Ilmuwan Bingung soal Kopi dan Pertumbuhan Anak

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Salah satu alasan mengapa kopi tidak diberikan kepada anak-anak, adalah karena kepercayaan yang dianut secara luas bahwa minuman berkafein dapat menghambat pertumbuhan mereka. Tetapi, sampai saat ini hal itu masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

Sebaliknya, tinggi badan seseorang sebagian besar diatur oleh faktor-faktor lain. Misalnya, ratusan gen yang diidentifikasi dianggap bertanggung jawab pada tinggi badan orang dewasa, persentasenya sebesar 16 persen.

Kesehatan umum seorang anak juga berperan. Contohnya, infeksi berulang selama masa bayi dapat memperlambat penyerapan nutrisi dan pertumbuhan tulang, melansir dari situs Science Alert, Selasa 30 Maret 2021.

Faktor lainnya adalah apakah seorang anak memiliki akses kebutuhan makanan penting, seperti susu yang selama tahun-tahun awal mempengaruhi tinggi badan, atau pola makan ibu selama kehamilan, menurut penelitian di jurnal Nutrition Research Reviews.

Kemungkinan sebagian orang yang berpendapat bahwa kopi dapat menghambat pertumbuhan anak berbasiskan pada beberapa teori. Pada 1980-an, beberapa penelitian menunjukkan bahwa peminum kopi biasa berada pada peningkatan risiko osteoporosis karena kafein dapat menyebabkan peningkatan ekskresi kalsium.

Jika kafein mampu melemahkan tulang, dapat dibayangkan bahwa konsumsi yang lebih tinggi di masa kanak-kanak akan menyebabkan perawakan yang lebih pendek.

Namun ternyata ada variabel lain yang berperan, yakni peminum kopi juga cenderung mengonsumsi lebih sedikit susu yang mana sebagai sumber utama kalsium. Dengan kata lain masalahnya bukan di kopi, melainkan karena kalsium yang tidak mencukupi.

Duane Mellor, seorang ahli diet di Universitas Aston, Inggris, mengatakan bahwa mitos tersebut berasal dari rekomendasi bahwa wanita hamil tidak boleh mengonsumsi kafein karena beberapa penelitian telah mengaitkan paparan janin terhadap kafein dengan risiko keguguran.

Namun, penelitian ini dibatasi oleh ukuran sampel yang kecil. Buktinya saat ini tidak meyakinkan, sehingga kelompok kesehatan seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan wanita hamil untuk membatasi konsumsi kafein guna mengurangi kemungkinan risiko keguguran dan berat badan lahir rendah pada bayi.