IKEA Rilis Rangkaian Menu Makanan Berbahan Nabati, Harganya Mulai Rp6 Ribu Saja

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bermaksud mendorong gaya hidup sehat pelanggan secara aktif, IKEA merilis rangkaian makanan berbahan nabati. IKEA Food Commercial Manager Dita Astari Putri menyebut bahwa di langkah awal ini, mereka akan menyasar alternatif dari sederet menu populer, termasuk swedish meatballs yang hadir dalam opsi plant balls.

Dita mengatakan, rangkaian menu ini cocok dicoba pelanggan yang mau perlahan meninggalkan konsumsi daging, tapi tidak bisa meninggalkan aroma daging. "Jadi ada twist-nya di situ, bagimana plat-based menu ini bisa tetap dimakan dengan nikmat," katanya dalam jumpa pers virtual, Jumat (27/8/2021).

Es krim matcha yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)
Es krim matcha yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)

Selain secara rasa, Dita menyambung, supaya tujuan mendorong gaya hidup sehat tadi terpenuhi, rangkaian menu ini disebutnya harus berharga terjangkau. Karena itu, makanan berbahan nabati yang sementara dapat dinikmati melalui layanan drive thru dan ojek online ini dibanderol mulai dari Rp6 ribu saja.

"Kami sekaligus mau mematahkan stigma makanan sehat itu mahal. Percuma juga kalau harganya tidak bisa dijangkau banyak orang, dampaknya jadi enggak signifikan," ucapnya.

Menu makanan nabati ini terdiri dari es krim matcha yang dibanderol Rp6 ribu. Kemudian, ada plant-based sausage bun seharga Rp10 ribu, Rp20 ribu untuk berbagai pilihan light bite, serta pilihan kue mulai Rp20 ribu.

"Untuk makanan beratnya, termasuk plant balls, itu mulai Rp35 ribu per porsi. Kami juga menyediakan makanan berbahan nabati untuk anak-anak yang paketnya mulai dari Rp40 ribu. Ada jus dan mainan dalam pilihan itu," urainya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sehatkan Badan, Selamatkan Bumi

Plant balls yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)
Plant balls yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)

Dita menyambung, targetnya, 50 persen menu restoran IKEA pada 2025 adalah makanan berbahan nabati. Gerak agresif ini juga merupakan upaya pihaknya mengekspansi unsur keberlanjutan dalam bisnis mereka.

Pasalnya, emisi karbon produksi plant balls, yang secara visual mirip dengan swedish meatballs, diklaim 20 kali lebih sedikit dari versi konvensionalnya. "Ini tentu berdampak positif pada manusia, komunitas, dan Bumi," kata Dita.

Ia menyambung bahwa pihaknya serius menangangi faktor keberlanjutan, salah satunya dengan menangani sampah makanan. Selain produksi efisien, jika memang masih ada limbah makanan di akhir hari, itu akan dimanfaatkan jadi kompos.

"Kami juga mengedukasi pelanggan melalui kampanye 'Food is Precious' yang, sesuai namanya, mengingatkan mereka bahwa makanan itu berharga, dan tidak seharusnya dibuang-buang," urainya.

Manfaatkan Bahan Baku Lokal

Kue pisang yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)
Kue pisang yang masuk dalam rangkaian menu berbahan nabati IKEA. (dok. IKEA Indonesia)

Dita menjelaskan, pihaknya memanfaatkan bahan baku lokal dalam pembuatan berbagai makanan tersebut. "Karena kami mau mendukung produksi lokal, selain menjaga sertifikasi halal yang sudah kami dapatkan," ucapnya.

Karena itu, pihaknya melakukan kurasi pemasok bahan baku untuk berbagai sajian. "Kecuali makanan khas Swedia, kami sebisa mungkin akan pakai bahan baku lokal," tegasnya.

Dita menyambung bahwa rangkaian menu makanan nabati yang sudah tersedia sejak Selasa, 24 Agustus 2021 ini semuanya berbasis protein kedelai. "Di es krimnya pun kita pakai susu kedelai," tandasnya.

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel