Ilmuwan Dibuat Bingung oleh Pornografi

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVAPornografi bukanlah hal baru, tetapi internet berkecepatan tinggi telah mengubahnya menjadi hal yang berbeda. Bahkan ada yang sampai membuat penontonnya ketagihan, dengan dalih untuk memperbaiki otak.

Para ilmuwan juga menjadi terpecah pendapatnya. Beberapa setuju bahwa pornografi dapat menyebabkan kerusakan fisik, sementara yang lain mengatakan penggunaan pornografi kompulsif adalah mekanisme untuk mengatasi depresi, kecemasan, dan masalah lainnya.

Perpecahan antara kedua kubu begitu luas, sehingga beberapa pemain mencoba untuk mendiskreditkan satu sama lain secara terbuka, menyerang kredensial atau menuduh adanya hubungan dengan industri porno. Ada juga tuduhan menguntit dan perilaku mengancam, baik online maupun di dunia nyata.

"Yang kami tahu adalah, pornografi bisa menjadi masalah yang sangat sulit bagi banyak orang. Bagaimana kami mengklasifikasikannya? Bagaimana kami memperlakukannya? Kami masih mengerjakan masalah itu," kata Shane Kraus, penulis 415 studi tentang perilaku seksual kompulsif.

Kraus khawatir ada informasi yang salah untuk mendiagnosis diri mereka sendiri. Tidak ada cukup informasi bagi semua profesional medis untuk menemukan tanda-tanda penggunaan pornografi yang berbahaya, dikutip dari laman CNet, Kamis, 22 April 2021.

Perdebatan yang berkecamuk adalah karena lebih banyak orang menjadi terganggu dengan penggunaan pornografi. Sekitar 4,4 persen pria dan 1,2 persen wanita menganggap diri mereka pecandu porno, menurut survei orang dewasa Australia, studi perwakilan pertama tentang kecanduan pornografi.

Usia 13 adalah rata-rata kebanyakan orang menonton film porno untuk pertama kalinya. Bagi kebanyakan anak laki-laki dan semakin banyak perempuan, ini adalah awal dari kebiasaan seumur hidup. Sekitar 80 persen pria dan 30 persen wanita menonton film porno setiap minggu.

Internet juga membuatnya lebih mudah diakses dari sebelumnya. PornHub mengatakan, 76 persen lalu lintasnya berasal dari ponsel dan lebih banyak orang menonton daripada sebelumnya karena COVID-19 yang membuat orang tetap di rumah.

"Otak yang terpapar pornografi setiap minggu selama bertahun-tahun menjadi terbiasa dengan stimulasi tingkat tinggi dan mulai memperbaiki dirinya sendiri, menjadi mati rasa terhadap kesenangan sehari-hari tetapi sangat mudah menerima pornografi," ujar Gary Wilson

Sebuah survei Juli 2020 terhadap 5.800 pria menemukan, 23 persen responden di bawah 35 tahun melaporkan disfungsi ereksi. Situs tersebut memperkuat salah satu klaim utama Wilson bahwa penggunaan pornografi yang meluas telah menyebabkan tingkat disfungsi ereksi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pria muda.

Peneliti Gunter De Win tidak sepenuhnya yakin bahwa pornografi adalah masalah utamanya. Mereka yang paling mungkin melaporkan disfungsi ereksi dalam survei adalah pecandu yang menggambarkan dirinya sendiri, tetapi kerap menonton film porno lebih sedikit daripada yang lain.

"Benar-benar salah untuk mengatakan bahwa yang menyebabkannya adalah pornografi. Tetapi benar untuk mengatakan bahwa ada pengaruh tertentu dari pornografi. Tapi apa penyebabnya dan apa akibatnya, saya pikir itu sangat sulit untuk dipertimbangkan saat ini," katanya.