Ikatan yang terjalin antara tiga mahasiswa Indonesia dengan China

Yessy Liana, seorang mahasiswa asal Indonesia di Wuhan, memperhatikan dengan saksama penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (Group of 20/G20) di kampung halamannya yang berjarak lebih dari 4.000 kilometer dari Wuhan dalam beberapa hari terakhir. Hal itu mengingatkannya pada pengalaman tak terlupakan yang dirasakannya dua bulan lalu.

Yessy adalah seorang mahasiswa program sarjana yang mengambil jurusan desain industri di China University of Geosciences, Wuhan. Pada September lalu, dia terpilih menjadi naradamping (liaison officer) untuk Pertemuan Menteri Kebudayaan G20 yang digelar di Pulau Jawa, lapor Xinhua pada Jumat.

Dengan kemampuan bahasa Mandarin yang sangat baik, dia ditunjuk untuk membantu para staf Kedutaan Besar China di Indonesia selama pertemuan tersebut. "Pada hari pertama saya bertemu dengan dua teman asal China, mereka dengan ramah mengundang saya untuk makan malam bersama mereka, yang membuat saya sangat terkesan," kata Yessy.

"Saat waktu istirahat, mereka juga menunjukkan perhatian terhadap studi saya di China dan berbagai kesulitan yang saya hadapi. Meski itu adalah kali pertama kami bertemu, teman-teman asal China ini memberi saya rasa kasih dan perhatian layaknya keluarga," ujar Yessy.

"Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain industri, saya akan terus mempelajari bahasa Mandarin dengan baik agar dapat lebih memahami produk 'Made in China' dan berusaha menciptakan lebih banyak produk 'Made in Indonesia' di masa depan."

Yessy mengatakan bahwa agar lebih banyak warga Indonesia tahu tentang China, dia memiliki akun media sosial yang digunakannya untuk membagikan aktivitas hariannya di China kepada sesama anak muda di Indonesia. "Saya berharap lebih banyak anak muda Indonesia dapat datang ke China dan menyaksikan sendiri pesona perkembangan dan kemajuan China."

Yohanes Adihusodo, seorang mahasiswa pascasarjana yang mengambil jurusan ilmu manajemen dan teknik di universitas yang sama, adalah penggemar teknologi China. Sebelum datang ke China, dia pernah mengerjakan proyek Baidu di Indonesia, membantu mengumpulkan masukan dari pengguna Indonesia.

Karena sering berkomunikasi dengan perusahaan teknologi China itu, Yohanes menjadi semakin tertarik dengan inovasi teknologi China dan tekadnya untuk belajar di China pun semakin kuat.

"Di China, saya bisa mempelajari sejumlah perusahaan teknologi inovatif, dan lambat laun memahami pentingnya perkembangan teknologi di balik jalur modernisasi China," ungkap Yohanes.

"Ada banyak perusahaan teknologi China di Indonesia, sehingga kami memiliki banyak peluang kerja yang bagus." Yohanes tengah bekerja keras di China untuk mempelajari bahasa dan budaya negara itu, berharap dirinya suatu hari nanti dapat bekerja sama dengan perusahaan teknologi China dan membawa lebih banyak produk teknologi tinggi ke Indonesia.

Terletak di sabuk seismik Sirkum Pasifik, Indonesia rawan dan sering dilanda gempa. Fitriani mengambil jurusan geofisika dan menjadikan gempa sebagai subjek penelitiannya. "China memiliki sejarah panjang dalam penelitian tentang gempa, dan ribuan tahun yang lalu, Zhang Heng menemukan seismograf untuk memantau gempa. Geofisika merupakan salah satu bidang studi utama di China University of Geosciences, Wuhan, jadi saya mendapat banyak keuntungan dengan belajar di China," tutur Fitriani.

"Dengan menganalisis geologi dan gempa di masa lalu, Anda dapat memprediksi kemungkinan terjadinya gempa di suatu tempat di masa depan." Fitriani mendedikasikan dirinya untuk mempelajari prediksi gempa jangka panjang, yang sangat berharga bagi prakiraan ilmiah tentang waktu dan tempat terjadinya gempa, sehingga kerusakan akibat gempa dapat dikurangi.

Berkenaan dengan masa depan, Fitriani mengatakan bahwa dia akan terus belajar di China, menindaklanjuti teknologi mutakhir seismologi, dan kemudian pulang ke kampung halamannya untuk menyebarkan pengetahuan tentang gempa kepada lebih banyak warga Indonesia serta bergabung dalam upaya pencegahan dan mitigasi bencana global.