Iklan Peloton bertema liburan dikritik berisi pesan seksis

Iklan baru Peloton bertema liburan seharusnya mengilhami calon pelanggan sepeda mesin, namun beberapa pengguna Twitter menganggap iklan itu malah mempromosikan seksisme dan tujuan hidup yang tak bisa dicapai.

Dalam iklan 21 November berjudul, "The Gift That Gives Back," seorang ibu diidentifikasi sebagai "Grace dari Boston," menerima sepeda itu sebagai hadiah Natal dari pasangan prianya.

"Gowes pertama. Saya agak gugup, tetapi menyenangkan. Ayo mulai," kata Grace dalam sebuah video catatan harian.

Setiap hari, selama satu tahun, Grace memfilmkan dirinya mengayuh sepeda sepulang kerja dan pagi-pagi sekali, menyusun klip video terima kasih yang diunjukkan untuk pasangannya. "Setahun lalu, saya belum menyadari betapa hal ini mengubah saya - terima kasih," kata Grace. Di ujung cerita, pasangan itu menonton montase pada Natal berikutnya, dengan Grace menatap pasanganya yang tersenyum.

Komentar bermunculan mengepung iklan itu dengan mencuit penampilan sang istri yang sudah atletis dan mengaitkan rumah pasangan itu dengan audiens yang diduga dari perusahaan itu.

Ada humor gelap mengenai dinamika antara Grace dan pasangannya itu. Komedian Eva Victor memalsukan iklan termasuk (termasuk kata-kata kasar) dalam sebuah video dengan hampir 3 juta view. "Suami saya memberi saya Peloton untuk Natal," kata Victor bersandiwara. "Enggak ada yang aneh tentang itu!" Ujungnya, Victor memberikan surat cerai kepada suami fiktifnya itu.

"Serius, mengapa ia (Grace) menatap dia (suaminya) seperti ini?" tulis Hemal Jhaveri dalam For The Win.

Tetapi banyak yang tak menseriusi iklan tersebut.

Ketika dihubungi oleh Yahoo Lifestyle, Peloton menolak berkomentar.

Richelle Martin (37) dari Frisco, Texas, yang mengelola XXL Peloton Tribe di Facebook menganggap iklan itu membuat grupnya luar biasa marah.

Tetapi Martin, yang memiliki seorang putra berusia 11 tahun, mengatakan alur cerita keibuan itu penting. "Ketika Anda seorang ibu, Anda memberikan segalanya untuk anak Anda dan bisa kehilangan diri sendiri," kata dia. "Saya menafsirkan iklan itu sebagai pria yang memberi istrinya hadiah waktu dan kesempatan untuk membaktikan diri kepada dirinya sendiri."

Menurut survei Badan Statistik Buruh Amerika Serikat pada 2019, dibandingkan dengan pria, wanita lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan rumah tangga dan memasak dan kurang melakukan aktivitas-aktivitas waktu senggang seperti menonton televisi, bersosialisasi atau berolah raga.

Suami Martin sendiri memberi dia sepeda Peloton untuk Hari Ibu tahun lalu, hadiah yang sudah bertahun-tahun dia tunggu. Untuk seseorang yang "membenci olah raga" dan merasa sadar diri di gym, Martin bersepeda dengan nyaman di rumah untuk mencapai tujuan menurunkan berat badan, yang didukung oleh komunitas Peloton virtualnya.

Tim Calkins, seorang profesor pemasaran pada Fakultas Manajemen Universitas Northwestern, mengatakan iklan Peloton itu telah memasuki teritori yang keras. "Secara strategis saya bisa menyaksikan Peloton berusaha untuk berhasil bahwa sepeda-sepeda itu membuat pembelian besar selama liburan," kata dia kepada Yahoo Lifestyle.

Terutama hadiah dari seorang pria kepada seorang wanita, tambah Calkins, berisiko stereotip gender. Alur cerita alternatif mungkin telah memasukkan sepeda itu sebagai pembelian yang memberdayakan diri sendiri atau keduanya. “Mengingat harga Peloton, tidak masuk akal menganggap pasangan itu bareng menggunakannya,” tambah dia.

Calkins berspekulasi bahwa kesting aktris yang menarik dan bugar adalah pertimbangan yang cermat. "Wanita itu bugar sebelum dan sesudah menggunakan sepeda, yang menunjukkan bahwa Peloton bukan alat penurun berat badan melainkan pilihan gaya hidup dan sebuah gerakan yang luar biasa," kata dia kepada Yahoo Lifestyle.

Martin menyebut iklan itu ambigu. "Mungkin sang suami cuman ingin membahagiakan istrinya," kata dia kepada Yahoo Lifestyle. "Jangan menilai jika itu bukan perjalananmu."

Baca lebih lanjut dari Yahoo Lifestyle: