Ilmuwan Beberkan Dampak Mengerikan dari Uji Coba Nuklir Bagi Manusia

Merdeka.com - Merdeka.com - Tanggal 29 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Lawan Uji Coba Nuklir. Hari peringatan ini dideklarasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2009. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran terkait dampak uji coba senjata nuklir dan demi tercapainya dunia bebas senjata nuklir.

Pada 16 Juli 1945, selama Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS) meledakkan senjata nuklir pertamanya, dengan nama kode Trinity, di gurun New Mexico.

Kurang dari sebulan setelahnya, AS menjatuhkan dua bom atomnya di dua kota di Jepang; Hiroshima dan Nagasaki, seketika menewaskan lebih dari 100.000 orang.

Ribuan lainnya tewas karena luka yang mereka derita, dampak radiasi, dan kanker beberapa tahun setelahnya. Sehingga total kematian akibat bom abom itu hampir 200.000, menurut sejarah Proyek Manhattan Departemen Energi AS.

Menurut Federasi Ilmuwan Amerika (FAS), sampai awal 2022, sembilan negara memiliki 12.700 hulu ledak. Sekitar 90 persen dimiliki Rusia (5.977 hulu ledak) dan AS (5.428 hulu ledak). Sementara itu negara lainnya diperkirakan terus menambah stok atau persediaan hulu ledak mereka, salah satunya China, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (30/8).

Dampak uji coba senjata nuklir ini memiliki dampak langsung dan jangka panjang yang disebabkan radiasi dan sisa zat radioaktif. Dampaknya sangat berbahaya untuk manusia maupun makhluk lainnya, termasuk berdampak buruk bagi lingkungan.

Meningkatnya angka kanker dikaitkan dengan uji coba nuklir. Sejumlah penelitian menunjukkan, kanker tiroid dikaitkan dengan radionuklida. Radionuklida adalah isotop yang memancarkan zat radioaktif atau memiliki energi nuklir yang berlebih, sehingga membuatnya tidak stabil. Radionuklida dapat memancarkan radiasi seperti partikel alfa, partikel beta, atau sinar gamma.

Zat radioaktif akan tetap bertahan selama puluhan tahun di suatu wilayah setelah uji coba nuklir dilakukan.

Dampak kesehatan dari paparan radiasi radioaktif bermacam-macam mulai dari mual dan muntah-muntah bahkan kematian hanya dalam beberapa hari setelah terpapar.

Paparan radiasi diukur dalam satuan roentgen ekivalen man (rem) – unit pengukuran radiasi yang diterapkan pada manusia yang dihasilkan dari paparan satu atau banyak jenis radiasi pengion.

Paling berbahaya adalal level rem 1000-5000 yang bisa menyebabkan rusaknya sel saraf dan pembuluh darah kecil dan menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Selanjutnya level rem 400-1000 yang bisa menyebabkan gagal jantung, merusak sumsum tulang belakang dan kemandulan permanen bagi perempuan.

Rel level 300-400 bisa menyebabkan penyakit parah akibat radiasi. Merusak sumsum tulang belakang dan usus serta pendarahan mulut.

Level 200-300 bisa merusak sel reproduksi, sel darah, dan sel rambut.

Level 20-100 bisa menyebabkan mual dan muntah-muntah. Kehilangan selera makan. Kelelahan. Risiko jangka panjang bisa menyebabkan kanker darah atau leukimia dan limfoma.

Level rem 5-20 bisa merusak kromosom.

ilmuwan beberkan dampak mengerikan dari uji coba nuklir bagi manusia
ilmuwan beberkan dampak mengerikan dari uji coba nuklir bagi manusia

Menurut Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA), sedikitnya delapan negara telah melakukan 2.056 uji coba nuklir sejak 1945.

AS telah melakukan 1.030 uji coba nuklir antara 1945 dan 1992. Sedangkan Uni Soviet telah melakukan 715 uji coba antara 1949 dan 1990.

Prancis telah melakukan 210 uji coba nuklir, sedangkan Inggris dan China masing-masing telah melakukan 45 uji coba nuklir.

Sementara itu India telah melakukan tiga kali uji coba, dan tetangganya Pakistan melakukan dua kali coba nuklir.

Korea Utara adalah negara yang melakukan uji coba nuklir baru-baru ini. Pada 2017, bom keenam dan paling kuat Korea Utara diledakkan di situs uji coba nuklir Punggye-ri. Ledakan bawah tanah itu menyebabkan gempa berkekuatan 6,3 magnitudo.

Dari seluruh uji coba nuklir, seperempatnya diledakkan di atmosfer, yang menyebarkan bahan radioaktif di udara. Untuk meminimalisir penyebaran zat radioaktif, sebagian besar uji coba dilakukan di bawah tanah. [pan]