Ilmuwan Hidupkan Lagi Organ Babi yang Sudah Mati

Merdeka.com - Merdeka.com - Para ilmuwan menyampaikan pada Rabu, mereka mengembalikan aliran darah dan fungsi sel dari babi yang telah meninggal selama satu jam. Para ahli mengatakan terobosan ini bisa diartikan bahwa kita perlu memperbarui definisi tentang kematian.

Temuan ini juga memberikan harapan untuk penggunaan organ babi pada manusia, yang bisa menyelamatkan nyawa ribuan orang di dunia yang memerlukan cangkok atau transplantasi organ tubuh.

Kendati demikian, ini juga bisa memicu perdebatan terkait etika prosedur, khususnya setelah beberapa babi yang seolah-olah mati menggerakkan kepalanya tiba-tiba selama percobaan, yang mengejutkan para ilmuwan.

Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature ini, tim ilmuwan berusaha memperluas teknik tersebut untuk seluruh badan babi.

Babi yang dibius dibuat mengalami serangan jantung sehingga aliran darah ke selutuh tubuhnya terhenti. Tindakan ini menghilangkan oksigen dari sel-sel tubuh dan tanpa oksigen mamalia itu akan mati. Babi-babi dalam percobaan itu mati selama satu jam.

Lalu para ilmuwan memompa tubuh babi dengan cairan yang mengandung darah babi, juga sel darah merah (hemoglobin) sintetis atau protein yang berfungsi mengalirkan oksigen ke dalam sel darah merah. Babi juga diberikan obat yang melindungi selnya dan mencegah pembekuan darah.

Darah kembali mengalir dan banyak sel mulai berfungsi kembali termasuk organ vital seperti jantung, hati, dan ginjal, selama enam jam dari uji coba.

"Sel-sel ini berfungsi beberapa jam setelah mereka tidak berfungsi, ini menyampaikan kepada kita bahwa kematian sel bisa dihentikan," jelas peneliti dan penulis riset dari Universitas Yale, Nenad Sestan, dikutip dari South China Morning Post, Kamis (4/8).

Peneliti lainnya dari Yale, David Andrijevic mengatakan tim berharap teknik yang disebut OrganEx itu bisa digunakan untuk menyelamatkan organ.

Selama eksperimen berlangsung, hampir semua organ babi melakukan pergerakan dengan kepala dan leher mereka, menurut tim peneliti Stephen Latham dari Yale.

"Cukup mengejutkan orang-orang di ruangan itu," ujarnya kepada jurnalis.

Latham mengatakan, walaupun tidak diketahui penyebab pergerakan tersebut, tidak ada aktivitas listrik yang terekam dalam otak babi, yang menunjukkan bahwa mereka tidak pernah sadar kembali setelah mati.

Walaupun ada "ledakan kecil" pada mesin EEG yang mengukur aktivitas otak pada saat gerakan, menurut Latham itu mungkin disebabkan oleh pergeseran kepala yang mempengaruhi perekaman.

Teknik ini juga berpotensi bisa digunakan untuk menghidupkan manusia.

Sam Parnia dari Fakultas Kedokteran Grossman New York University mengatakan penelitian ini sangat luar biasa dan penting. Menurutnya, ini menunjukkan kematian bukan hitam dan putih tapi lebih ke "proses biologis yang masih bisa ditangani dan dibatalkan selama beberapa jam setelah terjadi." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel