IKORGI gelar seminar ilmiah nasional kelima

Ikatan Konservasi Gigi Indonesia (IKORGI) menyelenggarakan Seminar Ilmiah Nasional Ikatan Konservasi Gigi Indonesia kelima (SINI V) di ICE BSD, Tangerang, Jumat.

SINI merupakan ajang ilmiah untuk mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan di bidang Konservasi Gigi bagi para dokter gigi spesialis Konservasi Gigi khususnya dan dokter gigi pada umumnya.

"Apa yang disampaikan di seminar berdasarkan hasil penelitian, jadi tidak bisa cuma dari pengalaman saja lalu diimplementasikan ke pasien. Harus melalui penelitian yang panjang dulu sehingga ketika diterapkan aman, ada bukti klinisnya, tidak sembarangan," ujar Ketua Panitia SINI V, Dr. drg. Rina Permatasari, Sp.KG dalam jumpa pers SINI V.

Baca juga: Dokter ungkap keunggulan dan kekurangan jenis-jenis alat ortodonti

Tema SINI kali ini adalah "Evidence-based Dentistry", di mana hasil penelitian diimplementasikan ke dalam pekerjaan dokter gigi sehari-hari sehingga tindakan terhadap pasien tidak boleh sembarangan

Kegiatan SINI V menjadi sarana menimba ilmu dan berdiskusi dengan para pakar ilmu Konservasi Gigi nasional, regional dan internasional, sekaligus menjadi ajang pengenalan dan pendalaman alat dan bahan teknologi terkini bidang Konservasi Gigi oleh 50 (lima puluh) perusahaan penyedia layanan kesehatan gigi mulut.

SINI V ini juga berperan sebagai ajang scientific award dan publikasi hasil penelitian, case report/case series, dan standar pelayanan kesehatan Konservasi Gigi, baik fragmentasi restorasi maupun endodontik. Selain itu juga merupakan ajang pelaksanaan bakti sosial IKORGI.

Ketua Pengurus Pusat IKORGi Dr.drg. Dudi Aripin, Sp.KG, Subsp. KR(K) mengatakan selama pandemi COVID-19 riset klinis mengalami penurunan. Namun laporan kasus tentang endodontik atau perawatan saluran akar gigi cukup banyak yakni 105 kasus.

"Di masa pandemi memang riset klinis sedikit menurun, karena berisiko untuk melakukannya. Jadi lebih banyak laporan kasus dan literature review yang dipaparkan dalam seminar ini," kata dr. Dudi.

SINI V dihadiri oleh1.300 orang yang terdiri dari 1.000 dokter gigi spesialis Konservasi Gigi atau anggota IKORGI seluruh Indonesia, serta 300 dokter gigi, dokter gigi internship, dan residen Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi.

Selain membahas masalah konservasi gigi, seminar ini juga akan menyinggung soal dukungan IKORGI untuk menyukseskan program Kementerian Kesehatan agar Indonesia bebas karies atau gigi berlubang pada 2030.

Baca juga: Dokter tak lagi sarankan mencabut gigi namun mempertahankan gigi

Baca juga: Dokter: Perawatan saluran akar gigi harus tuntas untuk atasi infeksi

Baca juga: Dokter gigi: Berlubang dan nyeri tanda perlu perawatan akar