Ilmuwan Ciptakan Kecoak Cyborg untuk Misi Penyelamatan dan Pencarian

Merdeka.com - Merdeka.com - Ilmuwan kini menciptakan versi mini integrasi mesin dan organisme dalam bentuk serangga cyborg.

Serangga cyborg itu akan digunakan untuk aplikasi seperti pencarian dan penyelamatan di wilayah perkotaan dengan perangkat penangkap energi yang dipasang di tubuh.

Dikutip dari laman India Today, Selasa (6/9), mesin unik ini dapat digunakan untuk memantau lingkungan, melacak pergerakan, dan mengoordinasikan misi penyelamatan dan pencarian selama bencana alam.

Rincian mengenai hal ini diterbitkan dalam jurnal npj Flexible Electronics. Dalam jurnal itu para ilmuwan menunjukkan kelayakan serangga cyborg dengan menampilkan kontrol penggerak nirkabel pengisian ulang serangga cyborg.

"Kemajuan dalam elektronika membuat integrasi organisme organisme dan mesin kian meningkat. Miniaturisasi dan fabrikasi chip semikonduktor konsumsi daya rendah melalui mikro/fabrikasi nano menghasilkan cyborg organisme kecil," kata ilmuwan di jurnal penelitian itu.

Tim peneliti yang dipimpin ilmuwan dari Center for Emergent Matter Science, RIKEN di Jepang, mengembangkan ransel kecoak yang dihubungkan ke sistem saraf organisme tersebut dengan output daya 50 kali lebih tinggi dari perangkat sebelumnya. Kecoak siborg dibuat dengan sel surya sangat tipis, yang tidak mempengaruhi pergerakan serangga.

Ilmuwan menggunakan kombinasi elektronik film sangat tipis dan struktur perekat yang disertakan satu per satu, untuk melakukan gerakan dasar serangga.

"Integrasi elektronik tipis dan lunak ke dalam organisme dapat meningkatkan kemudahan penggunaannya dalam berbagai aplikasi. Elektronik yang dapat diregangkan memungkinkan integrasi perangkat pada permukaan melengkung tiga dimensi dengan sambungan yang dapat digerakkan," tulis makalah itu.

Para ilmuwan merancang sel-sel tersebut menjadi bertenaga surya dan dapat diisi ulang dengan memasang baterai dan modul stimulasi ke dada kecoak. Mereka kemudian memastikan modul sel surya akan menempel pada perut serangga. Ini cukup sulit dilakukan karena bisa mempengaruhi pergerakan serangga.

Untuk memastikan gerakan serangga tidak terkena, para ilmuwan menguji beberapa film elektronik tipis dan mengamati bagaimana mereka mempengaruhi pergerakan kecoak.

"Efektivitas strategi pemasangan film tipis diukur dengan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk melintasi rintangan," kata para ilmuwan.

Film elektronik itu 17 kali lebih tipis dari rambut manusia. Tim kemudian mendemonstrasikan bagaimana mereka bisa menggerakkan kecoak ke kanan dan ke kiri dan mengarahkannya ke depan menggunakan sinyal nirkabel yang melekat pada sistem sarafnya.

Reporter Magang: Gracia Irene [pan]