandungan gizi yang dimilik oleh ikan patin sama seperti yang terdapat di ikan salmon dan tuna.

Ada pula ikan lokal air tawar lainnya yang bergizi tinggi dan mudah ditemukan di Kalimantan seperti ikan saluang, ikan telang, papuyu, sepat, dan sebagainya.

Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Berkah Papadaan binaan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Banjarbaru Kalimantan Selatan adalah salah satu kelompok usaha yang memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal untuk diolah dan memiliki nilai jual tinggi.

Anggota Poklahsar umumnya diisi oleh para ibu rumah tangga itu memiliki produk olahan ikan masing-masing. Mulai dari abon ikan haruan, amplang ikan tenggiri, saluang goreng tepung, sepat goreng kering, dan sebagainya.

Maymunah adalah salah satu anggota Poklahsar Berkah Papadaan yang mengolah ikan haruan yang melimpah di daerahnya untuk menjadi abon. Produk abon ikan haruan yang dibuatnya terdapat dua jenis, yaitu abon ikan haruan murni dan abon haruan yang dicampur dengan parutan kelapa. Tidak hanya menjadi makanan gurih, ikan haruan juga bisa diolah menjadi kue kering dengan cita rasa manis bercampur gurih.

Salah seorang anggota Poklahsar pemilik merek dagang Mama Dildan, Heldawati, bahkan sudah menekuni usaha penganan olahan ikan lokal selama lima tahun. Produk olahan ikan yang dibuatnya yaitu Saltung (ikan saluang tepung), Salunyah (ikan saluang goreng renyah), Telamas (ikan telang asam manis pedas), dan Saprinyah (ikan sepat kering renyah). Produk-produk olahan ikan dari Mama Dildan kini sudah mudah dijumpai di toko oleh-oleh di Banjarbaru maupun Banjarmasin sebagai oleh-oleh khas.

Produk olahan ikan lokal yang diproduksi secara rumahan oleh Heldawati kini rutin dikirim ke toko oleh-oleh setiap satu minggu sekali. Produksi olahan ikan saluang dari Mama Dildan bisa mencapai 80 kilogram sebulannya, dengan dikirim ke pusat oleh-oleh sebanyak 20 kilogram setiap minggunya. Produksi ikan sepat mencapai 10 kilogram, dan ikan telang Rp20 kilogram sebulan.

Sejak memulai usaha olahan ikan lokal pada 2017 hingga saat ini pun omzet penjualan produk Mama Dildan terus meningkat. "Awalnya baru mulai sekitar Rp2 juta sebulan, sekarang sekitar Rp8 juta sampai Rp9 juta per bulan," kata Heldawati.

Produk UMKM olahan ikan lokal Kalimantan yang dipamerkan dalam acara Gerakan Naional Bangga Buatan Indonesia di Kota Banjarmasin, Sabtu (23/7/2022). (ANTARA/Aditya Ramadhan)
Produk UMKM olahan ikan lokal Kalimantan yang dipamerkan dalam acara Gerakan Naional Bangga Buatan Indonesia di Kota Banjarmasin, Sabtu (23/7/2022). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Gernas BBI

Heldawati dan Maymunah beserta dengan anggota Poklahsar Berkah Padaan lainnya berkesempatan untuk memamerkan produk-produk unggulannya dalam ajang Kampanye Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) Kalimantan Selatan yang digelar di Taman Siring KM 0 Kota Banjarmasin.

Pemerintah mengampanyekan Gernas BBI sejak tahun 2021 dengan tujuan untuk memulihkan ekonomi dalam negeri pasca krisis pandemi COVID-19 yang memukul sektor UMKM. Dengan adanya kampanye Gernas BBI ini diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan akses pasar UMKM lokal.

Tidak hanya mengadakan tempat berupa pameran untuk menjual produk-produk UMKM, pemerintah juga turut melakukan pelatihan-pelatihan pada UMKM untuk bisa meningkatkan kualitas produk, menjangkau akses pasar yang lebih luas, hingga meningkatkan skala usaha.

Heldawati dan anggota Poklahsar Berkah Papadaan lainnya mengaku sering mendapatkan pelatihan maupun bantuan dari pemerintah yang dinilainya sangat membantu dalam kelancaran dan pengembangan usaha.

"Binaan bermanfaat sekali. Kita mendapat pelatihan kemasan, pelatihan diservikasi olahan makanan, pengurusan perizinan, sertifikasi halal gratis, sampai bantuan alat produksi," kata Heldawati.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam pembukaan acara Puncak Kampanye Gernas BBI Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Jumat (22/7) lalu menyatakan bahwa pemerintah Indonesia sengaja menyelenggarakan acara yang sama setiap bulan di provinsi yang berbeda dengan tujuan menggeliatkan kembali ekonomi daerah.

Dengan diadakannya Gernas BBI setiap bulan di berbagai daerah diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Menko Marves menyebutkan kegiatan Gernas BBI yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir telah mencatatkan perputaran ekonomi hingga Rp876 triliun dengan realisasi nilai transaksi UMKM sebanyak Rp310 triliun.

Dia berharap ke depannya UMKM lokal di seluruh Indonesia mengembangkan produk tidak melulu makanan, namun juga dari sektor lain seperti fesyen maupun kriya yang memiliki nilai jual tinggi, bahkan berorientasi ekspor.

Baca juga: KKP-Pemkab Tanah Bumbu Kalsel wujudkan kampung ikan gabus haruan

Baca juga: KKP jaga keberlanjutan ikan gabus endemik di Kalsel

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel