Ilmu Mengolah Ikan Bikin Mus Mulyana Sulap Modal Sejuta Jadi Rp23 Juta

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - "Komoditas perikanan bisa makin bernilai ekonomis jika ditopang pengetahuan mengolah dan memasarkannya". Pernyataan ini sangat berkesan bagi Mus Mulyana, betapa tidak, memulai usaha olahan ikan dengan modal Rp1 juta di masa pandemi, kini dia menghasilkan omzet hingga Rp23,1 juta per bulan.

"Saya dapat pengetahuannya dimulai dari keikutsertaan pada program penciptaan wirausaha tahun 2020 yang dilakukan KKP," kenang Mus, saat ditemui Tim Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Pria berusia 34 tahun ini menuturkan perjumpaannya dengan penjaringan minat wirausaha pengolahan hasil kelautan dan perikanan pada tahun 2020, salah satu kegiatan Ditjen PDSPKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kala itu, dia menjadi satu dari ribuan pendaftar lainnya. Bak jodoh datang tanpa dinyana, dia terpilih dalam 100 orang yang ditumbuhkan menjadi wirausaha baru dan mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari bimbingan materi teknis pengolahan produk berbahan baku ikan dan materi nonteknis seperti motivasi berwirausaha, pembukuan sederhana, perizinan usaha, dan pemasaran.

ilmu mengolah ikan
ilmu mengolah ikan

©2022 Merdeka.com

"Tadinya saya budidaya magot, ternak ayam sama lele skala kecil aja. Sejak ikut bimbingan teknis, saya mulai memahami bahwa porsi terbesar kunci peningkatan nilai terletak pada mengolah dan memasarkan," terangnya.

Pria asal Kabupaten Bandung ini pun tak ingin berlama-lama mencerna materi bimbingan teknis dan memilih langsung praktik. Dimulai dari mengolah pempek dengan target market tetangga terdekat, Mus kemudian berkreasi dengan menu lain seperti tekwan, onde-onde ikan dan sate ikan berbahan baku ikan tuna yang dia beli dari pasar ikan Ciroyom. Produk-produk ini kemudian dikemas dalam nama usaha "Dapoer Organik".

"Alhamdulillah konsumen responnya positif, dan mulai 2021 memantapkan hati di usaha olahan saja," katanya.

Usaha Mus Mulyana makin berkembang setelah dia memperoleh Kartu Pelaku Usaha Bidang Kelautan dan Perikanan (Kusuka) di tahun 2021. Dibantu istri tercinta, mereka terus berkreasi dan menghasilkan menu dimsum ikan. Ditambah penetrasi pasar digital, produk mereka pun berhasil menjangkau Kabupaten Subang, Kota Bandung dan melalui pasar online dan juga marketplace.

"Dari yang awalnya berdua, sekarang kita bisa mempekerjakan dua orang tenaga kerja harian. Resep menu kita semua hasil bimbingan teknis dari KKP," katanya bangga.

Melihat progres yang terus meningkat, Mus kian optimis bisa hidup dari jualan olahan ikan.

"Kreasi produk lain juga sedang kita coba, tentu dengan bimbingan KKP seperti memanfaatkan hasil samping ikan (jeroan, insang, tulang dan kepala) menjadi produk yang bernilai tambah," ujarnya.

Keberhasilan Mus Mulyana merintis usaha olahan ikan pun makin melecut semangat Direktur Jenderal PDSPKP, Artati Widiarti untuk menciptakan wirausahawan sukses lainnya. Menurutnya, pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi saat ini.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa wirausahawan adalah pahlawan bisnis, pahlawan ekonomi, dan juga pahlawan pembangunan. Keberhasilan Kang Mus membuktikan bahwa wirausahawan bukan hanya mencari dan menunggu peluang, tapi menciptakan peluang," kata Artati.

Artati berharap, keberhasilan Mus Mulyana mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat. Dia memastikan, KKP menargetkan penumbuhan dan pembinaan 1.290 wirausaha hingga tahun 2024.

"Saya selalu berharap agar seluruh peserta kegiatan penciptaan wirausaha dapat tumbuh menjadi wirausaha yang mapan dan mandiri sekaligus menyehatkan masyarakat karena menu yang diolah adalah ikan," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mendukung penuh pengembangan usaha olahan ikan. Dia pun mendorong pelaku usaha merambah pasar daring dalam menjajakan hasil produksi. [hhw]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel