Iklan rokok hantui pelajar dan remaja: mengepung sekolah, membombardir media sosial

·Bacaan 1 menit

Dengan penjualan lebih dari 315 miliar batang rokok per tahun, Indonesia merupakan pasar rokok terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Untuk mempertahankan dan memperluas pasar ini, berbagai perusahaan rokok gencar mengiklankan dan menjual rokok – terutama pada remaja serta anak muda.

Bahkan, jaringan penjualan industri rokok juga meliputi berbagai warung dan kios yang sangat dekat dengan lingkungan sekolah di berbagai daerah di Indonesia.

Studi tahun 2019 mengungkap bahwa 30% dari hampir 1.200 sekolah di Surabaya terpapar banyak iklan rokok dalam radius 300 meter. Data tahun 2014 dari Global Youth Tobacco Survey menunjukkan 64% pelajar di Indonesia dapat membeli rokok dengan sangat mudah.

Untuk membedahnya secara lebih dalam, pada episode podcast SuarAkademia kali ini, kami ngobrol dengan Putu Ayu Swandewi, peneliti kesehatan publik di Universitas Udayana, Bali.

Ayu menjelaskan studi yang ia lakukan di Denpasar dan Yogyakarta tentang jaringan retail rokok terutama di lingkungan sekolah, mudahnya akses siswa dan remaja dalam membeli rokok, perbandingan aturan iklan rokok di seluruh dunia, serta hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah daerah untuk meregulasi penjualan rokok dengan lebih ketat.

Simak episode lengkapnya di SuarAkademia – ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel